MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MELALU PENERAPAN METODE KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH DI KELAS VIII A SMP NEGERI 1 JANGKANG


Foto: Ari Purwanti
SMP Negeri 1 Jangkang, Kabupaten Sanggau

ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perolehan nilai rata-tara siswa pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017, belum memuaskan karena rata-rata nilai siswa di bawah KKM, yakni 70. Siswa dianggap berhasil dalam belajar secara klasikal jika telah mencapai 85%, dan mendapatkan nilai di atas KKM atau sama dengan KKM. Masalah utama dalam penelitian ini yaitu, “ Bagaimanakah Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Dengan Menggunakan Metode Kooperatif Tipe Make A Macth di Kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang. Tujuan penelitian ini  adalah untuk mengetahui peningkatan  hasil belajar siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Dengan Menggunakan Metode Kooperatif Tipe Make A Macth di Kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan . Sedangkan bentuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas diartikan sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara profesional. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Jangkang, penelitian semester ganjil bulan  November  tahun  2016. Sedangkan Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A dengan jumlah 26 siswa yang terdiri dari : laki-laki 13 siswa  dan perempuan 13 siswa. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari naiknya rata-rata kelas dari pra siklus sebesar 61,69% kemudian siklus I sebesar 72,12% dan pada siklus II terdapat peningkatan sebesar 77,4% dengan jumlah siswa mencapai KKM ≥ 70 , pada pra siklus sebanyak 8 orang siswa, siklus I sebanyak 18 orang siswa dan siklus II sebanyak 27 orang siswa . Persentase ketuntasan pada pra siklus 35%, siklus I 73% dan sikus II 92%, terjadi peningkatan persentase ketuntasan siswa dari pra tindakan ke siklus I yakni 38 % dan terjadi peningkatan persentase ketuntasan dari siklus I ke siklus II yakni 19%.
           
Kata Kunci: peningkatan hasil belajar, Metode Kooperatif, Tipe Make A Match

PENDAHULUAN
            Pendidikan adalah usaha sadar dalam rangka menyiapkan siswa melalui bimbingan pengajaran, dan latihan agar siswa dapat memainkan peranannya dimasa yang akan datang. Pendidikan adalah kebutuhan batiniah yang memegang peranan penting dalam usaha mengembangkan kualitas manusia, seperti yang dinyatakan dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sitem Pendidikan Nasional yaitu : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk  watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnyapotensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Pada saat ini pendidikan menjadi salah satu kebutuhan bahkan suatu keharusan dalam kehidupannya. Peningkatan kualitas pembelajaran merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam suatu proses belajar mengajar untuk meningkatkan mutu pendidikan.
            Guru perlu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, guru harus selalu kreatif dan inovatif dalam melakukan pembelajaran agar siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan, dan antusias dalam mengikuti proses belajar mengajar, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan berkualitas dan berprestasi yang dicapai siswa memuaskan. Salah satu upaya untuk meningkatkan keberhasilan belajar siswa, yaitu dengan menggunakan pembelajaran aktif, di mana siswa dapat mengeluarkan gagasannya, memecahkan masalah dan dapat menerapkan apa yang mereka pelajari.  Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan, mendukung dan menarik hati dalam belajar untuk mempelajari sesuatu dengan baik.
            Berdasarkan pada perolehan nilai siswa pada semester genap tahun pelajaran 2016-2017  kemarin belumlah memuaskan karena rata-rata nilai siswa masih di bawah KKM, belum mencapai KKM yakni 70,siswa dianggap berhasil dalam belajar secara klasikal apabila telah mencapai 85%, dan telah mendapatkan nilai di atas KKM, hal ini di sebabkan karena pada semester  sebelumnya yakni kelas VII, guru masih menggunakan metode pembelajaran yang masih bersifat konvensional yaitu metode bercerita atau ceramah, yang mengharapkan siswa duduk,diam, dengar, catat dan hafal, metode ini selalu digunakan dan menjadi pilihan dalam penyampaian materi, dengan metode ini mengakibatkan menurunnya motivasi siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik dan berdampak pada hasil belajar siswa yang kurang memuaskan. Motivasi sangat penting dalam pembelajaran IPS Terpadu, sehingga pada saat pembelajaran berlangsung siswa bisa aktif.
            Pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita atau ceramah yang biasa di terapkan dalam pembelajaran IPS Terpadu, menyebabkan siswa lebih cenderung bosan, siswa kurang aktif dalam bertanya, menjawab pertanyaan yang di tanyakan oleh guru secara lisan, kebanyakan siswa berpendapat bahwa pelajaran IPS sangat membosankan, monoton, hal ini dapat dilihat masih kurangnya penguasaan materi pelajaran IPS oleh siswa. Guru kadang merasa kebingungan apakah siswa mengerti dan menerima materi pelajaran yang di sampaikan oleh guru atau malah siswa tidak menerima atau tidak mengerti tentang materi yang di sampaikan, karena pada saat guru mengulang materi dan menanyakan tentang materi yang sudah di sampaikan siswa hanya duduk terdiam, dan pura-pura berpikir padahal tidak tahu apa yang dipikirkan,siswa bersikap acuh tak acuh dan kurang antusias untuk mengikuti proses belajar mengajar, terkadang mereka malah berbicara dengan temannya yang lain ketika guru sedang menjelaskan, sehingga situasi kelas sedikit gaduh.
            Setelah didiskusikan dengan rekan guru IPS Terpadu di SMP Negeri 1 Jangkang, maka rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII A disebabkan oleh dua faktor yakni : dari pihak guru seperti, guru masih berperan dominan dalam PBM karena masih menggunakan metode ceramah, guru belum melibatkan siswa dalam pembelajaran, guru tidak menggunakan teknik lain yang digunakan dalam PBM, siswa tidak pernah diberi tugas, dari pihak siswa disebabkan oleh : minat belajar siswa masih rendah, kurangnya perhatian siswa terhadap materi pelajaran, malas mengerjakan tugas.
            Untuk meningkatkan hasil belajar, penulis sekaligus guru mata pelajaran IPS Terpadu menganggap perlu perubahan dalam teknik/metode dalam pembelajaran IPS bisa digunakan secara bervareasi, salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode cooperative learning , dalam metode kooperatif ini penulis memilih tipe Make A Match, diharapkan dengan penggunaan tipe Make A Match  ini bisa membuat siswa lebih tertarik dan tidak jenuh karena dalam proses pembelajaran ini yang sangat menarik, di harapkan dengan menggunakan teknik ini proses belajar mengajar akan lebih hidup, mengasyikkan, siswa bisa lebih aktif baik bertanya ataupun dalam menjawab pertanyaan, dan yang lebih di harapkan lagi meningkatnya hasil belajar siswa menjadi lebih baik jika dibandingkan dengan semester sebelumnya.
            Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, penulis menetapkan masalah utama dalam penelitian ini yaitu, “ Bagaimanakah Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Dengan Menerapkan metode Kooperatif tipe Make A Macth di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang” Untuk menfokuskan masalah dalam penelitian ini maka dibuatlah sub-sub masalah, adalah sebagai berikut :1) Bagaimanakah penerapan  metode kooperatif tipe Make A Match dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang? 2) Bagaimanakah peningkatan  hasil belajar siswa melalui penerapan metode kooperatif tipe Make A Match pada mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A  SMP Negeri 1 Jangkang?
            Berdasarkan rumusan masalah dan sub-sub masalah yang telah dikemukaan, maka tujuan penelitian ini  adalah untuk mengetahui peningkatan  hasil belajar  dengan menggunakan metode kooperatife tipe Make A Match dalam pembelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A di SMP Negeri 1 Jangkang. Secara khusus penelitian bertujuan, yaitu : 1)  Untuk mengetahui penerapan metode kooperatif tipe Make A Match dalam upaya meningkatkan  hasil belajar siswa di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang dalam mata pelajaran IPS Terpadu. 2) Untuk mengetahui peningkatan  hasil belajar siswa melalui penggunaan metode kooperatife tipe Make A Match di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang.
            Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian tindakan kelas melalui penggunaan metode kooperatif tipe make a match untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A di SMP Negeri 1 Jangkang, adalah : 1) Manfaat Teoritis.Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan, dan dapat dijadikan alternatif strategi pembelajaran dalam pelajaran IPS Terpadu. 2)  Manfaat Praktis. a) Bagi siswa, diharapkan siswa dapat menambah wawasan dan menambah ilmu pengetahuan yang luas khususnya di dalam mata pelajaran IPS Terpadu. b)  Bagi guru, diharapkan penelitian ini dapat menjadi motivasi bagi guru mata pelajaran IPS Terpadu dan alternative dalam pembelajaran IPS terpadu untuk meningkatkan hasil belajar siswa. c) Bagi Sekolah, diharapkan penelitian ini bisa untuk pertimbangan dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan dapat memotivasi guru bidang studi yang lain untuk menggunakan metode kooperatif.
KAJIAN PUSTAKA
1.   Hasil Belajar
          Belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahankah tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interksi dengan lingkungannya (Slameto dalam Kodir, 2011 : 20), sedang Prayitno (2009 : 203) menyatakan bahwa  belajar merupaka proses perubahan tingkah laku individu yang diperoleh melalui pengalaman, melalui proses stimulus respon, melalui pembiasaan,melalui peniruan, melalui pemahaman dan penghayatan, melalui aktivitas individu untuk meraih sesuatu yang dikehendakinya. Menurut Wardhana, Y (2010 : 3), belajar di anggap sebagai perubahan perilaku yang merupakan akibat dari pengalaman dan latihan. Belajar merupakan proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan, belajar bukan sekedar mengumpulkan pengetahuan, tetapi merupakan proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan perubahan perilaku.
            Usman dan Setiawati (2001 : 5) menyatakan belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya, seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sikap, misalnya dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang ragu menjadi yakin. Kriteria keberhasilan dalam belajar diantaranya ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar. Belajar merupakan kebutuhan hidup manusia yang self generating yaitu mengupayakan dirinya sendiri agar dapat menuju tujuan tertentu dengan peningkatan diri. Belajar dilakukan manusia baik secara sadar maupun tidak sadar. Ada dua macam dorongan yang membuat manusia terus belajar sepanjang hidupnya, yaitu : agar mampu mencapai kemandirian dan mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Belajar bukan hanya untuk pembentukan pola pikir te tapi lebih bersifat menyeluruh yang menjadikan seseorang menjadi manusia seutuhnya.
            Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru harus memperhatikan kondisi internal dan eksternal siswa. Kondisi internal adalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa, seperti kesehatan, keterampilan, kemampuan dan sebagainya. Kondisi eksternal adalah kondisi yang ada diluar pribadi siswa,  misalnya ruang belajar yang bersih, sarana dan prasarana belajar yang memadai dan sebagainya. Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Sedangkan belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada individu yang belajar. Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang menjadi hasil belajar. Hasil belajar sering kali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai suatu bahan yang sudah diajarkan. Purwanto (Erthy, 2014 : 26) mengatakan, untuk mengaktualisasikan hasil belajar tersebut diperlukan sebagai serangkaian pengukuran menggunakan alat evaluasi yang baik dan memenuhi syarat.
            Menurut Winarno Surakhmad (1980 : 25) hasil belajar diartikan sebagi ulangan, ujian atau tes, maksud ulangan tersebut ialah untuk memperoleh suatu indek dalam menentukan keberhasilan siswa, atau suatu prestasi belajar siswa yang dicapai siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah laku seseorang. Menurut Udin Syaefudin Sa ud,M.Ed. (2009 : 118) bahwa hasil suatu pembelajaran di samakan dengan tujuan yang ingin dicapai dari suatu perbuatan. Keberhasilan suatu proses pengajaran biasanya diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru.
            Selanjutnya Suprijono (2009 : 5) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk Gagne (Suprijono, 2009 : 5) hasil belajar berupa : (1). Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan  manipulasi symbol, pemecahan masalah maupun penerapan atura,(2) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Kemampuan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas, (3) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah,(4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani, (5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.
            Hasil belajar merupakan salah satu bentuk penilaian dalam pelaksanaan kurikulum ada dua hal yang sangat penting untuk dijadikan sasaran evaluasi dalam pelaksanaan kurikulum, yaitu hasil belajar siswa tiap semester dan daya capai kurikulum pada tiap sekolah. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki sisa setelah menerima pengalaman belajar (Sudjana, 2010 : 22). Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009 : 3) hasil belajar merupakan tujuan akhir dilaksanakannya kegatan pembelajaran di sekolah. Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha sadar yang dilakukan secara sistematis mengarah kepada perubahan yang positif yang kemudian disebut proses belajar. Akhir dari proses belajar adalah perolehan suatu hasil belajar kelas. Semua hasil belajar tersebut merupakan  hasil dari suatu interaksi tindk belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.
            Gagne dalam Sudjana (2010 : 22) mengembangkan hasil belajar  menjadi lima macam antara lain : (1) hasil belajar intelektual merupakan hasil belajar terpenting dari sitem lingsikolastik, (2) strategi kognitif yaitu cara mengatur belajar dan berfikir seseorang dalam arti seluas-luasnya termasuk kemampuan memecahkan masalah, (3) sikap dan nilai, berhubungan dengan arah intensitas emosional yang dimiliki seseorang sebagaimana disimpulkan dari kecenderungan bertingkah laku terhadap orang dan kejadian, (4) informasi verbal, pengertian dalam arti informasi dan fakta, dan (5) keterampilan motorik yaitu kecakapan yang berfungsi untuk lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang.
            Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah suatu pengajaran yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu hasilnya dilihat dari prestasi atau perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri siswa. Menurut Purwanto  (1990 : 103 ) dalam bukunya psikologi pendidikan hasil belajar akan dipengaruhi oleh beberapa faktor , yaitu  (a) faktor intern meliputi : (1) kematangan, (2) kecerdasan dan intelegensi, (3) lstihsn atau ulangan, (4) motivasi, (5) sifat pribadi, (b) faktor ekteren meliputi : (1) tingkat sosial ekonomi orang tua, (2) lingkungan, (3) fasilitas belajar, (4) faktor guru dan cara mengajar. Dari pendapat beberapa ahli yang telah mengemukakan pendapatnya tentang hasil belajar, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan suatu hasil yang didapat siswa dalam periode tertentu melalui suatu proses belajar mengajar dengan adanya suatu perubahan tingkah laku yang lebih baik, dan dinyatakan dengan suatu angka-angka.
2.  Metode Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) 
Anita Lie (1992 : 12) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan  kepada siswa untuk bekerjasama dengan sesama siswa lainnya dalam menyelsaikan tugas-tugas terstruktur. Depdiknas (2003 : 5) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif adalah merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil sisa yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan.  Menurut Usman (2002 :30) pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, selain itu juga efektif untuk mengembangkan ketrampilan social siswa.
Menurut Nurhadi ( 2003 : 60 ) yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif adalah suatu system yang didasarkan pada alas an bahwa manusia sebagai makhluk individu yang berbeda satu sama lain sehingga konsekwensi logisnya manusia harus menjadi makhluk yang berinteraksi dengan sesama, sedangkan  Suprijono, Agus (2010 : 54), yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Berdasarkan beberapa pengertian mengenai pembelajaran yang telah dikemukakan oleh beberapa tokoh, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif adalah, merupakan pembelajaran dengan pengelompokan siswa, yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi untuk mencapai tujuan dan pengalaman yang optimal baik individu maupun kelompok.
Anita Lie (2004 : 31) menyatakan bahwa ada lima unsure dalam model pembelajaran kooperatif yaitu : 1) Saling keterganungan posistif artinya dalam pembelajaran kooperatif guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling ketergantungan positifmenuntut adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesame siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal. 2) Tanggungjaab positif, artinya unsurini merupakan akibat langsung dari unsur pertama, setiap siswa akan merasa bertanggungjawab untuk melakukan yang terbaik. 3)Tatap muka, artinya setiap kelompok harus diberikan kesempatan bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan peran pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua siswa. 4) Komunikasi antar anggota, arinya unsure ini menghendaki agar pembelajaran dibekali dengan berbagai ketrampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi, keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. 5) Evaluasi proses kelompok, artinya pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan efektif. Jadi dalam pembelajaran kooperatif terdapat lima unsure yang harus terpenuhi agar mencapai hasil yang maksimal.
Muslimin Ibrahim, dkk (2000 : 7) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yaitu : 1) Hasil belaajaar akademik, pembelajaran kooperatif bertujuan meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. 2) Penerimaan terhadap perbedaan individu. Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang  dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama. 3) Pengembangan ketrampilan social, tujuan penting ketiga dari dari pembelajaran kooperatif ialah mengajarkan kepada siswa ketrampilan kerjasam dan kolaborasi. Ketrampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat dimana banyak kerja orang dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung satu sama lain dan dimana masyarakat secara budaya semakin beragam.
Anita Lie ( 2004 : 17 ) menyebutkan ada beberapa kebaikan proses pembelaajaran kooperatif adalah sebagai berikut : 1). Sisswa dapat meningkatkan kemampuannya untuk bekerjasam dengan siswa yang lain. 2) Siswa mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menghargai perbedaan. 3). Partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dapat meningkat.4) mengurangi kecemasan siswa (kurang percaya diri). 5). Meningkatkan motivasi, harga diri, dan sikap positif. 6). Meningkatkan prestasi belajar siswa. Anita Lie  (2000 : 46) mengemukakan kelemahan dari pembelajaran kooperatif adalah :  1) Model ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda. 2) Kerja kelompok sering hanya melibatkan siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang. 3). Model ini akan gagal apabila siswanya pasif, tidak komunikatif dan sifat egois siswa yang tinggi.
3.  Tipe Make a Match
Menurut Rusman (2011 : 223) Model Make A Match (membuat pasangan) merupakan salah satu jenis dari metode pembelajaran  kooperatif, metode ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994), salah satu keunggulan teknik ini adalah peserta didik mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topic, dalam suasana yang menyenangkan. Sedangkan menurut Anita Lie (2008 : 56) menyatakan bahwa model pembelajaran tipe Make A Match atau bertukar pasangan merupakan teknik belajar yang memberikan kesempatan siswa untuk bekerjasama dengan orang lain.
Dari pendapat beberapa tokoh tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model Make A Match merupakan model pembelajaran kooperatif dengan mencari pasangan, yang dapat melatih siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran secara merata serta menuntut siswa bekerja sama dengan anggota kelompoknyaagar bertanggungjawab dapat tercapai sehingga semua siswa aktif dalam proses pembelajaran. Adapun langkah-langkah dalam tipe Make A Match adalah: 1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topic yang cocok untuk sesi review, satu bagian berupa kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. 2) Setiap siswa mendapat satu buah kartu. 3) Setiap siswa memikirkan jawabannya atau soal dari kartu yang dipegangnya. 4) Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. 5) Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu bisa diberi poin. 6) Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari peserta didik yang lain.
Menurut Miftahul Huda (2013 : 253), kelebihan dan kelemahan tipe Make A Match adalah : a) Kelebihan meliputi: 1) Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa baik secara kognitf maupun fisik. 2) Karena ada unsur permainan, metode ini menyenangkan. 3) Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 4) Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi. 5) Efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar. b) Kelemahan meliputi: 1) Jika strategi ini tidak dipersiapkan dengan baik, akan banyak waktu yang terbuang. 2) Pada awal-awal penerapan metode ini banyak siswa yang akan malu berpasangan dengan lawan jenis. 3) Jika guru tidak mengarahkan siswa dengan baik akan banyak siswa yang memperhatikan pada saat presentasi pasangan. 4) Guru harus hati-hati dan bijaksana saat member hukuman pada siswa yang tidak mendapat pasangan karena mereka bisa malu. 5) Menggunakan metode ini secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan.
Setiap Model pembelajaran mengarah diterapkan untuk mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai, pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) merupakan pembelajaran yang teknik mengajarnya dengan mencari pasangan melalui kartu pertanyaan dan kartu jawaban yang harus ditemukan dan didiskusikan oleh pasangan siswa tersebut, model pembelajaran ini merupakan salah satu alternative yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Model Make A Match ini sangat efektif untuk membantu siswa dalam memahami materi melalui permainan mencari kartu jawaban dan pertanyaan, sehingga dapat menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan..
            Dalam kegiatan proses belajar mengajar tentu saja akan mempunyai suatu tujuan, yang mana tujuan itu tidak hanya bagi siswa saja tetapi tujuan tersebut tentu diharapkan pula oleh orang tua, guru maupun pihak sekolah. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan itu dibutuhkan suatu proses kegiatan belajar mengajar yang kondusif, menyenangkan, melibatkan banyak pihak dalam hal ini guru dan siswa. Proses pembelajaran yang masih menggunakan system konvesional, yakni ceramah atau bercerita sangat membosankan, monoton, siswa tidak aktif, dan cenderung diam (pasif). Metode ceramah ini masih sering digunakan oleh para guru untuk menyampaikan materi pembelajaran.
            Pada semester sebelumnya, proses belajar mengajar masih didominasi oleh guru atau guru sebagai pusat pembelajaran sehingga siswa sering mengalami kebosanan dan kurang memahami dengan materi yang disampaikan oleh guru, siswa kurang aktif, siswa hanya menunggu informasi yang disampaikan oleh guru, sehingga siswa kurang bersemangat dan kurang antusias diberikan tugas, sehingga perlu adanya suatu cara untuk bisa mengubah keadaan tersebut.
            Hasil belajar siswa pada semester genap tahun 2015-2016 yang dilihat dari nilai raport masih kurang memuaskan berada di bawah KKM terutama kelas VIII A sehingga peneliti yang juga guru ingin mengubah cara /pola mengajar pelajaran IPS Terpadu terutama di kelas VIII A. Model pembelajatan yang ingin diterapkan di kelas VIII A yaitu dengan menerapkan mmodel pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) teknik ini  akan benyak melibatkan siswa dalam pembelajaran, siswa diminta untuk mencari pasangannya yang cocok sesuai dengan kartu yang dipegang, antara soal pertanyaan dan jawaban. Jadi pada teknik ini siswa akan lebih aktif untuk mencari pasangannya, suasana belajar juga menyenangkan tidak membosankan, guru sudah tidak dominan, anak tidak hanya menerima transfer ilmu dari guru, tetapi siswa lah yang mencari ilmu tersebut. Diharapkan agar dengan penerapan tipe Make A Match (mencari pasangan) dalam pembelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A, akan bisa meningkatkan hasil belajar pada semester ganjil tahun ajaran 2016-2017.
            Berdasarkan pada kajian teori dan kerangka berpikir, maka penulis yang sekaligus sebagai guru mata pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 1 Jangkang yang semula dalam pelaksaan pembelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A, masih menggunakan cara/system konvensional/ tradisional dalam hal ini masih menggunakan cara ceramah dan bercerita, sehingga anak tidak /belum bisa menerima pelajaran dengan baik sehingga nilai akhir pada semester ganjil belum memuaskan karena masih dibawah KKM.          Oleh karena itu, pada semester genap guru  berupaya untuk mengubah cara/system yang diterapkannya dengan mengunakan model pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) dan diharapkan agar setelah penerapan model Make A Match (mencari pasangan) ini hasil akhir pada semester ganjil tahun ajaran 2017-2018 akan meningkat, dan akan mendapatkan hasil yang memuaskan yakni di atas KKM.

METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian merupakan panduan yang digunakan untuk mengontrol jalannya  penelitian. Menurut Sugiyono (2012 :2) Metode Penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan . Metode ini merupakan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek/objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya (Hadari Nawawi, 2005 : 63). Metode ini digunakan untuk mengungkapkan keadaan yang sebenarnya tentang upaya meningkatkan hasil belajar menggunakan metode pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) di kelas VII A SMP Negeri 1 Jangkang.
             Bentuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas diambil dari istialah bahasa Inggris Classroom Action Research  Suharsimi (dalam Indrawati 2008:5) menyatakan bahwa penelitian merujuk pada suatu kegiatan dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
Hopkin (dalam Indrawati 2008:6) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah tindakan yang diambil guru untuk meningkatkan dirinya atau teman sejawatnya untuk menguji asumsi-asumsi teori pendidikan didalam praktik, atau mempunyai makna aebagai evaluasi dan implementasi keseluruhan prioritas sekolah. Berdasarkan beberapa pendapat yang mengemukakan tentang Penelitian Tindakan Kelas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti atau guru untuk melakukan suatu perubahan dalam suatu metode atau cara dalam kegiatan proses belajar mengajar.
Penelitian ini dilakukan bersama-sama atau berkolaborasi antara guru mata pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 1 Jangkang dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas ( Classroom Action Research) dengan dua siklus, dan tiap-tiap siklus akan dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Pada setiap siklus dilakukan dalam 4 tahap kegiatan, yaitu perencanaan, implementasi tindakan, tahap observasi dan refleksi. Penulis memilih bentuk penelitian kolaboratif dengan guru IPS Terpadu lainnya yang juga mengajar di SMP Negeri 1 Jangkang, karena peneliti ingin mengetahui proses belajar mengajar. Penelitian ini akan dilakukan di SMP Negeri 1 Jangkang, penelitian ini di laksanakan pada semester ganjil dari bulan November sampai Desember  tahun  2017. Sedangkan subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A dengan jumlah 26 siswa yang terdiri dari : laki-laki 13 siswa  dan perempuan 13 siswa.
            Penelitian ini dilakukan bersama-sama atau berkolaborasi antara guru mata pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 1 Jangkang dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan dua siklus, dan tiap-tiap siklus akan dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Pada setiap siklus dilakukan dalam 4 tahap kegiatan, yaitu perencanaan, implementasi tindakan , tahap observasi dan refleksi.1) Perencanaan, pada tahap perencanaan ini, sebagai guru, penulis melakukan refleksi awal dalam pembelajaran IPS Terpadu. Penulis merumuskan alternatif tindakan yang dilaksanakan dalam  pembelajaran IPS Terpadu sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A. 2)  Implementasi Tindakan, tindakan ini diartikan sebagai melaksanakan kegiatan yang sudah diskenariokan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). 3) Tahap Observasi, tahap observasi atau pengamatan merupakan rangkaian dari tahap tindakan. Kedua tahap ini berlangsung sejalan dan pada saat yang bersamaan, observasi terhadap siswa dilakukan oleh guru penulis, sementara observasi terhadap penulis dan siswa dilakukan oleh mitra guru sebagai observatory. Hal-hal yang diobservasi berupa proses atau penerapan skenario, respon siswa dan hasil pembelajaran. 4) Tahap Refleksi, tahap ini dilakukan oleh  guru penulis dan mitra guru setelah proses belajar mengajar berakhir. Peneliti bersama mitra guru menganalisis hasil obsevasi baikterhadap pelaksanaan skenario oleh penulis maupun aktivitas dan hasil siswa. Hasil analisis dijadikan acuan untuk membuat perencanaan pada siklus kedua. Dalam hal ini dapat. Dalam hal ini dapat diidentifikasi bahwa dalam kegiatan refleksi mencakup kegiatan analisis, interprestasi dan evaluasi atas informasi yang diperoleh dari kegiatan observasi.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu : a) data hasil observasi proses pembelajaran. b) data hasil belajar siswa pada tes awal dan tes akhir. Sedangkan instrumen penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah : a) Lembar observasi siswa dan lembar obsevasi guru, dan b) Soal tes tertulis. Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis data dengan membandingkan antara keberhasilan belajar siswa pada pra siklus, siklus I dan siklus II, sesuai dengan standart KKM, untuk memperjelas analisis data akan ditampilkan dalam bentuk tabel atau grafik. Untuk mengukur keberhasilan  pelaksanaan tindakan kelas menggunakan 2 siklus, yakni siklus I dan siklus II, indicator tersebut bila dipaparkan , antara lain : 1) Kesesuaian strategi pembelajaran minimal 70% dengan penyajian yang dilakukan selama proses pembelajaran. 2) Terjadinya perubahan dalam kegiatan pembelajaran minimal 70% yang terlihat dari sikap siswa, misalnya antusias dalam belajar, aktif dan paham terhadap materi yang sedang dipelajari. 3) Siswa memperoleh nilai rata-rata sebesar 75 di atas KKM dan tingkat daya serap siswa mencapai 75%

HASIL PENELITIAN
Bentuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Reseach). Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang berkolaboratif dengan teman sejawat, yakni guru IPS Terpadu lainnya yang juga mengajar di SMP Negeri 1 Jangkang, sebagai observer. Untuk masing-masing siklus akan dilaksanakan dalam tahapan-tahapan pelaksanaan penelitian yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus I akan dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan dengan alokasi waktu 2x40 menit. Dalam penelitian ini penulis berkolaborasi dalam penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dengan teman sejawat sebagai observer, menyusun skenario langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan)pada pokok bahasan Kebutuhan Manusia dan Pelaku-Pelaku Ekonomi di Indonesia.
A.  Deskripsi Pra Tindakan
              Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SMP Negeri 1 Jangkang yang beralamatkan di Jalan Raya Bengkawan, kecamatan Jangkang, kabupaten Sanggau, propinsi Kalimantan Barat, letak dari SMP Negeri 1 Jangkang ini cukup strategis karena berada di tepi jalan dan mudah dijangkau oleh siswa. Siswa yang masuk di SMP Negeri 1 Jangkang berasal dari kampong-kampung sekitar wilayah kecamatan Jangkang, ada juga yang berasal dari luar kecamatan Jangkang bahkan ada yang dari luar kabupaten Sanggau. Orang tua siswa sebagian besar bekerja sebagi petani ladang berpindah dan juga berkebun karet, ada yang PNS dan berwiraswasta, sehingga mempengaruhi kondisi ekonomi keluarga siswa.
               SMP Negeri 1 Jangkang terdiri dari 9 lokal, kelas VII ada 3 lokal yakni A,B dan C, kelas VIII ada 3 lokal yakni A,B dan C serta kelas IX juga ada 3 lokal yakni A,B dan C, selain itu juga ruang Kepala Sekolah, ruang TU, ruang Guru, ruang perpustakaan, ruang UKS, laboratorium IPA, laboratorium computer, aula, gudang, dapur dan WC. Fasilitas lain yang di miliki SMP negeri 1 Jangkang yang menyangkut proses belajar mengajar seperti gambar-gambar pahlawan, peta, globe, atlas, alat peraga IPA, alat peraga Matematika, serta alat peraga olahraga. SMP Negeri 1 Jangkang memiliki 9 guru PNS termasuk Kepala Sekolah yang sekaligus mengajar Matematika, guru Bahasa Indonesia, guru IPS, guru agama Katolik, guru Bahasa Inggris, guru BK dan guru Olahraga, 4 orang guru honorer, 1 orang guru SM3T yang berasal dari Medan, Sumatera Utara, dan sebagian besar guru yang ada sudah menempuh pendidikan S1, guru-guru tersebut ada yang berasal dari kecamatan Jangkang, ada yang dari luar Jangkang maksudnya dari kecamatan lain, bahkan ada yang berasal dari luar Pulau Kalimantan ( Pulau Jawa)
Sebelum melakukan Penelitian Tindakan Kelas siklus I, peneliti melakukan kegiatan pra tindakan pada hari Selasa tanggal 14 November 2017 pada pukul 08.20 sampai 09.55 atau jam ke 3 dan ke 4 di kelas VIII A, kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana keadaan siswa sebelum pelaksanaan siklus terutama mengenai hasil belajarnya sebelum penerapan model pembelajaran tipe make a match (mencari pasangan) pada kegiatan pra tindakan ini peneliti masih menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Kegiatan pra tindakan ini adalah merupakan kegiatan untuk mengawali Penelitian Tindakan Kelas atau sebelum digunakannya model make a match pada pembelajaran IPS. Pada pelaksanaan pra tindakan ini melalui tiga tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan hasil. Perencanaan yaitu dengan menyususn RPP dan dilaksanakan pada hari Jumat 10 November 2016.
Menurut hasil pengamatan pada pra tindakan  yang masih menggunakan metode ceramah bervareasi, pengorganisasian  dan alokasi waktu belum maksimal karena belum terlaksana dengan baik, hal ini karena metode ceramah ini sangat membosankan bagi siswa,siswa belum memahami pelaksanaan pembelajarannya, penjelasan  tentang indikator pembelajaran yang ingin dicapai kurang jelas,guru kurang mampu mengembangkan bahan ajar sehingga materi yang disampaikan kurang diserap oleh sisiwa. Siswa dalam proses pembelajaran berlangsung mereka sibuk mengerjakan hal-hal di luar jam pembelajaran sehingga kurang memperhatikan  dan mengamati penjelasan guru. Selain itu respon siswa akan proses pembelajaran tidak terlalu aktif, dimana tidak ada keingintahuan lebih mendalam terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
       Berdasarkan hasil ulangan pada pra tindakan diperoleh data sebagai berikut :
,Tabel 4.1 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang



   Grafik 4.1 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang



Dari tabel nilai akhir hasil belajar siswa pada kegiatan pra tindakan tersebut dapat dijelaskan bahwa, melalui metode ceramah bervareasi dan tanya jawab diperoleh nilai rata-rata siswa yaitu 61,69 dengan jumlah siswa yang tuntas             ada 9 dari 26 siswa yang menjawab soal atau yang mengikuti tes pada pra tindakan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara klasikal nilai yang dicapai siswa belum tuntas dan tingkat keberhasilannya masih dikategorikan kurang atau belum mencapai persentasi ketuntasan yang ditentukan, karena siswa yang memperoleh nilai 70 atau lebih hanya sebanyak 9 sisa atau  35%  lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85 %.
B.  Prosedur Tindakan pada Siklus I
            Tabel berikut merupakan waktu pelaksanaan dan pokok bahasan yang diajarkan pada siklus I.
Tabel waktu pelaksanaan dan pokok bahasan siklus I



a.)  Perencanaan (Planning),            Pada tindakan siklus I ini penulisi melaksanakan tindakan dengan berkolaborasi dengan guru mata pelajaran IPS terpadu SMP Negeri 1 Jangkang yakni Bapak Colai Mawardi. Prosedur penelitian pada siklus I ini dilakukan dalam empat tahap, yakni perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (Observing), dan refleksi(reflecting). Selengkapnya penelitian tindakan kelas di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang pada siklus I adalah sebagai berikut :
Tahap perencanaan dilakukan sebagai upaya memcahkan segala permasalahan pada pra tindakan terkait hasil belajar yang siswa belum mencapai ketuntasan secara klasikal. Hal ini disebabkan karena guru terus-menerus ceramah memaparkan materi pembelajaran yang cenderung satu arah dan guru lebih mendominasi dalam proses pembelajaran. Akibatnya siswa cenderung malas mendengarkan penjelasan dari guru. Perencanaan siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 11 November 2017. Sebelum membuat perencanaan , penulis berdiskusi dengan guru IPS sebagai observer mengenai pembelajaran IPS terpadu yang akan menggunakan model pembelajaran tipe make a match (mencari pasangan) . Setelah sepakat maka peneliti dan guru bersama-sama membuat rencana pembelajaran (RPP).
            Selain rencana pembelajaran, penulis dan observer menyiapkan pedoman observasi yang akan digunakan dalam mengamati kegiatan pembelajaran pada saat melaksanakan pembelajaran menggunakan tipa make a match (mencari pasangan). Pedoman-pedoman observasi yang dipersiapkan sebagai berikut : 1)  Pedoman observasi kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. 2) Pedoman observasi keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran terutama dengan menggunakan tipe make a match (mencari pasangan)
b.  Pelaksanaan (Acting)      
                  Tindakan siklus I dilaksanakan pada hari Selasa  tanggal 14 November 2017 pada pukul  07.40 sampai 09.00 WIB dengan alokasi waktu yang digunakan 2 x 40 menit. Tindakan ini merupakan pelaksanaan perencanaan pembelajaran yang sudah direncanakan. Tindakan pelaksanaan yang dilakukan secara garis besar adalah pembelajaran dengan menerapkan/menggunakan tipe make a match (mencari pasangan) untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pada tahap ini, dilakukan dalam tiga tahap proses belajar mengajar, yaitu apersepsi, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi.
c.     Pengamatan (Observing)
            Dalam proses  pengamatan yang dilakukan oleh penulis dan observer, yang mengamati kejadian-kejadian selama proses pembelajaran yang telah dilaksanakan  dengan panduan obsevarsi yang telah disiapkan baik untuk siswa maupun untuk guru. Pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran, bahwa pengorganisasian materi ajar ( keruntutan, sistematika materi dan kesesuaian dengan alokasi waktu) sudah menunjukkan perubahan ke yang lebih baik, karena pelaksanaannya lebih baik daripada pra tindakan, tapi langkah-langkah pembelajaran masih membingungkan siswa sehingga siswa belum memahami pelaksanaan pembelajarannya.
            Pengamatan terhadap  kegiatan belajar siswa,  bahwa siswa sudah mulai memperhatikan penjelasan guru walaupun ada beberapa siswa yang  masih sibuk mengerjakan hal-hal di luar pembelajaran sehingga kurang memperhatikan dan mengamati penjelasan guru. Selain itu respon sisa terhadap proses pembelajaran sudah mulai aktif , sudah mulai timbul keingintahuan lebih dalam terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
Tabel 4.2 Ketuntasan belajar Siswa Siklus 1 Kelas VIII A SMPN 1 Jangkang



Grafik 4.2 Ketuntasan belajar Siswa Siklus 1 Kelas VIII A SMPN 1 Jangkang

            Dari tabel perolehan nilai siswa pada siklus I dapat diketahui bahwa telah terdapat peningkatan perolehan hasil belajar siswa kalau dibandingkan dengan perolehan nilai pada pra tindakan, walaupun hanya  35  % yang tuntas, dari tabel perolehan nilai pra tindakan yang tuntas hanya  9 orang siswa, sedangkan pada siklus I dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan yang tuntas sebanyak 17  orang siswa. Hal ini membuktikan bahwa dengan penerapan model pembelajaran tipe make a match dalam pembelajaran IPS Terpadu dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 73% atau meningkat sekitar 38% jikalau dibandingkan dengan penerapan metode konvensional ataupun ceramah bervareasi, karena dalam hal ini siswa ikut aktif mencari dan menemukan sendiri maslah yang deberikan oleh guru, alaupun peningkatan hasil belajar siswa belumlah maksimal sesuai dengan harapan, masih banyak siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM.
d.    Refleksi (Reflecting)
              Refleksi pada dasarnya merupakan suatu bentuk perenungan yang sangat   mendalam dan lengkap atas apa yang telah terjadi. Refleksi pada akhir siklus merupakan pengungkapan atau mencari jalan keluar dari permasalahan yang terdapat dalam proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, dengan kata lain pertukaran pendapat antara penulis dan guru kolaborator/ observer atas hal yang telah direncanakan, dilaksanakan, dan diobservasi pada siklus tersebut. Pada pengamatan terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran dimana pengorganisasian materi ajar, skenario pembelajaran,indikator pembelajaran dan pengembangan materi ajar belum terlaksana dengan baik, selain itu aktifitas siswa dalam proses pembelajaran di kelas masih perlu dilakukan perbaikan serta nilai tes menunjukkan persentase pencapaian hasil yang belum maksimal karena belum termasuk dari indikator keberhasilan dalam penelitian.       
C.   Prosedur Tindakan pada Siklus II
                Tabel berikut merupakan waktu pelaksanaan  dan pokok bahasan yang akan diajarkan pada siklus II.
Tabel waktu pelaksanaan dan pokok bahasan siklus II



a.     Perencanaan (planning)           Berdasarkan hasil refleksi, observasi dan penilaian pada siklus I, siklus II ini merupakan kelanjutan dari siklus I, metode yang diterapkan pada siklus II ini sama dengan siklus I yakni masih menggunakan/menerapkan metode pembelajaran make a match (mencari pasangan) materi yang diajarkan masih kelanjutan dari siklus I, tentang pelaku-pelaku ekonomi di Indonesia dan koperasi Indonesia. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I akan berusaha diperbaiki pada pelaksanaan siklus II, dengan langkah-langkah yang sama dengan siklus I yakni perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observing), dan refleksi (reflection)
            Pelaksanaan siklus II ini juga masih berolaborasi dengan guru mata pelajaran IPS terpadu yang mengajar di SMP Negeri 1 Jangkang, yakni bapak Colai Mawardi .Perencanaan pada siklus II ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 19 November 2017, setelah tercapai kata sepakat, kemudian penulis dan guru kolaborator bersama-sama membicarakan bagaimana teknis pelaksanaan proses belajar mengajar. Tahap perencanaan dilakukan dalam upaya memcahkan segala permasalahan  pada refleksi siklus I terkait hasil belajar siswa yang belum mencapai indicator keberhasilan. Selain itu juga proses pembelajaran yang dilaksanakan belum dikatakan berhasil, maka dilakukan perencanaan tindakan siklus II dengan memperhatikan kekurangan pada tindakan siklus I.
            Penulis dan observer menyiapkan pedoman observasi yang akan digunakan dalam mengamati kegiatan pembelajaran pada saat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan teknik TPS. Pedoman-pedoman observasi yang dipersiapkan sebagai berikut : 1) Pedoman observasi kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. 2) Pedoman observasi keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Pada kegiatan pembelajaran yang I ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 21 November 2017, pada pukul 07.40 sampai  09 00 WIB yang akan membahas materi tentang pelaku-pelaku ekonomi di Indonesia. Sedangkan pada kegiatan pembelajaran II ini dilaksanakan pada hari Kamis,tanggal 23 November 2017, pada pukul 08.40 sampai 09.55 WIB yang membahas materi tentang koperasi di Indonesia.
c.     Pengamatan (Observing)
            Dalam pengamatan pada siklus II penulis sekaligus guru mata pelajaran IPS Terpadu mengamati proses pembelajaran bersama dengan guru observer, mengamati kejadian-kejadian selama proses pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan panduan observasi yang telah disiapkan baik untuk siswa maupun guru. Dari pengamatan observer (kolaborator), bahwa pelaksanaan pembelajaran pada siklus II sudah meningkat, guru selaku penulis telah memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I, pengorganisasian materi ajar (keruntutan, sistematika,materi, dan kesesuaian dengan alokasi waktu ) sudah baik, kejelasan skenario pembelajaran( langkah-langkah kegiatan pembelajaran ( awal, inti dan akhir) sudah baik. Penjelasan guru mengenai indicator pembelajaran yang ingin dicapai sudah dijelaskan secara maksimal, guru juga sudah baik dalam mengembangkan materi/bahan ajar sehingga materi yang disampaikan  tersebut mudah dipahami oleh siswa, siswa sudah tidak kebingungan karena sudah dua kali diterapkan metode pembelajaran tipe Make A Match ( mencari pasangan) kondisi kelas sudah kondusif tidak ada lagi gangguan-gangguan dari kelas lainnya.Tidak ada siswa yang absen artinya, siswa hadir semua saat itu, Siswa sudah memanfaatkan sumber belajar lainnya  seperti buku mata pelajaran IPS yang lainnya yang berkaitan dengan materi yang dipelajari yang ada di perpustakaan..
                     Dengan memperhatikan hasil pada siklus II menunjukkan tercapainya keberhasilan penelitian tindakan kelas yang di lakukan di SMP Negeri 1 Jangkang di kelas VIII A 
Tabel 4.3 Ketuntasan belajar Siswa Siklus II Kelas VIII A SMPN 1 Jangkang


Grafik 4.3 Ketuntasan belajar Siswa Siklus II Kelas VIII A SMP1 Jangkang

Dari tabel perolehan nilai siswa pada siklus II dapat diketahui bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa sebesar 92% persen yang tuntas. Dari tabel perolehan nilai siklus I yang tuntas sebanyak 19 siswa,sedangkan pada siklus II dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan yang tuntas sebanyak 24 siswa. Hal ini membuktikan bahwa hasil belajar siswa kalau dibandingkan dengan nilai pada saat siklus I mengalami peningkatan walaupun belum bisa semuanya mencapai KKM, hal ini dikarenakan 2 siswa tersebut masih ada kelemahannya, yang satu memang untuk minat belajarnya kurang hal ini terbukti seringnya siswa tersebut tidak masuk sekolah, yang satu lagi karena tidak mempunyai LKS yang bisa dibawa pulang sehingga tidak bisa belajar di rumah.

d.     Refleksi ( Reflecting)
              Refleksi pada dasarnya merupakan suatu bentuk perenungan yang sangat   mendalam dan lengkap atas apa yang telah terjadi. Refleksi pada akhir siklus merupakan pengungkapan atau mencari jalan keluar dari permasalahan yang terdapat dalam proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, dengan kata lain pertukaran pendapat antara penulis dan guru kolaborator/ observer atas hal yang telah direncanakan, dilaksanakan, dan diobservasi pada siklus tersebut. Pada pengamatan terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran dimana pengorganisasian materi ajar, skenario pembelajaran,indicator pembelajaran dan pengembangan materi ajar belum terlaksana dengan baik, selain itu aktifitas siswa dalam proses pembelajaran di kelas sudah mengalami peningkatan dengan kata lain sudah baik, serta nilai tes menunjukkan persentase pencapaian hasil yang sudah  maksimal karena sudah  termasuk dari indikator keberhasilan dalam penelitian.Memperhatiakan hasil refleksi di siklus II menunjukkan tercapainya indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SMP Negeri 1 Jangkang terutama kelas VIII A mengalami ketuntasan hasil belajar. Dengan memperhatikan seluruh aspek pengamatan dan hasil refleksi siklus II, oleh karena itu, penulis sekaligus guru mata pelajaran IPS Terpadu dan guru kolaborator/observer menyimpulkan bahwa indikator pelaksanaan penelitian yang sudah tercapai.
D.   Pembahasan Hasil Penelitian
              Dalam pembahasan ini diuraikan hasil penelitian mengenai peningkatan hasil belajar melalui penggunaan /penerapan metode pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang. Setelah menggunakan/menerapkan  metode pembelajaran tipe Make A Match pada tindakan siklus I dan siklus II terdapat adanya peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII A, hal ini dikarenakan dengan menggunakan/menerapkan metode pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) lebih memudahkan siswa dalam memahami materi yang dipelajari/diajarkan oleh guru.
              Dengan menggunakan/menerapkan metode pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) dapat meningkatkan hasil belajar siswa , hal ini terbukti dengan peningkatan persentase hasil belajar, keaktifan siswa dalam pembelajaran pada siklus I dan siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari naiknya rata-rata kelas dari pra siklus sebesar 61,69% kemudian siklus I sebesar 72,12% dan siklus II sebesar 74,23% dengan jumlah siswa mencapai KKM ≥ 70 . Pada pra siklus sebanyak 9 orang siswa tuntas, siklus I sebanyak 19 orang siswa tuntas dan siklus II sebanyak 24 orang siswa tuntas . Persentase ketuntasan pada pra siklus 35%, siklus I 73% dan sikus II 92%, sehingga pada akhir siklus II sudah mencapai kriteria ketuntasan 75% dan mencapai lebih dari KKM ≥ 70 dan yang belum mencapai KKM ada 2 orang siswa akan diberikan remedial lagi supaya bisa mencapai ketuntasan KKM seperti apa yang diharapkan.
              Berdasarkan pada hasil pengamatan kegiatan siswa pada pra tindakan, siswa masih kurang aktif/keaktifan siswa belum Nampak hal ini disebabkan karena proses pembelajaran masih didominasi oleh guru (guru masih menerapkan metode konvensional yakni ceramah bervareasi) sehingga banyak siswa yang merasa bosan, guru belum menggunakan metode/strategi yang menarik siswa unruk lebih aktif, tetapi setelah pelaksanaan siklus I, guru telah menggunakan model pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan), siswa lambat-laun mulai kelihatan aktif dalam pembelajaran walupun masih canggung dan kaku karena belum terbiasa, siswa sudah mulai mau bertanya ataupun mulai mau menjawab pertanyaan walaupun belum sempurna/ tepat. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pra tindakan, siklus I dan siklus II baik dalam proses pembelajaran ataupun keaktifan siswa dan dalam hasil belajar siswa, bahwa dengan menggunakanmetode pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan dalam mata pelajaran IPS Terpadu didapat peningkatan hasil sesuai dengan yang diharapkan.

KESIMPULAN
            Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan dipaparkan pada hasil penelitian dan pembehasan, maka dapat disimpulkan secara umum dari penelitian ini bahwa penggunaan/penerapan metode pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) dalam proses pembelajaran IPS terpadu  di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
            Model pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan)  ini diterapkan/digunakan setiap kali pertemuan dalam siklus I ataupun siklus II, dan dari siklus I dan siklus II yang masing-masing siklus dilakukan sebanyak dua kali pertemuan telah menunjukkan hasil yang memuaskan, yang mana diketahui adanya peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang, dari persentase perolehan hasil belajar siswa, pra tindakan 35 % , 9 orang siswa  yang memperoleh nilai sesuai ataupun lebih dari KKM,sedang 17 (64%) siswa memperoleh nilai kurang/di bawah KKM, pada siklus I sudah terdapat peningkatan nilai hasil belajar yakni 19 orang siswa atau 73% yang memperoleh nilai di atas KKM, sedang 7 orang siswa atau 27% , nilainya masih dibawah KKM, pada siklus II diperoleh nilai belajar siswa yang lebih meningkat yakni 24 orang siswa atau 92% memperoleh nilai diatas KKM, sedangkan 2 orang siswa atau 8% memperoleh nilai masih dibawah KKM.
            Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan/penerapanmetode pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) pada mata pelajaran IPS Trepadu dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang. Secara khusus dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran tipe Make A Match (mencarai pasangan) dalam pembelajaran IPS Terpadu adalah : 1) Untuk mengetahui penggunaan model pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang  pada mata pelajaran IPS Terpadu. 2) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang.

DAFTAR PUSTAKA.
Anita Lie, (2004). Cooperative Learning : PT . Gramedia Widiasarana Indonesia.
…………,(2008).Cooperative Learning, Jakarta : PT Grasindo.
Dimyati dan Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta..
Depdiknas,(2003), Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta : Depdiknas.
Hadari Nawawi, (2005), Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta : Gajahmada University Press
Muslimin,Ibrahim, dkk. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University Press.
Miftahul Huda,(2013), Model-model Pengajaran dan Pembelajaran, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Moh. User Usman dan Lilis Setiawati, (2001). Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Nana Sujdana. (2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (cet.XV). Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Nurhadi, (2003), Pembelajaran konstektual dan penerapannya dalam KBK, Malang, Universitas Negeri Malang.
Prayitno. (2009). Dasar Teori dan Praktis Pendidikan. Bandung : Grasindo.
Purwanto, (1990). Psikologi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Rusman,(2011), Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta : Rajaali Perss.
Sugiyono,(2013), Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R dan D, Bandung : CV Alfabeta.
Supriyono, Agus. (2009). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, Yogyakarta : Pustaka Belajar.
S, Winarno (2009). Interaksi Belajar Mengajar. Bandung : Jemmars.
Yana Wardana. (2010). Teori Belajar dan Mengajar. Bandung : PT Pribumi Mekar.

















Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *