Menjadikan Islam Sebagai Benteng Umat Akhir Zaman

Redaksi
Mei 05, 2026 | Mei 05, 2026 WIB Last Updated 2026-05-05T02:21:42Z
Catatan Kajian Ba'da Subuh, Masjid Apartemen Green Park Cengkareng, Jakarta Barat, Ahad, 3 Mei 2026]

Jakarta,detiksatu.com || Sekira pukul 04.00 WIB, penulis telah sampai di Masjid Apartemen Green Park Cengkareng. Sambil menunggu waktu subuh, penulis mengambil wudhu dan mengerjakan sholat Sunnah.

Dua anak penulis yang turut serta, setelah sholat Sunnah terlihat rebahan di shaf belakang. Tiba waktu subuh, penulis minta keduanya kembali mengambil air wudhu, karena posisi tidur yang terlentang (bukan duduk), statusnya membatalkan wudhu. Mengingat posisi ini, tidak bisa mengontrol keluarnya angin dari arah belakang. Berbeda, jika posisi tidur masih dalam keadaan duduk (semi terjaga).

Sejurus kemudian, adzan subuh berkumandang. Selepas sholat subuh, Ustadz Sujarwo mengantarkan kajian dan membuka kajian. Diawali dengan pemaparan dan dilanjutkan dengan tanya jawab.

Kajian penulis awali, dengan menceritakan bagaimana Islam datang secara asing, dan kemudian akan kembali asing. Namun, bebahagialah orang-orang yang asing.

Yakni, orang-orang yang tetap terikat dengan agama ini, disaat mayoritas manusia menelantarkannya. Orang yang terikat dengan hukum syara' disaat mayoritas manusia tenggelam dalam arus liberalisme dan sekulerisme.

Sejalan dengan sabda Baginda Nabi Muhammad SAW, yang menyatakan:

إِنَّ الإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَظُبَى لِلْغُرَبَاء

_“Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al-Ghuraba)”_

(HR: Muslim).

Dahulu, agama ini asing karena diturunkan kepada Rasulullah SAW ditempat asing (Gua Hira). Lalu, Rasulullah SAW mendakwahkan agama ini. Ada Siti Khadijah Ummul Mukminin, sebagai wanita pertama yang memeluk Islam. Ada Abu Bakar RA sebagai tokoh pemuka Quraisy yang pertama kali memeluk Islam. Ada pula, Imam Ali RA dari kalangan pemuda, yang pertama kali memeluk Islam.

Rasulullah, terus mengemban dakwah, hingga sejumlah orang arab Mekkah memeluknya. Pengaruhnya makin meluas, hingga akhirnya kafir Quraisy melakukan makar, memboikot Bani Hasyim.

Dalam perjalanan dakwah, akhirnya boikot itu berakhir. Rasulullah terus berupaya berdakwah dan mencari dukungan (kampanye), agar syari'at Islam bisa diterapkan melalui kekuasaan. Sejumlah pembesar suku ditemui, sejumlah penolakan datang silih berganti.

Sampai akhirnya, Rasulullah mendapatkan pertolongan di Madinah dari suku Aus dan Khazraj. Melalui tokohnya yang terkenal, Jenderal-nya Madinah yakni Sa'ad Bin Mu'adz, dakwah Rasulullah SAW sampai ke tampuk kekuasaan.

Atas dasar ada pertolongan, Islam dapat diterapkan melalui kekuasaan, Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Madinah, yang terdiri dari penduduk yang heterogen (ada Kristen, Yahudi, Majusi dan Islam), juga sejumlah latar budaya yang berbeda, namun semuanya tunduk dan diatur dengan syariat Islam.

Pasca Rasulullah SAW dibai'at dan menjadi Kepala Negara di Madinah (penguasa), Rasulullah SAW secara revolusioner menerapkan Islam secara kaffah. Seluruh hukum Allah, diterapkan untuk mengatur rakyat, baik yang muslim maupun non muslim.

Untuk mengatur hubungan kekuasaan dengan rakyat, mengatur interaksi antar rakyat, hingga menentukan berbagai interaksi kewajiban dan tanggungjawab dalam Negara Islam di Madinah, Rasulullah SAW menetapkan Konstitusi Madinah (Wasqitoh Madinah/Piagam Madinah).

Sejak saat itu pula, Rasullah SAW mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru alam dengan metode dakwah dan jihad. Tugas kekuasaan Islam yakni menerapkan Islam dan mengemban risalah Islam, dijalankan oleh Rasulullah, dan dilanjutkan para Khalifah setelahnya.

Setelah Rasulullah SAW mangkat, tugas kekuasaan Islam yakni menerapkan Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru alam digantikan oleh Khalifah Abu Bakar RA. Lalu, dilanjutkan oleh Khalifah Umar RA, Khalifah Utsman RA, Khalifah Ali RA, para Khalifah Bani Umayyah, Para Khalifah Bani Abbasiyah, hingga para Khalifah di era Kekhilafahan Turki Utsmani.

Namun, pasca Khilafah runtuhkan pada tahun 1924, tepatnya 3 Maret 1924, yang saat itu berakhir di Turki, umat Islam kehilangan kekuasaan Islam. Syari'at Islam terbengkalai dan dakwah Islam tak lagi menjadi tugas negara.

Kaum muslimin terpecah belah dalam banyak negara bangsa, baik yang berbentuk Republik maupun Kerajaan. Sejak saat itu, darah kaum muslimin murah dan mudah ditumpahkan. Harta kaum muslimin menjadi objek jarahan. Keadilan dan keamanan hilang dari kaum muslimin.

Namun, Islam yang terasing ini, karena hilangnya penerapan Islam, pada akhir zaman akan kembali jaya dengan kembali tegaknya Khilafah. Satu periode zaman, yang akan mengembalikan kedaulatan syari'at Islam dan kembali menjaga keamanan kaum muslimin.

Di akhir zaman, akan kembali tegak Khilafah Ala Minhajin Nubuwah, yang akan menjadi Junnah (perisai) melalui penerapan Islam, yang melindungi harta, jiwa dan kemuliaan umat Islam sekaligus menjadikan Islam sebagai Rahmat bagi semesta alam. 

Karena itu, kita harus menyongsong era itu dengan berjuang bersama agar Islam kembali ke tampuk kekuasaan. Agar Khilafah, kembali tegak dan memakmurkan bumi.

Sebelum akhirnya, Islam kembali asing dan menghilang, tanda kiamat akan segera menjelang.

Ada sejumlah pertanyaan yang penulis ulas, dan diakhir acara kami mengadakan foto bersama. Tak lupa, kami sarapan bersama dengan menu 'Ketupat Sayur' yang lezat. [].
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menjadikan Islam Sebagai Benteng Umat Akhir Zaman

Trending Now