Pengikut

Eggi Sudjana (BES) dan Bayang-bayang Opini Publik

Redaksi
Januari 10, 2026 | Januari 10, 2026 WIB Last Updated 2026-01-10T08:11:30Z
Jakarta,detiksatu.com -- Pasca viralnya pemberitaan mengenai kehadiran Eggi Sudjana (BES) dan Damai Hari Lubis (DHL) di Solo (8/1/2026), ruang publik dipenuhi berbagai spekulasi dan opini yang berkembang sangat cepat. Sayangnya, sebagian opini tersebut bernada negatif dan berpotensi merugikan pihak yang bersangkutan.

Sebagai orang yang diberikan informasi (via phone) secara langsung oleh BES pada beberapa peristiwa strategis pasca munculnya berita tersebut, dapat memahami keadaannya pasca BES di Solo. Namun demikian, saya memahami dengan sadar bahwa tidak semua informasi patut disampaikan ke ruang publik. Ada etika, tanggung jawab moral, dan batas kewenangan yang harus dijaga, terlebih dalam situasi yang sensitif dan mudah dipelintir.

Atas dasar itu pula, hingga tulisan ini dibuat, saya belum menuangkan pandangan dalam bentuk opini publik, meskipun saya aktif sebagai pegiat media sosial dan penulis independen. Sikap ini saya ambil bukan karena ketiadaan informasi, melainkan karena kehati-hatian dan penghormatan terhadap kebenaran yang utuh serta berbagai hal yang sedang berproses.

Fakta penting yang perlu ditegaskan adalah bahwa hingga saat ini, berbagai opini yang berkembang baik dari pihak yang mengklaim sebagai oposisi maupun pihak pro-Jokowi, belum disertai bukti faktual yang dapat diverifikasi. Tidak ada dokumentasi berupa foto maupun video, dll yang menunjukkan bahwa, *BES meminta maaf kepada Presiden Joko Widodo terkait isu ijazah, atau *BES berpelukan dengan Presiden Jokowi yang menegaskan sebagai tanda perdamaian dan pengakuan atas keaslian ijazah mantan Presiden.*

Lebih jauh, media, televisi nasional yang memberitakan hal tersebut juga belum menyajikan bukti visual maupun pernyataan resmi yang menguatkan narasi tersebut. Hingga saat ini, belum ada pernyataan terbuka dari Presiden Joko Widodo yang menyatakan telah bertemu dengan BES, menerima permintaan maaf, atau memberikan penegasan bahwa peristiwa tersebut benar terjadi sebagaimana yang diopinikan.

Dalam konteks demokrasi dan kebebasan berekspresi, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar. Namun, kebebasan itu harus berjalan seiring dengan tanggung jawab. Opini tanpa fakta berpotensi menyesatkan, membangun persepsi keliru, dan menciptakan kegaduhan yang sesungguhnya tidak perlu.

Karena itu, mari kita bersikap lebih bijak dan cerdas dalam menyikapi setiap informasi. Membaca berita secara utuh, memeriksa sumber, serta membedakan antara fakta, opini, dan asumsi adalah bagian dari kedewasaan publik yang sangat dibutuhkan saat ini.

Masih terdapat sejumlah hal lain terkait peristiwa pasca viralnya kabar “BES datang ke rumah mantan Presiden Jokowi di Solo” yang belum pada kapasitas saya untuk menyampaikan. Pada waktunya nanti akan dijelaskan secara langsung, terbuka, dan apa adanya oleh BES dan Jokowi sendiri kepada publik.

Demikian catatan ini saya sampaikan sebagai ajakan untuk menjaga nalar sehat, etika informasi, dan ketenangan berpikir di tengah derasnya arus opini, fokus Pemerintahan Presiden Prabowo jalankan program pemgunan, mengentasan kemiskinan, penanganan bencana alam diberbagai wilayah, dll.

Agusto Sulistio - Pegiat Sosial Media.

Sabtu, 10 Januari 2026
05.27 WIB.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Eggi Sudjana (BES) dan Bayang-bayang Opini Publik

Trending Now