Bernegosiasi Dengan Iran Ketimbang Dibawah Amerika, Upaya. Dunia Menjamin Suplai Energi

Redaksi
Maret 22, 2026 | Maret 22, 2026 WIB Last Updated 2026-03-22T12:17:17Z
Jakarta,detiksatu.com || Iran, membuka ruang diplomasi baru dengan mengirimkan bantuan pengawalan kapal jepang untuk melewati selat Hormouz. Langkah Iran ini, tentu saja menampar muka Amerika.

Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, Amerika merengek meminta bantuan sejumlah Negara untuk mengirimkan kapal perang, termasuk kepada Jepang. Pilihan politik Jepang, yang mengambil opsi merapat secara diplomasi ke Iran ketimbang melayani cara 'koboi' Amerika untuk membuka paksa blokade selat Hormouz, mengkonfirmasi beberapa hal:

*Pertama,* wibawa Amerika telah jatuh di mata dunia, bahkan dimata sejumlah Negara yang selama ini menjadi 'Negara Satelit' yang mengikuti Obit Amerika. Sebagaimana diketahui, seruan untuk mengirim kapal perang ke selat Hormouz oleh Amerika telah ditolak oleh Inggris, Perancis, Jerman, China, Rusia, Korea Selatan dan Jepang.

Untuk penolakan Inggris, Perancis, Jerman, China dan Rusia, masih bisa dipahami karena 4 negara besar ini merupakan Negara rival Amerika. Dalam perspektif kepentingan nasional, mereka menyukai pelemahan Amerika dan berharap mengambil alih kendali dunia dari Amerika, atau setidaknya lebih memiliki potensi untuk mendapatkan banyak sumber daya dunia yang selama ini dimonopoli oleh Amerika.

Kekalahan Amerika, atau setidaknya melemahnya Amerika atas Iran, menguntungkan kepentingan nasional Inggris, Perancis, Jerman, China dan Rusia. Sehingga, saat Amerika meminta bantuan kapal perang untuk membuka selat Hormouz, hal itu menjadi bukti Amerika telah melemah.

Mereka, hanya perlu memukul secara pasif dengan menolak permintaan Amerika. Argumentasinya juga sangat kuat: Amerika tak pernah berkonsultasi untuk memulai perang dengan Iran, sehingga mereka tak merasa punya tanggungjawab atas pelemahan Amerika dalam perang melawan Iran. Amerika memulai sendiri, maka Amerika lah yang harus menyelesaikannya sendiri.

Akan tetapi, untuk Korea Selatan dan Jepang, adalah dua negara yang murni menjadi satelit dan mengikuti orbit Amerika. Kebijakan politik luar negeri Korea Selatan dan Jepang selalu mengikuti Khittah kebijakan luar negeri Amerika.

Karena itu, penolakan jepang atas ajakan Amerika, diikuti diplomasi jepang untuk menembus selat Hormouz dengan bernegosiasi dengan Iran, menunjukan Amerika tidak saja sudah dipandang lemah oleh musuh melainkan juga dipandang lemah oleh mitra strategis.

Jepang telah mengkalkulasi, kebijakan diplomasi dengan Iran lebih berbiaya murah, minim resiko dan lebih menjamin keamanan pasukan energi Jepang yang mayoritas melalui selat Hormouz, ketimbang mengambil cara koboi ala Amerika dengan mengirimkan kapal perang ke selat Hormouz.

Tindakan Jepang ini lebih realistis, ketimbang mengikuti syahwat perang Donald Trump. Kemungkinan besar, akan banyak negara mengikuti Jepang, bernegosiasi dengan Iran untuk mengamankan rantai pasokan energi mereka, ketimbang ikut berperang bersama Amerika.

*Kedua,* pemaksaan kendali atas dunia dengan pendekatan unipolar melalui jalur 'hard power' ala Amerika, melalui serangan Amerika terhadap Iran (sebelumnya menculik presiden Venezuela dan ingin merebut Greenland), justru memaksa era baru multipolar yang melibatkan lebih banyak peran negara untuk mengatur dunia. Dalam hal ini Iran memiliki peran strategis sebagai pemain baru, karena memiliki kontrol terhadap selat Hormouz. Apabila Iran dan Yaman, membentuk poros malaikat untuk melawan poros iblis Amerika dan zionis, maka kontrol Iran dan Yaman atas selat Hormouz dan selat Bab El Mandeb di laut merah, akan memaksa dunia untuk ikut permainan Iran dan Yaman ketimbang mengikuti gaya koboi Amerika.

Amerika tak lagi menjadi raja lautan, sehingga Amerika akan kehilangan banyak upeti (japrem) dari jasa pengamanan jalur pelayaran internasional sebagai jaminan atas premi asuransi pelayaran, termasuk kehilangan kontrol dan kendali atas arus dan distribusi barang, baik bahan baku maupun produk industri, khususunya kontrol energi (minyak dan gas) di wilayah Timur Tengah. 

Sebagai preman dunia internasional, jasa pengamanan Amerika tak lagi dibutuhkan. Karena uang japrem yang dibayarkan, tak dapat memberikan jaminan keselamatan pelayaran.

Sebaliknya, Iran dan Yaman dapat memanfaatkan kendali atas dua selat strategis (Hormouz dan laut merah) untuk menguatkan ekonomi dalam negeri dan menata ekonomi kawasan, dimana Iran dan Yaman berhak atas pengambilan usyur (pajak/bea melintas), bagi setiap kapal yang melewati dua selat tersebut.

*Ketiga,* posisi strategis Iran dan Yaman, kemampuan militer Iran dan Yaman, termasuk kekayaan energi (minyak dan gas) dua negeri ini, jika digabungkan dengan kesadaran politik Islam yang tinggi, dukungan umat Islam untuk menyatukan umat dalam naungan satu panji Islam, menjadikan dua negeri Islam ini layak menjadi titik tolak berdirinya Daulah Khilafah.

Jaminan keamanan ditangan kaum muslimin, jaminan penerapan Islam secara kaffah, yang potensial dijaga dan dikendalikan oleh Iran dan Yaman, dapat didorong agar dua negeri ini mengadopsi konstitusi Islam lalu membaiat seorang Khalifah, untuk didengar dan ditaati, untuk menerapkan Islam dan mengemban risalah Islam keseluruh pejuru alam. [].
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bernegosiasi Dengan Iran Ketimbang Dibawah Amerika, Upaya. Dunia Menjamin Suplai Energi

Trending Now