Jarot Berikan Materi Dan Buka Seminar Nasional Kehutanan


Sintang,Detiksatu.com
 Bupati Sintang dr. H. Jarot Winarno, M. Med. PH memberikan materi dan sekaligus membuka acara Seminar Nasional Kehutanan tahun 2020 di Kabupaten Sintang yang mengusung tema "pengelolaan hutan lestari berbasis Industrialisasi 4.0", yang di laksanakan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Kapuas Sintang, di Aula Pendopo Bupati Sintang, Rabu (12/2/2020) pagi.
Dalam sambutannya Bupati Sintang Jarot Winarno menyampaikan bahwa menurut SK Menhut 733, Kabupaten Sintang yang luasnya 2,1 juta hektar ini, kawasan hutannya adalah 1,2 juta hektar, terakhir di hitung oleh WWF, di mana di hitung dari nilai koservasi tinggi (NKT) 1 sampai NKT 6 dimana final dari hitungan dari WWF tersebut yang juga sedang Pemkab pelajari bahwa dari 1,2 hektar kawasan hutan ini sekarang ini tersisa 970an ribu hektar.
“adanya ilegal logging, belum adanya konformitas antara adat lokal dengan konsep kita soal hutan, dengan adanya 41 desa yang masih di dalam kawasan hutan, Alhamdulillah itu kita masih bisa mempertahankan 900 lebih kawasan hutan forest cover yang masih berhutan, ini terbagi dua, 870an itu di dalam kawasan hutan kemudian sisanya kurang lebih 61 ribu di luar kawasan hutan tetapi masih berhutan”terang Jarot.
Lanjut Jarot, bahwa kemudian di bagi mana NKT kelola dan mana NKT non kelola yakni taman nasional, hutan lindung dan sebagainya yang area konervasi tinggi tapi tidak bisa di kelola. “kira-kira potret hutan di sintang akan seperti itu, jadi ini masih mengembirakan buat kita”ujar Jarot.
Kemudian kata Jarot yang paling mengembirakan adalah melalui Kalfor Project teman-teman yang ingin menjaga kawasan hutan di luar kawasan hutan jadi hutan di APL di bantu untuk pemberdayaannya dan sebagainya.  “kemarin di ensaid panjang dimana di situ ada tiga cluster atau kelompok hutan di luar kawasan hutan yang sudah di jaga oleh masyarakat sudah kita SK kan sebagai akwasan ekobudaya, tetapi masyarakat masih meminta dua lagi kawasan hutan, ini kan luar biasa”ungkap Jarot.
Tambah Jarot, seperti halnya juga di Desa Sepulut meminta ada 14 hektar hutan di APL supaya tetap jadi hutan, langsung kita SK kan jadi hutan desa dan juga di Desa Merpak tawang selubang itu 14 hektar juga sudah di SK kan sebagai hutah desa. Kemudian teman-teman dari aliansi masyarakat adat menyampaikan ada 5 untuk menjadi kawasan hutan adat yang sedang kita proses. “semua itu upaya di tingkat tapak untuk menjaga sisa hutan di luar kawasan hutan semuanya kita suport sepenuhnya”kata Jarot.
Kemudian dalam kontek menjaga hutan seperti tema yang diangkat dalam seminar ini yakni pengelolaan hutan lestari berbasis Industrialisasi 4.0, bahwa efisien dan produktif saja tidak akan bisa memenangkan kompetisi. Dengan distruksi teknologi kita mendekat kepada revolusi industri 4.0 selain efisien dan produktif di tambah tiga hal lagi untuk bisa memenangkan kompetisi yaitu inovasi, kreatifitas dan jiwa entrepreneurship. “gak bakalan mampu kita menjaga hutan kalau kita tidak bisa memberikan solusi kepada masyarakat tentang non timber produk”tutup Jarot.(Red)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *