TEHERAN,DETIKSATU.COM || Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, mengeluarkan pernyataan keras yang ditujukan kepada negara-negara Arab dan Muslim. Ia menyerukan para pemimpin negara Muslim untuk tidak mempercayai ilusi kekuatan Amerika Serikat dan bersatu melawan apa yang disebutnya sebagai "kemunafikan" yang dipimpin oleh AS dan Israel.
"Jangan percaya pada apa yang disebut kekuatan Amerika Serikat. Amerika bahkan tidak mampu membela tentara mereka sendiri yang lemah, apalagi keamanan negara-negara Muslim dan kawasan ini," kata Shekarchi pada hari Sabtu, 14 Maret 2026, seperti dilansir Press TV.
Ia menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah berhasil melumpuhkan kapal perang AS, USS Abraham Lincoln, yang dulunya namanya ditakuti dan digunakan untuk memfasilitasi penjarahan sumber daya negara-negara Muslim. Menurutnya, kapal tersebut kini telah mundur dalam kekalahan bersejarah.
Shekarchi juga mencatat bahwa semua pangkalan AS di kawasan, yang dibangun selama beberapa dekade dengan sumber daya negara Muslim dengan dalih keamanan, kini telah hancur dalam operasi pembalasan Iran. "Yang tidak dapat dibangun kembali adalah kredibilitas AS, kekuatan mereka yang hampa, dan militernya yang kalah, di samping ketidakberdayaan rezim Israel," tegasnya.
Pernyataan ini merujuk pada eskalasi konflik terbaru. Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, dan sejumlah komandan tinggi. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal dan drone bertubi-tubi ke wilayah pendudukan Israel dan pangkalan-pangkalan AS di kawasan.
Dalam perkembangan terpisah, Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Ebrahim Zolfaghari, mengeluarkan peringatan keras kepada Uni Emirat Arab (UEA). Ia mengumumkan bahwa Iran menganggapnya sebagai hak sah untuk menargetkan asal peluncuran rudal AS yang kini diduga bersembunyi di beberapa kota di UEA.
Zolfaghari menjelaskan bahwa militer AS, setelah menderita kerugian besar di pangkalan regionalnya, mulai meluncurkan rudal dari pelabuhan, dermaga, dan tempat persembunyian di dalam wilayah perkotaan UEA untuk menyerang Pulau Abu Musa dan sebagian Pulau Kharg milik Iran.
"Kami memperingatkan kepemimpinan UEA bahwa Republik Islam Iran memandang sebagai hak sahnya untuk menyerang asal peluncuran rudal Amerika—yang disembunyikan di pelabuhan, dermaga, dan tempat perlindungan di bawah kedok kota-kota Emirat—untuk membela kedaulatan nasionalnya," tegas Zolfaghari.
Ia pun mendesak warga sipil UEA untuk mengevakuasi daerah-daerah di dekat pelabuhan, dermaga, dan lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian pasukan Amerika guna menghindari bahaya saat serangan balasan Iran dilancarkan.
*Dampak Regional: Ketakutan akan Perang Terbuka*
Pernyataan keras dari Teheran ini langsung mengirimkan gelombang ke seluruh kawasan Teluk. Negara-negara Teluk lainnya, termasuk Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar, dilaporkan mengadakan pertemuan darurat untuk membahas implikasi keamanan dari ancaman Iran terhadap UEA.
"Situasi ini sangat berbahaya," kata Dr. Amina Al-Jassim, analis geopolitik dari Universitas Qatar. "Untuk pertama kalinya, Iran secara eksplisit mengancam akan menyerang target di wilayah negara Teluk, meskipun dengan alasan target AS. Ini mengaburkan batas antara konflik Iran-AS dan keamanan negara-negara Teluk itu sendiri."
Kekhawatiran utama negara-negara Teluk adalah kemungkinan mereka terseret ke dalam perang penuh yang bukan pilihan mereka. Jika Iran benar-benar meluncurkan serangan ke wilayah UEA, negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC) akan berada dalam posisi yang sulit: membela sekutu mereka (UEA) dan berisiko memicu perang regional, atau tetap diam dan kehilangan kredibilitas.
Reaksi Internasional: PBB dan Negara-negara Besar Angkat Bicara

