Ferdinand Bantah Berita Yang Menyudtkan Dirinya Melakukan Aksi Penganiayaan Terhadap Seorang Kepala Desa di Nagekeo

Redaksi
Maret 17, 2026 | Maret 17, 2026 WIB Last Updated 2026-03-17T05:57:35Z
NAGEKEO, DETIKSATU.COM || Ferdinandus Dhosa yang kerap di sapa Ferdin angkat bicara terkait pemberitaan yang beredar di media Online WARTAGLOBAL.ID yang menyudutkan dirinya melakukan aksi penganiayaan brutal terhadap Kepala Desa Labolewa (Valens Nusa) dan seorang warga (Tobias Dega) di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, pada Sabtu (14/03/2026).

Saat di konfirmasi Ferdinand menegaskan informasi tersebut tidak benar. Ia mengatakan saya tidak pernah main hakim sendiri apalagi menganiaya seperti dalam pemberitaan media WARTAGLOBAL.ID, berita itu terlalu berlebihan.

"Dikutip dari media WartaGlobal, saya di pukul sampai jatuh, diinjak-injak di sawah. Itu semua tidak benar. Dan waktu itu ada saksi juga, mereka pasti tahu apa yang saya lakukan di lokasi. Saya mengambil parangnya bukan untuk mengancam dirinya, tetapi untuk membela perut sapi di dalam ususnya ada padi atau tidak. Kalau di dalam ususnya tidak ada padi,saya siap untuk mengganti sapi Om Thobias dua ekor. Tapi kalau didalam ususnya ada padi, Om Thobias harus bertanggung jawab atas kerusakan tanaman ini. Dan akhirnya Thobias pun mengaku,” tegas Ferdinand dengan nada keras.


Berdasarkan informasi yang diperoleh dari media Detik satu.com meliputi :

1. Hampir setiap malam sapi merusak tanaman padi Ferdinand di Pomabala.

2. Ferdinand kemudian berinisiatif membuat perangkap Sapi untuk mengetahui siapa pemiliknya.

3. Pada Sabtu (14/03/2026) dini hari Sapi yang sering merusak tanaman padi Ferdinand masuk kedalam perangkapnya.

4. Ferdinand kemudian memanggil Om Thobias di rumahnya dan mengajaknya untuk melihat Sapi tersebut dan tanaman padi yang sudah di makan sapi.

5. Thobias pun mengakui bahwa sapi tersebut adalah miliknya.

6. Adapun Sapi lainnya milik Valens Nusa yang notabenenya seorang Kepala Desa Labolewa masuk dalam perangkap Ferdinand.

Di lokasi kejadian Ferdinand pun menegaskan sebagai seorang kepala Desa harus menjadi panutan untuk warga tidak boleh di biarkan ternak berkeliaran merusak tanaman petani.

"Apalagi sudah ada Perda, tolong jalankan regulasi itu, agar warga bisa menertibkan ternak disaat musim hujan (musim dimana petani mulai bercocok tanam). Pinta Ferdinand.


Selain itu, Ferdinand mengatakan cukup kecewa dan emosi. Ternyata Sapi yang berkeliaran selama ini dan merusak tanaman padinya adalah milik seorang Kepala Desa. Seharusnya sebagai pejabat publik harus menjadi contoh dan teladan untuk warganya.

"Saya sarankan lebih baik Om Valens dan Om Thobias jual saja sapinya biar bisa beli pupuk, obat, dan bayar uang sekolah anak-anak. Dari pada mati kena perangkap dan obat beracun, kalau tidak mau jual ikat saja,"ujarnya.

Setelah itu Ia menambahkan Saya tidak memberikan sanksi apapun terhadap pemilik ternak atau minta ganti rugi. Saya hanya minta Thobias tolong bawakan saya anak ayam satu ekor dan kelapa merah untuk saya lakukan ritual adat (Keta Ja).


Karena tanaman padi saya sudah rusak baik itu secara sengaja maupun tidak sengaja, kita harus meminta maaf dengan cara tradisi budaya yang sudah di wariskan dari nenek moyang kita, supaya keringat hasil jerih payah yang kita kerjakan tidak sia-sia dan bisa memperoleh hasil yang memuaskan.

Thobias kemudian setuju dan bersedia memenuhi permintaan Ferdinand untuk melakukan ritual adat bersama di lokasi kejadian.

Ferdinand kemudian mengajak Om Thobias ke pondok miliknya menunggu sampai sore untuk melakukan ritual bersama.

"Saya pikir di antara saya dan Om Thobias sudah tidak ada masalah lagi. Dan kami berdua sudah saling memaafkan,"kata Ferdinand.

Ferdinand menilai pemberitaan tersebut tidak seimbang dan tidak sesuai fakta. Sekarang malah saya yang disalahkan, padahal saya ini korban. Padi saya di makan ternak, dan itu semua saya ikhlas. 
  

"Tolong jangan sampai berita itu hanya untuk memprovokasi dan memperkeruh masalah. Yang sebenarnya diantara kami sudah ada perdamaian,"ujarnya.

Dan Sapi Valens Nusa ini bukan baru kali ini saja yang merusak tanaman padi petani. Melainkan dari tahun-tahun sebelumnya, kejadian yang sama merusak tanaman padi Kakak kandungnya sendiri. 

"Sampai sapinya mati enam ekor, itu Kakak kandungnya sendiri yang meracuni sapinya. Tapi saya tidak mau lakukan hal seperti itu, bukan ternak yang salah melainkan tuannya yang harus tertib ternak yang berkeliaran agar tidak merusak tanaman padi petani lainnya.


Lebih lanjut, Ferdinand juga mengatakan Wartawan dari media GlobalWarta.Id (Gebi Rata) itu adalah adik kandung dari Kepala Desa Labolewa (Valens Nusa).

"Makanya saya melihat berita tersebut sepihak saja. Kalau saudara menjalankan profesi sebagai seorang jurnalis alangkah baiknya lebih profesional dalam pembuatan berita dan harus berdasarkan fakta di lapangan,"ujarnya.

Ferdinand berharap sebagai seorang jurnalis harus memeriksa keaslian informasi (verifikasi), berimbang dan tidak menuduh tanpa dasar untuk mejaga profesionalisme.

"Profesionalisme seorang jurnalis sangat bergantung pada kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik yaitu mencari berita secara jujur dan berimbang,"pungkasnya.
Reporter: Stef
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ferdinand Bantah Berita Yang Menyudtkan Dirinya Melakukan Aksi Penganiayaan Terhadap Seorang Kepala Desa di Nagekeo

Trending Now