UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN TEKNIK THINK-PAIR-SHARE ( TPS ) DI KELAS VIII A PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 2 JANGKANG

Foto : Dede Jalaludin
SMP Negeri 2 Jangkang, Kabupaten Sanggau

ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perolehan nilai siswa pada semester ganjil tahun pelajaran 2016/2017, belum memuaskan karena rata-rata nilai siswa di bawah KKM, yakni 70, siswa yang belum mencapai KKM ada 25 siswa sedangkan yang sudah mencapai KKM 8 siswa. Siswa dianggap berhasil dalam belajar secara klasikal jika telah mencapai 75%, dan mendapatkan nilai di atas KKM atau sama dengan KKM. Masalah utama dalam penelitian ini yaitu, “ Bagaimanakah Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Teknik TPS di Kelas VIII A Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia  SMP Negeri 2 Jangkang. Tujuan penelitian ini  adalah untuk mengetahui peningkatan  hasil belajar siswa kelas VIII A  dengan menggunakan Teknik TPS pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Jangkang.            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan . Sedangkan bentuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Jangkang, penelitian semester ganjil bulan  November  tahun  2017. Sedangkan Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A dengan jumlah 33 siswa yang terdiri dari : laki-laki 18 siswa  dan perempuan 15 siswa. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari naiknya rata-rata kelas dari pra siklus sebesar 53,6% kemudian siklus I sebesar 65,2% dan pada siklus II terdapat peningkatan sebesar 77,4% dengan jumlah siswa mencapai KKM ≥ 70 , pada pra siklus sebanyak 8 orang siswa, siklus I sebanyak 18 orang siswa dan siklus II sebanyak 27 orang siswa . Persentase ketuntasan pada pra siklus 24%, siklus I 54% dan sikus II 81%, terjadi peningkatan persentase ketuntasan siswa dari pra tindakan ke siklus I yakni 30 % dan terjadi peningkatan persentase ketuntasan dari siklus I ke siklus II yakni 27%.

Kata Kunci: peningkatan hasil belajar, teknik TPS

PENDAHULUAN
Sebagai makhluk sosial manusia tidak akan terlepas dari berbagai kebutuhan. Salah satu kebutuhan manusia adalah pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dalam rangka menyiapkan siswa melalui bimbingan pengajaran, dan latihan agar siswa dapat memainkan peranannya dimasa yang akan datang. Pendidikan adalah kebutuhan batiniah yang memegang peranan penting dalam usaha mengembangkan kualitas manusia. Pada saat ini pendidikan menjadi salah satu kebutuhan bahkan suatu keharusan dalam kehidupannya. Peningkatan kualitas pembelajaran merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam suatu proses belajar mengajar untuk meningkatkan mutu pendidikan. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
            Salah satu komponen sumber daya manusia dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan adalah guru. Keberhasilan program pendidikan tidak hanya tergantung pada konsep-konsep program yang disusun secara cermat dan teliti, tetapi juga pada personil yang mempunyai kesanggupan dan keinginan untuk berprestasi. Guru merupakan sumber daya manusia yang diharapkan mampu mengerahkan dan mendayagunakan faktor-faktor lainnya sehingga tercipta proses belajar mengajar yang bermutu, guru dianggap sebagai faktor utama yang menentukan terhadap meningkatnya mutu pendidikan. Oleh karena itu guru harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat, khususnya bertangggungjawab untuk membawa siswanya pada suatu kedewasaan.
            Suasana belajar yang menyenangkan, kreatif dan inovatif dalam melakukan pembelajaran agar siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan, merupakan salah satu tugas guru, sehingga siswa menjadi antusias dalam mengikuti proses belajar mengajar. Pembelajaran yang dilaksanakan berkualitas dan berprestasi yang dicapai siswa memuaskan merupakan keharusan dari proses pembelajaran. Salah satu upaya untuk meningkatkan keberhasilan belajar siswa, yaitu dengan menggunakan pembelajaran aktif, siswa dapat mengeluarkan gagasannya, memecahkan masalah dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
            Hasil perolehan nilai siswa di kelas VII semester genap tahun pelajaran 2016/2017, belum memuaskan, karena rata-rata nilai siswa masih di bawah KKM, yakni 70, siswa yang belum mencapai KKM ada 24 siswa sedangkan yang sudah mencapai KKM 9 siswa, siswa dianggap berhasil dalam belajar secara klasikal apabila telah mencapai 75%, dan telah mendapatkan nilai di atas KKM, hal ini di sebabkan pada semester sebelumnya guru masih menggunakan metode pembelajaran yang masih bersifat konvensional yaitu metode bercerita atau ceramah, yang mengharapkan siswa duduk,diam, dengar, catat dan hafal, metode ini selalu digunakan dan menjadi pilihan dalam penyampaian materi, dengan metode ini mengakibatkan menurunnya motivasi siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik dan berdampak pada hasil belajar siswa yang kurang memuaskan. Motivasi sangat penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, sehingga pada saat pembelajaran berlangsung siswa menjadi kreatif.
            Pembelajaran menggunakan metode bercerita atau ceramah yang biasa diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, siswa cenderung bosan, kurang aktif dalam bertanya. Menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh guru secara lisan, kebanyakan siswa berpendapat bahwa pelajaran Bahasa Indonesia sangat membosankan, monoton, hal ini dapat dilihat masih kurangnya penguasaan materi pelajaran oleh siswa. Guru kadang merasa kebingungan apakah siswa mengerti dan menerima materi pelajaran yang di sampaikan guru atau tidak mengerti tentang materi yang di sampaikan.  Pada saat guru mengulang materi dan menanyakan tentang materi yang sudah di sampaikan, siswa hanya duduk terdiam dan pura-pura berpikir padahal tidak tahu apa yang dipikirkan. Siswa bersikap acuh tak acuh dan kurang antusias untuk mengikuti proses belajar mengajar, terkadang mereka malah berbicara dengan temannya yang lain ketika guru sedang menjelaskan, sehingga pembelajaran di kelas tidak efektif..
            Hasil diskusi dengan rekan guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Jangkang, maka rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII A disebabkan oleh dua faktor yakni : dari guru yaitu, masih berperan dominan dalam PBM karena masih menggunakan metode ceramah, guru belum melibatkan siswa dalam pembelajaran, guru tidak menggunakan teknik lain yang digunakan dalam PBM, siswa tidak pernah diberi tugas, dari pihak siswa disebabkan oleh : minat belajar siswa masih rendah, kurangnya perhatian siswa terhadap materi pelajaran, malas mengerjakan tugas.
 Berdasarkan fakta tersebut, maka perlu solusi untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah melalui penerapan/ menggunakan strategi dalam pembelajaran. Secara umum strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi unyuk sampai pada tujuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus ( yang diinginkan ). Menurut Joni,( Kodir, 2010 : 18) berpendapat bahwa yang dimaksud strategi adalah suatu prosedur yang digunakan untuk memberikan suasana yang konduktif kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Untuk meningkatkan hasil belajar, penulis sekaligus guru mata pelajaran Bahasa Indonesia menganggap perlu perubahan dalam teknik pembelajaran Bahasa Indonesia, yakni penggunaan teknik TPS, diharapkan dengan penggunaan teknik TPS ini bisa membuat siswa lebih tertarik dan tidak jenuh karena dalam proses pembelajaran ini yang sangat menarik. Diharapkan dengan menggunakan teknik ini proses belajar mengajar akan lebih hidup dan mengasyikkan. Siswa lebih aktif baik bertanya ataupun dalam menjawab pertanyaan. Dengan demikian,  diharapkan meningkatnya hasil belajar siswa menjadi lebih baik dan lebih efektif  jika dibandingkan dengan semester sebelumnya.
            Berdasarkan latarbelakang tersebut, penulis merumuskan masalah umum dalam penelitian ini yaitu, “ Bagaimanakah Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa kelas VIII A Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Dengan Menggunakan Teknik TPS ( Think-Pair-Share ) di SMP Negeri 2 Jangkang ? Untuk mempermudah dalam penelitian ini, maka masalah umum tersebut dibahas secara khusus sebagai berikut: 1) Bagaimanakah penggunaan Teknik TPS dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Jangkang? 2) Bagaimanakah peningkatan  hasil belajar siswa kelas VIII A melalui penggunaan Teknik TPS  pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Jangkang?
Tujuan penelitian ini  adalah untuk mengetahui peningkatan  hasil belajar siswa kelas VIII A dengan menggunakan Teknik TPS pada mata pelajaran  Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Jangkang. Secara khusus penelitian bertujuan: 1) Untuk mengetahui penggunaan Teknik TPS dalam peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Jangkang. 2) Untuk mengetahui peningkatan  hasil belajar siswa kelas VIII A melalui penggunaan Teknik TPS  pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Jangkang.
            Manfaat dari penelitian tindakan kelas melalui penggunaan Teknik TPS untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Jangkang, adalah : 1) Manfaat Teoritis, yaitu hasil penelitian ini diharapkan agar bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan, serta dapat dijadikan alternatif strategi pembelajaran pada pelajaran Bahasa Indonesia. 2) Manfaat Praktis yaitu  a) Bagi Siswa, diharapkan siswa dapat menambah wawasan dan menambah ilmu pengetahuan yang luas khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. b) Bagi Guru diharapkan penelitian ini dapat menjadi motivasi bagi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai  alternatif dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. c)  Bagi Sekolah, penelitian ini agar menjadi pertimbangan dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan dapat memotivasi guru bidang studi yang lain untuk mempergnakan teknik TPS (Think-Pair-Share).

KAJIAN PUSTAKA
1.   Hasil Belajar
          Belajar pada dasarnya suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interksi dengan lingkungannya. Prayitno (2009 : 203) menyatakan bahwa  belajar merupaka proses perubahan tingkah laku individu yang diperoleh melalui pengalaman, melalui proses stimulus respon, melalui pembiasaan,melalui peniruan, melalui pemahaman dan penghayatan, melalui aktivitas individu untuk meraih sesuatu yang dikehendakinya.
            Wardhana, Y (2010 : 3), belajar di anggap sebagai perubahan perilaku yang merupakan akibat dari pengalaman dan latihan. Belajar merupakan proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan, belajar bukan sekedar mengumpulkan pengetahuan, tetapi merupakan proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan perubahan perilaku. Usman dan Setiawati (2001 : 5) menyatakan belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya, seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sikap, misalnya dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang ragu menjadi yakin. Kriteria keberhasilan dalam belajar diantaranya ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar.
            Penjelasan hasil belajar dapat dipahami dengan dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Sedangkan belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada individu yang belajar. Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang menjadi hasil belajar. Hasil belajar sering kali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai suatu bahan yang sudah diajarkan. Purwanto (Erthy, 2014 : 26) mengatakan, untuk mengaktualisasikan hasil belajar tersebut diperlukan sebagai serangkaian pengukuran menggunakan alat evaluasi yang baik dan memenuhi syarat.
            Winarno Surakhmad (1980 : 25) hasil belajar diartikan sebagi ulangan, ujian atau tes, maksud ulangan tersebut ialah untuk memperoleh suatu indek dalam menentukan keberhasilan siswa, atau suatu prestasi belajar siswa yang dicapai siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah laku seseorang. Selanjutnya Udin Syaefudin Saud, M.Ed. (2009 : 118) bahwa hasil suatu pembelajaran di samakan dengan tujuan yang ingin dicapai dari suatu perbuatan. Keberhasilan suatu proses pengajaran biasanya diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru.
            Suprijono (2009 : 5) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk Gagne (Suprijono, 2009 : 5) hasil belajar berupa : 1) Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk     bahasa, baik lisan rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan  manipulasi symbol, pemecahan masalah maupun penerapan atura, 2) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Kemampuan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas, 3) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah, 4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani, 5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.
            Hasil belajar merupakan salah satu bentuk penilaian dalam pelaksanaan kurikulum ada dua hal yang sangat penting untuk dijadikan sasaran evaluasi dalam pelaksanaan kurikulum, yaitu hasil belajar siswa tiap semester dan daya capai kurikulum pada tiap sekolah. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki sisa setelah menerima pengalaman belajar (Sudjana, 2010 : 22). Dimyati dan Mudjiono (2009 : 3) hasil belajar merupakan tujuan akhir dilaksanakannya kegatan pembelajaran di sekolah. Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha sadar yang dilakukan secara sistematis mengarah kepada perubahan yang positif yang kemudian disebut proses belajar. Akhir dari proses belajar adalah perolehan suatu hasil belajar kelas. Semua hasil belajar tersebut merupakan  hasil dari suatu interaksi tindk belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.
            Gagne dalam Sudjana (2010 : 22) mengembangkan hasil belajar  menjadi lima macam antara lain : 1) hasil belajar intelektual merupakan hasil belajar terpenting dari sitem lingsikolastik, 2) strategi kognitif yaitu cara mengatur belajar dan berfikir seseorang dalam arti seluas-luasnya termasuk kemampuan memecahkan masalah, 3) sikap dan nilai, berhubungan dengan arah intensitas emosional yang dimiliki seseorang sebagaimana disimpulkan dari kecenderungan bertingkah laku terhadap orang dan kejadian, 4) informasi verbal, pengertian dalam arti informasi dan fakta, dan 5) keterampilan motorik yaitu kecakapan yang berfungsi untuk lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang.
            Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah suatu pengajaran yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu hasilnya dilihat dari prestasi atau perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri siswa. Menurut Purwanto  (1990 : 103 ) dalam bukunya psikologi pendidikan hasil belajar akan dipengaruhi oleh beberapa faktor , yaitu  (a) factor intern meliputi : (1) kematangan, (2) kecerdasan dan intelegensi, (3) lstihsn atau ulangan, (4) motivasi, (5) sifat pribadi, (b) factor ekteren meliputi : (1) tingkat social ekonomi orang tua, (2) lingkungan, (3) fasilitas belajar, (4) faktor guru dan cara mengajar.        
Dari pendapat beberapa ahli yang telah mengemukakan pendapatnya tentang hasil belajar, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan suatu hasil yang didapat siswa dalam periode tertentu melalui suatu proses belajar mengajar dengan adanya suatu perubahan tingkah laku yang lebih baik, dan dinyatakan dengan suatu angka-angka.
2.  Teknik Think-Pare-Share (TPS)
Pembelajaran Teknik TPS adalah strategi pembelajaran untuk mempersiapkan siswa dengan berbagai bahan pemikiran pada topik yang diberikan sehingga memungkinkan siswa menyatakan ide secara individu dan berbagai ide dengan siswa lainnya. Menutur Muslimin Ibrahim, dkk (2000: 26) menyatakan pembelajaran model Think-Pair-Share (TPS) adalah “Pembelajaran yang memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa  waktu lebih  banyak untuk berpikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain”.
Pembelajaran dengan teknik  TPS merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam diskusi kelompok yang terdiri dari 4 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan positif dengan menulis ide-ide dari pemikiran setiap individu kemudian berbagi bersama untuk meningkatkan respon siswa pada pertanyaan/masalah. Pembelajaran Teknik TPS adalah strategi pembelajaran untuk mempersiapkan siswa dengan berbagai bahan pemikiran pada topik yang diberikan sehingga memungkinkan siswa untuk menyatakan ide secara individu dan berbagai ide dengan siswa lainnya.
            Pembelajaran teknik TPS merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajardalam diskusi kelompok yang terdiri dari 4 orang siswa secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan positif dengan menulis ide-ide dari pemikiran setiap individu kemudian berbagi bersama untuk meningkatkan respon siswa pada pertanyaan/ masalah.  Pembelajaran teknik TPS untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi harus mengembangkan pola pikir dengan ide-ide baru dalam memahami meteri yang diberikan sehingga dapat memotivasi siswa yang lainnya agar memiliki pola pikir yang baik.
            Pembelajaran  teknik Think-Pair-Share (TPS) memiliki tahap-tahap sebagai berikut (Muslimin Ibrahim, dkk : 2000:26) 1) Thinking (Berpikir) Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian siswa diminta memikirkan pertanyaan atau  isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat, 2) Pairing (Berpasangan) Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama, interaksi pada tahap ini  diharapkan  dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagai ide jika persoalan khusus telah diidentifikasikan. Biasanya guru memberi waktu 5-10 menit untuk berpasangan, 3) Sharing (Berbagi) Pada tahap akhir guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini dilakukan dengan cara bergiliran berpasang-pasang dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasang telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
            Berdasarkan tahap-tahap pembelajaran  teknik TPS di atas langkah-langkah pembelajaran  teknik TPS dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) guru menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, (2) guru menyampaikan materi pelajaran dengan singkat, (3) guru memberikan masalah atau pertanyaan yang berhubungan dengan materi, (4) siswa diberi waktu berpikir dan bekerja secara mandiri atas masalah atau pertanyaan yang diberikan untuk beberapa saat, (5) guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dengan siswa lainnya dalam kelompok yang terdiri dari 4 orang siswa, jadi terdiri dari 2 pasang, (6)  setiap siswa memberi pendapat dalam kelompok, (7) guru memantau kegiatan siswa yaitu dengan berkeliling dan mampir di setiap kelompok, (8)  guru menentukan jawaban dari hasil diskusi, (9) guru menunjuk setiap pasangan untuk mempresentasikan jawaban dari pertanyaan atau masalah yang diberikan. Ini dilakukan secara bergiliran pasangan demi pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkannya, (10) guru mengevaluasi diskusi kelompok, (11) guru memberikan penghargaan kepada kepada kelompok yang berhasil dengan baik menjawab setiap pertanyaan.
            Menurut Anita Lie (2004: 46) Teknik Think-Pair-Share (TPS) memiliki kebaikan sebagai berikut : 1)Mudah dibagi secara berpasangan, 2)Lebih banyak ide yang muncul, 3)Lebih  banyak tugas yang bisa dilakukan, 4) Guru mudah memonitor, 5) Meningkatkan partisipasi siswa dalam berdiskusi. Menurut Anita Lie (2004: 460) Teknik Think-Pair-Share (TPS) memiliki kelemahan sebagai berikut : 1) Memerlukan waktu yang lebih lama, 2) Memerlukan sosialisasi yang lebih baik, 3) Jumlah genap menyulitkan  dalam proses pengambilan suara, 4) Kurang kesempatan untuk konstribusi individu, 5) Siswa mudah melepaskan diri dari keterlibatan dan tidak memperhatikan.
Jadi model pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil untuk sampai pada keberhasilan belajar yang optimal baik secara kelompok maupun individu. Muslimin Ibrahim. dkk adalah “Pembelajaran yang memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain”.
Pembelajaran teknik TPS untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi siswa harus mengembangkan pola pikir dengan ide-ide baru dalam memahami materi yang diberikan sehingga dapat memotivasi siswa yang lainnya agar memiliki pola pikir yang baik pula. Selain itu, pembelajaran TPS adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain. Keunggulan lain Think-Pair-Share (TPS) adalah optimalisasi partisipasi siswa (Anita Lie,  2004: 57). Oleh karena itu penulis berupaya untuk menggunakan Teknik TPS dalam proses belajar mengajar di kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang, dengan tujuan agar siswa bisa lebih mudah menerima materi pelajaran kalau siswa bisa memecahkan masalah yang disampaikan oleh guru, dengan cara kerja kelompok atau berpasangan, yang akhirnya akan bisa meningkatkan hasil belajarnya.
Kerangka berpikir di dalam penelitian ini adalah bahwa si penulis bagaimana melakukan penelitian. Penelitian ini berawal dari kondisi si peneliti/guru belum menggunakan model pembelajaran, sehingga siswa hasil belajar masih rendah. Oleh karena itu, si penulis melakukan tindakan dengan menggunakan model pembelajaran yang digunakan yang dilakukan melalui dua siklus. Setelah dilakukan tindakan oleh si penulis, maka pada kondisi akhir hasil belajar dapat meningkat. Dengan demikian, penelitian tentang meningkatkan hasil belajar siswa menggunakan teknik TPS pada pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang dapat dikatakan berhasil sesuai yang diharapkan.
            Berdasarkan pada kajian teori dan kerangka berpikir, maka penulis yang sekaligus sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Jangkang yang semula dalam pelaksaan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VIII A, masih menggunakan cara/system konvensional/ tradisional dalam hal ini masih menggunakan cara ceramah dan bercerita, sehingga anak belum bisa menerima pelajaran dengan baik sehingga nilai akhir pada semester genap tahun 2016/2017 belum memuaskan karena masih dibawah KKM. Oleh karena itu, pada semester ganjil tahun pelajaran 2017/2018 berupaya untuk mengubah cara/system yang diterapkannya dengan mengunakan Teknik TPS, dan diharapkan agar setelah penerapan Teknik TPS ini hasil akhir pada semester ganjil tahun pelajaran 2017/2018 akan meningkat, dan akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

METODOLOGI PENELITIAN
              Metodologi adalah ilmu mengenai cara-cara mencapai tujuan (Eka Prihatin, 2008:59). Sedangkan metode berarti cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan (Hadari Nawawi, 2005 : 62). Karena penelitian ini bermaksud untuk mengetahui hasil dari proses pembelajaran, maka penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan. Metode ini merupakan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek/objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya (Hadari Nawawi, 2005:63). Sejalan dengan Sugiyono (2012 :2) mengemukakan bahwa Metode Penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan. Sedangkan bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Urai Husna Hasmara (2007:62) Penelitian Tindakan Kelas didefinisikan “sebagai sutu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih professional. Hopkin (dalam Indrawati 2008:6) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah tindakan yang diambil guru untuk meningkatkan dirinya atau teman sejawatnya untuk menguji asumsi-asumsi teori pendidikan didalam praktik, atau mempunyai makna aebagai evaluasi dan implementasi keseluruhan prioritas sekolah. Peneliti memilih bentuk penelitian PTK karena peneliti ingin mengungkapkan keadaan yang sebenarnya tentang upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A menggunakan Teknik TPS di SMP Negeri 2 Jangkang.
Penelitian ini akan dilakukan pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang Kecamatan Jangkang Kabupaten Sanggau. Hal ini dilakukan  karena untuk mempermudah penelitian sehubungan dengan si penulis sebagai guru di kelas tersebut sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran di kelas. Sedangkan penelitian ini dilaksanakan bulan November 2017 Semester  ganjil tahun pelajaran 2017/2018. Ditinjau dari segi waktu serta perubahan sistem dan iklim belajar dipandang tepat pada bulan November.
            Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang  Kecamatan Jangkang Kabupaten Sanggau  karena berdasarkan latar belakang bahwa jarak siswa ke sekolah cukup jauh sehingga hasil belajar rendah. Hal ini terlihat selama proses belajar mengajar yaitu pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia subjek diartikan sebagai pokok bahasan. Oleh karena itu, subjek penelitian ini berjumlah 33 siswa dengan rincian 18 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:899) yang dimaksud prosedur adalah “tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivits”. Penelitian ini dilakukan bersama-sama atau berkolaborasi antara guru kelas VIII dan  guru kelas IX  SMP Negeri 2 Jangkang,  Kecamatan Jangkang Kabupaten Sanggau dan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan   dua siklus dilaksanakan dalam empat kali pertemuan. Pada setiap siklus dilakukan 4 tahap kegiatan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, obsevasi, dan refleksi.
Teknik pengumpulan data sangat diperlukan dalam setiap penelitian agar nantinya data benar-benar valid dan reliabel. Selain itu kecermatan dalam memilih dan menyusun teknik pengumpulan data juga sangat berpengaruh terhadap kelengkapan objektifivitas dari hasil penelitian. Sehubungan dengan itu menurut  Zuldafrial (2012 : 38) beberapa teknik dan alat pengumpul data adalah : a) Teknik observasi langsung, b) Teknik observasi tidak langsung, c) Teknik komunikasi langsung, d) Teknik komunikasi tidak langsung, e) Teknik studi documenter, f) Teknik pengukuran
Dari berbagai macam teknik yang sudah disebutkan, maka peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpul data, yaitu sebagai berikut : a.Teknik Observasi Langsung, Menurut Zuldafrial (2012 : 39) , yang dimaksud dengan teknik observasi langsung adalah suatu metode pengumpulan data secara langsung dimana peneliti ataupun observer mengamati gejala-gejala yang diteliti dari suatu objek penelitian menggunakan atau tanpa menggunakan instrument penelitian yang sudah dirancang. Gejala-gejala yang dilihat langsung dicatat dalam instrument atau lembar catatan. b. Teknik Pengukuran. Menurut Suharsimi (dalam Nurhasan, 2001 : 3-4) mengemukakan bahwa pengukuran adalah   pengumpulan data atau informasi dari suatu objek tertentu dan dalam proses pengukuran diperlukan suatu alat ukur. Sedangkan menurut Iqbal Hasan (2004 : 14) pengukuran adalah usaha untuk memberikan nomor pada benda-benda atau peristiwa-peristiwa menurut suatu aturan tertentu.
Instrumen  pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi dan tes hasil belajar. Proses pengumpulan data didalam suatu penelitian dapat dilakukan dengan mempergunakan satu atau lebih alat pengumpul data. Adapun alat pengumpulan data yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah dengan lembar observasi dan tes hasil belajar. a.  Lembar observasi. Lembar observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar ( Sugiyono, 2013 : 203). Observasi dalam penelitian ini merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengamati secara langsung objek penelitian yaitu guru dan siswa yang melaksankan pembelajaran. Dalam observasi ini digunakan lembar pengamatan proses pembelajaran untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas belajar siswa dan guru dengan menggunakan teknik TPS. b. Soal tes tertulis. Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dalam bentuk uraian. Bentuk tes urain ini dipilih untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami pelajaran yang telah disampaikan pada saat proses belajar mengajar.
Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis data dengan membandingkan antara keberhasilan belajar siswa pada siklus I dan siklus II, sesuai dengan standar KKM, untuk memperjelas analisis data akan ditampilkan dalam bentuk tabel atau grafik. Melalui Penelitian ini diharapkan dapat  meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A di SMP Negeri 2 Jangkang. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan presentase ketuntasan belajar siswa setelah tindakan jika dibandingkan dengan sebelum tindakan. Untuk mengukur keberhasilan  pelaksanaan tindakan kelas menggunakan 2 siklus, yakni siklus I dan siklus II, dengan indikator penelitian ini yaitu :1) Kesesuaian strategi pembelajaran  minimal 70% dengan penyajian yang dilakukan selama proses pembelajaran. 2) Terjadinya perubahan dalam kegiatan pembelajaran  minimal 70% yang terlihat dari sikap siswa, misalnya antusias dalam belajar, aktif dan paham terhadap materi yang sedang dipelajari. 3) Siswa memperoleh nilai rata-rata sebesar 70 di atas KKM dan tingkat daya serap siswa mencapai 75%.

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
            Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Reseach). Penelitian dilakukan dalam dua siklus yang berkolaboratif dengan teman sejawat, yaitu guru Bahasa Indonesia lainnya yang juga mengajar di SMP Negeri 2 Jangkang, sebagai observer. Untuk masing-masing siklus akan dilaksanakan dalam tahapan-tahapan pelaksanaan penelitian yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus I dilaksanakan dalam dua kali pertemuan dengan alokasi waktu 2x40 menit. Dalam penelitian ini penulis berkolaborasi dalam penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dengan teman sejawat sebagai observer, menyusun skenario langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Teknik TPS pada pokok bahasan memahami teks drama dan novel remaja.
A.  Deskripsi Pra Tindakan
            Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SMP Negeri 2 Jangkang yang beralamat di Jalan Merakai, Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, letak SMP Negeri 2 Jangkang ini cukup strategis karena berada di Ibu Kota Kecamatan dan mudah dijangkau oleh siswa. Siswa yang masuk di SMP Negeri 2 Jangkang berasal dari kampung-kampung sekitar wilayah kecamatan Jangkang, ada juga yang berasal dari luar kecamatan Jangkang bahkan ada yang dari luar kabupaten Sanggau. Orang tua siswa sebagian besar bekerja sebagai petani ladang berpindah dan juga berkebun karet, ada yang PNS dan berwiraswasta, sehingga mempengaruhi kondisi ekonomi keluarga siswa.
            SMP Negeri 2 Jangkang terdiri dari 9 rombongan belajar, kelas VII ada 3 rombongan belajar yaitu A, B dan C, kelas VIII ada 3 rombongan belajar yaitu A, B dan C serta kelas IX juga ada 3 rombongan belajar yaitu A, B dan C, selain itu juga ruang Kepala Sekolah, ruang TU, ruang Guru, ruang perpustakaan, ruang UKS, laboratorium IPA, laboratorium computer, gudang, dapur ,WC dan lapangan olahraga. SMP Negeri 2 Jangkang memiliki 8 guru PNS termasuk Kepala Sekolah yang sekaligus mengajar guru Bahasa Indonesia, guru matematika, guru IPS, guru agama Katolik, guru Bahasa Inggris, dan guru Olahraga. Selain guru PNS di SMP Negeri 2 Jangkang memiliki 2 guru honor daerah, 5 orang guru honor sekolah (BOS), dan sebagian besar guru yang ada sudah menempuh pendidikan S1, guru tersebut ada yang berasal dari kecamatan Jangkang, ada yang dari luar kecamatan, bahkan ada yang berasal dari luar Pulau Kalimantan ( Pulau Jawa).
            Sebelum melakukan Penelitian Tindakan Kelas siklus I, penulis melakukan kegiatan pra tindakan pada hari Jumat tanggal 10 November 2017 pada pukul 09.15 sampai 10.35 atau jam ke 4 dan ke 5 di kelas VIII A, kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana keadaan siswa sebelum pelaksanaan siklus terutama mengenai hasil belajarnya sebelum penerapan teknik TPS, pada kegiatan pra tindakan ini penulis masih menggunakan metode ceramah dan Tanya jawab. Kegiatan pra tindakan ini merupakan kegiatan untuk mengawali Penelitian Tindakan Kelas atau sebelum digunakannya teknik TPS pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Pada pelaksanaan pra tindakan ini melalui tiga tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan hasil. Perencanaan yaitu dengan menyususn RPP dan dilaksanakan pada tanggal 9 November 2017.
            Langkah-langkah pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Indonesia pada tahap pra tindakan adalah sebagai berikut : 1) Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam. 2) Guru mengecek kehadiran siswa dan kesiapan siswa untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. 3) Guru melakukan apersepsi untuk memotivasi minat belajar siswa. 4) Guru menjelaskan materi pelajaran dengan menggunakan metode yang biasa digunakan oleh guru yakni ceramah bervariasi. 5) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mengerjakan soal latihan pra tindakan.
Berdasarkan hasil pengamatan pada pra tindakan  yang masih menggunakan metode ceramah, pengorganisasian  dan alokasi waktu belum maksimal, belum terlaksana dengan baik. Hal ini karena metode ceramah ini sangat membosankan bagi siswa, siswa belum memahami pelaksanaan pembelajarannya, penjelasan  tentang indikator pembelajaran yang ingin dicapai kurang jelas. Guru kurang mampu mengembangkan bahan ajar sehingga materi yang disampaikan kurang diserap oleh sisiwa.
  Berdasarkan hasil ulangan pada pra tindakan diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 4.1 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang


Grafik 4.1 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang

Dari tabel 4.1   nilai akhir hasil belajar siswa pra tindakan tersebut dapat dijelaskan bahwa, melalui metode ceramah dan tanya jawab diperoleh jumlah siswa yang tuntas ada 8 siswa dan yang belum tuntas ada 25 siswa dari 33 siswa yang menjawab soal atau yang mengikuti tes pada pra tindakan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara klasikal nilai yang dicapai siswa belum tuntas dan masih dikategorikan kurang atau belum mencapai persentasi ketuntasan yang ditentukan, karena siswa yang memperoleh nilai 70 atau lebih hanya sebanyak 8 siswa atau  24%  lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 75%.
B.  Prosedur Tindakan pada Siklus I
            Tabel berikut merupakan waktu pelaksanaan dan pokok bahasan yang diajarkan pada siklus I.
Tabel 4.2 waktu pelaksanaan dan pokok bahasan siklus I
            Pada tindakan siklus I penulis melaksanakan tindakan dengan berkolaborasi dengan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Jangkang yakni Bapak Sacekavianus Kavia. Prosedur yang digunakan dalam penelitian siklus I ini dilakukan dalam empat tahap, yakni perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (Observing), dan refleksi (reflecting). Selanjutnya penelitian tindakan kelas di kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang pada siklus I sebagai berikut :
a.  Perencanaan (Planning).
Tahap perencanaan dilakukan untuk memecahkan permasalahan pada pra tindakan terkait hasil belajar siswa belum mencapai ketuntasan secara klasikal. Ini disebabkan guru terus-menerus ceramah memaparkan materi pembelajaran yang cenderung satu arah dan lebih mendominasi dalam proses pembelajaran. Akibatnya siswa cenderung malas mendengarkan penjelasan guru. Perencanaan siklus I dilaksanakan hari Senin, tanggal 13 November 2017. Sebelum membuat perencanaan , penulis melakukan diskusi dengan guru Bahasa Indonesia sebagai observer mengenai pembelajaran Bahasa Indonesia yang akan menggunakan teknik TPS. Setelah sepakat maka peneliti dan guru bersama-sama membuat rencana pembelajaran (RPP), menyususun bahan ajar/ materi, mempersiapkan media atlas, dan menyusun instrument penilaian. Selain rencana pembelajaran, penulis dan observer menyiapkan pedoman observasi yang akan digunakan dalam mengamati kegiatan pembelajaran pada saat melaksanakan pembelajaran menggunakan teknik TPS. Pedoman-pedoman observasi yang dipersiapkan sebagai berikut : 1) Pedoman observasi kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. 2) Pedoman observasi keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran terutama dengan menggunakan teknik TPS. 
b.  Pelaksanaan (Acting)      
Tindakan siklus I dilaksanakan pada hari  Selasa  tanggal 14 November 2017 pada pukul  09.15 sampai 10.35 WIB dengan alokasi waktu yang digunakan 2 x 40 menit. Tindakan ini merupakan pelaksanaan perencanaan pembelajaran yang sudah direncanakan. Tindakan pelaksanaan yang dilakukan secara garis besar adalah pembelajaran dengan menerapkan/menggunakan teknik TPS  untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pada tahap ini, dilakukan dalam tiga tahap proses belajar mengajar, yaitu apersepsi, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi. Pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan sebagai berikut : a) Kegiatan Pembelajaran I. Kegiatan Pembelajaran yang I membahas tentang  teks drama dan novel (unsur intrinsik teks drama), yang dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 14 November 2017 pukul 09.15 sampai 10.35 WIB. b) Kegiatan Pembelajaran II. Kegiatan pembelajaran pada pertemuan II ini membahas tentang Pengidentifikasian unsur intrinsik teks drama. Pertemuan II ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 17 November 2017, mulai pukul 09.15 sampai 10.35 WIB.
c.     Pengamatan (Observing).
Pengamatan hasil siklus I, dalam proses  pengamatan yang dilakukan oleh penulis dan observer, yang mengamati kejadian-kejadian selama proses pembelajaran yang telah dilaksanakan  dengan panduan obsevarsi yang telah disiapkan baik untuk siswa maupun untuk guru.    Pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran, bahwa pengorganisasian materi ajar ( keruntutan, sistematika materi dan kesesuaian dengan alokasi waktu) sudah menunjukkan perubahan ke yang lebih baik, karena pelaksanaannya lebih baik daripada pra tindakan, tapi langkah-langkah pembelajaran masih membingungkan siswa sehingga siswa belum memahami pelaksanaan pembelajarannya. Pengamatan terhadap  kegiatan belajar siswa,  bahwa siswa sudah mulai memperhatikan penjelasan guru walaupun ada beberapa siswa yang  masih sibuk mengerjakan hal-hal di luar pembelajaran sehingga kurang memperhatikan dan mengamati penjelasan guru. Selain itu respon siswa terhadap proses pembelajaran sudah mulai aktif , sudah mulai timbul keingintahuan lebih dalam terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
              Pengamatan terhadap hasil belajar, berdasarkan hasil tes pada siklus I diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.3 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang

Grafik 4.2 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang

              Berdasarkan perolehan nilai siswa pada siklus I dapat diketahui bahwa telah terdapat peningkatan perolehan hasil belajar siswa kalau dibandingkan dengan perolehan nilai pada pra tindakan, walaupun hanya  54% yang tuntas, dari tabel perolehan nilai pra tindakan yang tuntas hanya  8 siswa, sedangkan pada siklus I dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan yang tuntas sebanyak 18 siswa. Ini membuktikan dengan penerapan teknik TPS dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar siswa, jika dibandingkan dengan penerapan metode konvensional ataupun ceramah, karena hal ini siswa ikut aktif mencari dan menemukan sendiri masalah yang diberikan oleh guru, walaupun peningkatan hasil belajar siswa belum maksimal sesuai yang diharapkan, masih banyak siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM.
d.    Refleksi (Reflecting)
            Kegiatan refleksi  dilakukan hari  Sabtu, 18 November 2017. Pada kegiatan refleksi penulis dan observer menilai hasil pekerjaan siswa pada siklus I. Peneliti dan obsever melaksanakan kegiatan refleksi dengan cara menganalisis hasil pengamatan pada saat penulis melaksanakan tindakan. Adapun hasil refleksi peneliti dan observer sebagai berikut: 1)   Sebelum melakukan kegiatan refleksi, penulis dan observer menilai keaktifan   siswa saat diskusi kelompok pada pembelajaran sebelumnya berdasarkan pedoman penilaian pada tanggal 15 November 2016. Hasil penilaian menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa dalam pembelajaran menggunakan teknik TPS pada siklus I adalah  54% tuntas. 2) Pelaksanaan pembelajaran belum  sesuai dengan alokasi waktu,  ketidaksesuaian alokasi waktu tersebut disebabkan adanya gangguan yaitu ada dua kelompok siswa masih kebingungan. 3)  Siswa yang tidak aktif dalam kelompoknya ada 15 siswa (tiga kelompok pasangan), sedangkan 18  siswa aktif mengikuti pembelajaran mendiskusikan soal pada lembar kerja siswa.
            Berdasarkan hasil refleksi tersebut penulis dan observer dapat menyimpulkan bahwa indikator kinerja siklus I belum tercapai. Oleh karena itu, penulis dan observer sepakat untuk melaksanakan siklus II. Pada siklus II diharapkan dapat memperoleh hasil yang baik. Masalah-masalah pada siklus I dicari pemecahnya, sedangkan kelebihan-kelebihannya dipertahankan dan ditingkatkan.
C.   Prosedur Tindakan pada Siklus II
                     Tabel berikut merupakan waktu pelaksanaan  dan pokok bahasan yang akan diajarkan pada siklus II.
Tabel 4.4  waktu pelaksanaan dan pokok bahasan siklus II

Hasil refleksi, observasi dan penilaian siklus I, siklus II ini kelanjutan dari siklus I, metode yang diterapkan pada siklus II ini sama dengan siklus I yakni masih menggunakan teknik TPS materi yang diajarkan masih kelanjutan dari siklus I, tentang Memahmi teks drama dan novel remaja. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I akan diperbaiki pada pelaksanaan siklus II, dengan langkah-langkah yang sama dengan siklus I yakni perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observing), dan refleksi (reflection).
a.    Perencanaan (planning).
            Pelaksanaan siklus II ini juga penulis masih berkolaborasi dengan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang mengajar di SMP Negeri 2 Jangkang, yakni bapak Sacekavianus Kavia. Perencanaan pada siklus II ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 20 November  2017, setelah ada kata sepakat, penulis dan guru kolaborator bersama-sama membicarakan bagaimana teknis pelaksanaan proses belajar mengajar. Tahap perencanaan dilakukan upaya memecahkan permasalahan  pada refleksi siklus I terkait hasil belajar siswa yang belum mencapai indikator keberhasilan. Selain itu juga proses pembelajaran yang dilaksanakan belum dikatakan berhasil, maka dilakukan perencanaan tindakan siklus II dengan memperhatikan kekurangan pada tindakan siklus I. Setelah sepakat penulis dan guru bersama-sama membuat rencana pembelajaran (RPP), menyususun bahan ajar/ materi, mempersiapkan media dan menyusun instrument penilaian.
            Penulis dan observer menyiapkan pedoman observasi yang akan digunakan dalam mengamati kegiatan pembelajaran pada saat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan teknik TPS. Pedoman-pedoman observasi yang dipersiapkan sebagai berikut : 1)  Pedoman observasi kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. 2)  Pedoman observasi keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran.
b.    Pelaksanaan tindakan (action).
            Pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan sebagai berikut :a) Kegiatan Pembelajaran I. Pada kegiatan pembelajaran yang I ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 21 November 20176, pada pukul 09.15 sampai 10.35 WIB yang akan membahas materi tentang membuat sinopsis no­vel remaja Indonesia. B) Kegiatan Pembelajaran II. Pada kegiatan pembelajaran II ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 23 November 2017, pada pukul 07.00 sampai 08.20 WIB yang membahas materi tentang membuat sinopsis novel remaja.
c.     Pengamatan (Observing)
            Dalam pengamatan pada siklus II penulis sekaligus guru mata pelajaran Bahasa Indonesia mengamati proses pembelajaran bersama guru observer, mengamati kejadian selama proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan panduan observasi yang disiapkan untuk siswa maupun guru. Dari pengamatan observer (kolaborator), bahwa pelaksanaan pembelajaran pada siklus II sudah meningkat, guru selaku penulis telah memperbaiki kekurangan yang terjadi pada siklus I, pengorganisasian materi ajar sudah baik, kejelasan skenario pembelajaran sudah baik. Penjelasan guru mengenai indikator pembelajaran yang ingin dicapai sudah dijelaskan secara maksimal dan sudah baik dalam mengembangkan materi ajar sehingga materi yang disampaikan  tersebut mudah dipahami oleh siswa.  Siswa tidak kebingungan karena sudah dua kali diterapkan teknik TPS kondisi kelas sudah kondusif. Siswa sudah memanfaatkan sumber belajar lainnya  seperti buku mata pelajaran Bahasa Indonesia yang lainnya yang berkaitan dengan materi yang dipelajari yang ada di perpustakaan..
             Memperhatikan hasil siklus II menunjukkan keberhasilan penelitian tindakan kelas yang di lakukan di kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang seperti pada data berikut:
Tabel 4.3 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang


Grafik 4.3 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang


d.   Refleksi ( Reflecting)
              Refleksi merupakan suatu bentuk perenungan yang mendalam dan lengkap atas apa yang telah terjadi. Refleksi akhir siklus merupakan pengungkapan atau mencari jalan keluar dari permasalahan yang terdapat dalam proses pembelajaran. Pada pengamatan terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran dimana pengorganisasian materi ajar, skenario pembelajaran, indikator pembelajaran dan pengembangan materi ajar terlaksana dengan baik, selain itu aktifitas siswa dalam proses pembelajaran di kelas sudah mengalami peningkatan, serta nilai tes menunjukkan persentase pencapaian hasil yang sudah  maksimal, serta  indikator keberhasilan dalam penelitian.    Berdasarkan hasil refleksi di siklus II menunjukkan tercapainya indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang terutama mengenai ketuntasan hasil belajar. Memperhatikan seluruh aspek pengamatan dan hasil refleksi siklus II, peneliti sekaligus guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan guru kolaborator/observer menyimpulkan bahwa indikator pelaksanaan penelitian yang sudah tercapai.
D.   Pembahasan
1.    Pra Tindakan
            Pelaksanaan pembelajaran awal pra tindakan belum sesuai dengan rencana, disebabkan sebagian siswa mengalami tingkat kebosanan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah, diketahui bahwa pelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang banyak pemahaman sehingga membuat mereka bosan sehingga tujuan pembelajaran pun belum tercapai, yang berdampak pada hasil belajar . Hasil belajar merupakan tingkat penguasaan yang telah dicapai setelah mengikuti pelajaran dengan tujuan yang telah ditetapkan. Purwanto ( 2011 : 25 ) mengemukakan bahwa yang dimaksud dngan hasil belajar adalah sesuatu yang telah dicapai dari apa yang telah dilakukan. Sejalan dengan pendapat Lunandi, (1984 : 57) mengemukakan bahwa hasil belajar di sekolah formal dapat diadakan melalui ulangan-ulangan, ujian-ujian. Sedangkan menurut Roestyah (2003 : 89) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah merupakan nilai keberhasilan siswa dalam kelas setelah mengalami evaluasi. Dengan demikian hasil belajar dapat di ukur melalui nilai berupa angka yang didapat dari soal tes, dalam penelitian ini soal tes untuk mengukur berhasil tidaknya proses pembelajaran menggunakan tes uraian, yang terdiri dari 3 soal pada siklus I dan 2 soal pada siklus II.
            Pada pra tindakan guru memperoleh kesimpulan bahwa siswa dalam pembelajaran menggunakan metode ceramah membuat suasana pembelajaran yang monoton, siswa bosan, dan perhatian siswa terhadap penjelasan guru kurang diserap, karena beberapa siswa sibuk dengan kegiatannya di kelas, seperti melamun dan mencoret-coret kertas dan lain-lain. Kondisi seperti tersebut berdampak pada hasil belajar yang diperoleh, dapat kita lihat pada hasil evaluasi  pra tindakan yang berkaitan dengan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran masih dikategorikan kurang.
2.    Hasil Penelitian Siklus I
              Pelaksanaan pembelajaran siklus I belum  sesuai dengan rencana, hal ini dikarenakan sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar dengan teknik TPS. Suasana yang baru membuat mereka perlu perhatian khusus. Dalam proses pembelajaran masih ada siswa yang belum mengerti arti pembelajaran yang disampaikan, karena perhatian yang kurang fokus terhadap informasi yang didapat. Pada siklus I ini penguasaan materi oleh siswa sudah mencapai kategori cukup dengan perolehan rata-rata nilai pada saat tes ulangan tertulis adalah 65,2%. Siswa yang mengalami ketuntasan/ sesuai dengan KKM sebanyak 18 siswa, sedangkan 15 siswa belum mencapai ketuntasan. Siklus I ini terdapat beberapa kekurangan-kekurangan yang akan diperbaiki pada saat pelaksanaan siklus II, baik tentang proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti ataupun belajar siswa.
3.    Hasil Penelitian Siklus II
            Pelaksanaan pembelajaran siklus II sudah sesuai dengan rencana, kekurangan-kekurangan yang dialami pada siklus I sudah diperbaiki, pada siklus II ini penguasaan materi oleh siswa sudah dikategorikan baik dengan perolehan nilai rata-rata 77,4%, siswa yang mengalami ketuntasan mencapai 27 siswa, sedangkan 6 orang siswa akan dilakukan remedial. Pada pembahasan ini diuraikan hasil penelitian tentang peningkatan hasil belajar siswa menggunakan teknik TPS  di kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang. Setelah menggunakan teknik TPS   pada tindakan siklus I dan siklus II terdapat peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII A, hal ini dikarenakan dengan menggunakan teknik TPS  lebih memudahkan siswa dalam memahami materi yang diajarkan oleh guru. Penggunaan teknik TPS  dapat meningkatkan hasil belajar siswa , ini terbukti dengan peningkatan persentase hasil belajar, keaktifan siswa dalam pembelajaran pada siklus I dan siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari naiknya rata-rata kelas dari pra siklus sebesar 53,6% kemudian siklus I sebesar 65,2% dan pada siklus II terdapat peningkatan sebesar 77,4% dengan jumlah siswa mencapai KKM ≥ 70 , pada pra siklus sebanyak 8 orang siswa, siklus I sebanyak 18 orang siswa dan siklus II sebanyak 27 orang siswa . Persentase ketuntasan pada pra siklus 24%, siklus I 54% dan sikus II 81%, sehingga pada akhir siklus II sudah mencapai kriteria ketuntasan 75% dan mencapai lebih dari KKM ≥ 70 dan yang belum mencapai KKM ada 6 orang siswa akan diberikan remedial lagi supaya bisa mencapai ketuntasan KKM seperti apa yang diharapkan.
Grafik 4.4: Nilai Rata-Rata Hasil Belajar Siswa


Grafik 4.5 : Hasil Ketuntasan Belajar Siswa

              Berdasarkan hasil pengamatan kegiatan siswa pada pra tindakan, siswa masih kurang aktif. Keaktifan siswa belum Nampak, hal ini disebabkan karena proses pembelajaran masih didominasi oleh guru, sehingga banyak siswa yang merasa bosan, guru belum menggunakan metode/teknik yang menarik siswa untuk lebih aktif, namun setelah pelaksanaan siklus I, guru telah menggunakan teknik TPS, siswa mulai kelihatan aktif dalam pembelajaran walupun masih canggung dan kaku karena belum terbiasa. Siswa sudah mulai mau bertanya ataupun mulai mau menjawab pertanyaan walaupun belum sempurna/ tepat.
              Didasarkan atas hasil yang diperoleh dari pra tindakan, siklus I dan siklus II baik dalam proses pembelajaran ataupun keaktifan siswa dan dalam hasil belajar siswa, bahwa dengan menggunakan teknik TPS dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia terdapat peningkatan hasil yang sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, dengan menggunakan teknik TPS dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia sangat cocok untuk digunakan.

KESIMPULAN
            Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan serta paparan  pada hasil penelitian dan pembahasan, maka disimpulkan bahwa penelitian tentang upaya peningkatan hasil belajar dengan menggunakan teknik TPS  dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia  di kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang meningkat. Teknik TPS   ini digunakan setiap kali pertemuan dalam siklus I ataupun siklus II, dan dari siklus I dan siklus II masing-masing siklus dilakukan sebanyak dua kali pertemuan telah menunjukkan hasil yang memuaskan. Diketahui bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang, dari persentase perolehan hasil belajar siswa, pra tindakan 24% , yaitu 8 siswa memperoleh nilai sesuai atau lebih dari KKM, sedang 76%, yaitu 25 siswa memperoleh nilai di bawah KKM.
            Secara khusus disimpukan sebagai berikut:
1.    Pada siklus I terdapat peningkatan nilai hasil belajar yaitu 18 siswa atau 54% yang memperoleh nilai di atas atau sama dengan KKM, sedang 15 siswa atau 46% , nilainya masih dibawah KKM.
2.    Sedangkan pada siklus II diperoleh nilai belajar siswa lebih meningkat yaitu 27 siswa atau 81% memperoleh nilai di atas atau sama dengan KKM, sedangkan 6 siswa atau 19% memperoleh nilai masih dibawah KKM. Jadi peningkatan hasil belajar siswa dari pra tindakan kemudian pelaksanaan siklus I terdapat peningkatan 30%, dan setelah pelaksanaan siklus II terdapat peningkatan 27%.

DAFTAR PUSTAKA
Asmara, Urai Husna. (2007). Penulisan Karya Ilmiah. Pontianak: Fahruna Bahagia.
Erthy, Margaretha. (2014) Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Pada Materi Limas Ditinjau Dari Aktivitas Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Tayan Hulu. IKIP –PGRI Pontianak : Tidak diterbitkan.
Departemen Pendidikan Nasioanal, (2001): Kamus Besar Bahasa Indonesia.  Jakarta:      Balai Pustaka.
Dimyati dan Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Hasan,Iqbal (2004). Analisis Data Penelitian Dengan Ststistik. Jakarta : Bumi Aksara
Ibrahim, Muslimin, dkk. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University Press.
Kodir,Abdul. (2010). Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia.
Lie, Anita. (2004). Cooperative Learning : PT . Gramedia Widiasarana Indonesia.
Lunandi, A.G. (1984). Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Media Pustaka.
Moh. User Usman dan Lilis Setiawati, (2001). Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Nawawi, Hadari. (2005). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gajahmada University Press.
Nurhasan. (2001). Tes Dan Pengukuran Dalam Pendidikan Jasmani. DepDikBud : Jakarta.
Prayitno. (2009). Dasar Teori dan Praktis Pendidikan. Bandung : Grasindo.
Prihatin, Eka. (2008). Guru Sebagai Fasilitator. Bandung: PT Karsa Mandiri Persada.
Purwanto, (1990). Psikologi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
…………, (2011). Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Roestyah, N.K. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: PT Rafika Aditama.
Saud, U.S dan Makmus A.S (2009). Perencanaan Pendidikan. (cet. IV). Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Sudjana, Nana. (2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (cet.XV). Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung Alfabeta.
Suprijono, Agus. (2009). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.      Yogyakarta : Pustaka Belajar.
Surakhmad, Winarno (1980). Interaksi Belajar Mengajar. Bandung : Jemmars.
Trianto (2007), Model-model Pembelajaran Inovatif berorientasi konsturktivikasi, Jakarta : Prestasi Pustaka Raya.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20. (2003). Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.
Yana Wardana. (2010). Teori Belajar dan Mengajar. Bandung : PT Pribumi Mekar.
Zuldafrial.(2012). Penelitian Kuantitatif Yogyakarta : Melia Perkasa.


Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *