Anisa Rahmi Tania: Palestina dan Kebangkitan Umat Islam

Redaksi
Mei 08, 2026 | Mei 08, 2026 WIB Last Updated 2026-05-08T01:48:00Z
Jakarta,detiksatu.com || Melihat penindasan yang kejam, hati nurani mana yang tidak meronta. Saat itulah seseorang akan berpikir dan bergerak untuk mencoba mencari jalan dalam memberikan kontribusi.


Inilah yang dilakukan oleh para aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla. Ratusan aktivis yang berasal dari berbagai negara bergabung membentuk sebuah gerakan

Mereka bertekad menembus blokade Israel dan menuju Gaza demi menyalurkan bantuan kepada warga di sana. Ini murni gerakan kemanusiaan tanpa embel-embel politik atau militer.

Sumber:Anisa Rahmi Tania
, Ibu Rumah Tangga
 tinggal di Sumedang.
Mereka berangkat dari Barcelona, Spanyol, pada pertengahan April. Akan tetapi, mirisnya di tengah perjalanan saat mereka baru sampai di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, Israel menyergap perahu-perahu tersebut.



Sekitar 180 aktivis diculik, mereka mendapatkan tindakan kekerasan dan perilaku tidak pantas. Kabarnya sekitar 178 telah dibebaskan kembali, namun dua aktivis yang merupakan warga negara Spanyol dan Brasil tetapi memiliki keturunan Palestina masih ditahan.

Mereka adalah Saif Abukeshek dan Thiago Avila yang kabarnya dipindahkan ke Penjara Shikma di Ashkelon, Utara Gaza (republika.co.id, 4/5/2026). Hadirnya para aktivis menunjukkan kegigihan dari sosok yang bahkan tidak dikenal namun rela berkorban.


Mereka menjadi saudara yang hadir untuk mengulurkan tangan, meski tidak banyak yang bisa diberikan. Akan tetapi, warga Palestina melihat mereka berusaha untuk datang meski dihadang Zionis Israel.

Pertanyaannya, lantas di mana hati nurani para penguasa muslim? Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Turki, Yaman, dan lain-lain seharusnya tidak hanya diam.


Tidakkah mereka sedikit terenyuh untuk mengakhiri penderitaan saudara mereka di Palestina? Kemampuan mereka dipastikan melebihi para aktivis kemanusiaan ini.


Iran telah memperlihatkan betapa Amerika Serikat pun tidak mampu menghadapi Iran. AS kewalahan hingga menyeru negara-negara di Eropa untuk membantunya menyerang Iran.

Maka, tidak perlu dipertanyakan seberapa kuat jika seluruh negara di Timur Tengah bersatu melawan Zionis Israel untuk mengusir mereka sepenuhnya dari tanah Palestina. Tidak usah menunggu berbulan-bulan atau berminggu, cukup sehari bahkan satu jam mereka bisa selesaikan misi tersebut.


Akan tetapi, nyatanya berharap bantuan militer dari penguasa muslim bak pungguk merindukan bulan. Negara-negara dengan kekuatan militer dahsyat tidak mengeluarkan sedikit pun kekuatan mereka.

Mereka bersikap merendah dan lemah di hadapan musuh. Untuk menutupi aib keserakahan mereka, tindakan mereka tidak lebih dari sekadar mengecam dan mengkritik dengan keras.

Sungguh itu adalah aib keserakahan mereka karena tidak mau sedikit pun merugi atas usaha pembelaannya terhadap saudara seiman mereka. Keputusan mereka selalu kembali lagi pada kalkulasi untung rugi.

Kepentingan mereka selalu kembali lagi pada batas-batas negara. Selama bukan negara mereka yang diserang, maka mereka tidak akan menyerang.

Persis sebagaimana yang terjadi pada Iran belakangan ini. Inilah penampakan nyata dari efek samping nation state, yakni paham nasionalisme.

Paham ini sungguh telah mengubur status saudara seiman dan seakidah. Paham ini pula yang akhirnya menjadikan umat Islam seperti buih di lautan, sebagaimana sabda Rasulullah saw. berabad-abad silam.

Di tengah kondisi warga Palestina yang semakin mengenaskan, seharusnya umat kembali bangkit. Warga Palestina pada akhirnya akan meninggal bukan hanya karena serangan, tetapi karena kelaparan, minimnya obat-obatan, dan penyakit lainnya yang menyerang.


Maka, tidak ada kata lain untuk umat Islam selain berjuang untuk bangkit. Mereka harus bangkit dari pemikiran dan bangkit dari perasaan persatuan.


Kebangkitan tersebut bukan sebatas bangkit rasa kemanusiaannya saja. Melihat kondisi Palestina hari ini, umat lain pun telah sama-sama bangkit rasa kemanusiaannya.

Maka, umat Islam harus lebih dari itu karena kebangkitan pemikiran adalah hal yang utama. Hal ini dikarenakan pemikiran akan mengubah pola sikap umat.

Kebangkitan perasaan persatuan pun akan mengubah kebutuhan umat. Umat akan menyadari pentingnya persatuan dalam satu kepemimpinan.


Umat akan kembali membuka sejarah dan mulai bergerak untuk mengembalikan kehidupan Islam. Ketika pemikiran dan perasaan tersebut telah tumbuh, maka kepentingannya kelak bukan hanya untuk Palestina namun untuk seluruh umat manusia.

Oleh karena itu, inilah saatnya untuk kembali menyuarakan kebangkitan umat Islam. Hal ini termasuk menyeru pada penguasa dan seluruh level masyarakat.

Sebagaimana Rasulullah saw. telah memberikan suri teladan dalam perjuangan kebangkitan umat. Wallahu’alam.[]

Sumber:Anisa Rahmi Tania, 
Ibu Rumah Tangga 
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Anisa Rahmi Tania: Palestina dan Kebangkitan Umat Islam

Trending Now