Pengikut

Tepat Satu Bulan Pasca Banjir Bandang Dan Tanah Longsor Di Sumatera Dan Aceh Warga Wajib Saling Bantu

Redaksi
Januari 18, 2026 | Januari 18, 2026 WIB Last Updated 2026-01-18T07:14:18Z
Medan - detiksatu.com II Ahmad Daud Ketua Umum PW Gerakan Pemuda Islam (GPI) Sumatera Utara, menyampaikan "hari ini Aceh Tamiang masih berlumpur, Tapteng masih masih nestapa" Bersyukurlah 2 pekan terakhir tidak turun hujan sebagaimana yang telah terjadi pada Aceh Timur dan Pidie. Banjir menggenangi wilayah-wilayah yang secara ekosistem telah dirusak oleh pembalakan hutan.

Pembangunan Huntara ataupun relokasi warga mulai berjalan. Listrik mulai hidup mati,Tapi kondisi secara umum belum banyak berubah pasca 50 hari lebih bencana.

Mari lihat laporan resmi kementerian terkait, baru 12 persen akses infrastruktur di pedesaan yang pulih di daerah terdampak. Itu artinya progress masih jauh dari yang diharapkan. 

Diatas kertas, laporan tiap hari menunjukkan seolah kemajuan sudah signifikan, faktuilnya bak jauh panggang dari api. Bagi yang sudah turun ke lapangan , akan bingung mau menghadapi semua ini. 

Okey, katakanlah anggaran dari Pusat turun. Tapi kita lihatlah kemudian dilapangan. Berjalanlah di kecamatan Kuala Simpang - Aceh Tamiang atau kecamatan Tukka - Tapteng. Progress nya amat lambat, lumpur masih menggenangi akses jalan dan pemukiman warga. 

Dan perhari ini, bantuan dari relawan mulai surut karena dukungan masyarakat sifatnya sukarela. Bersyukurlah negeri ini terkenal dengan kesetiakawanan yang luar biasa.

Tanpa solidaritas tersebut, maka bukan mustahil clash lebih besar akan terjadi. Pertanyaan - pertanyaan dari warga benar - benar menyayat hati, "jika kalian pergi, kami gimana?". 

Mereka bukan para pemalas, tapi hari ini para saudara kita yang terdampak tidak punya "tulang punggung" lagi. Sawah hancur, kebun musnah dan peternakan sudah lenyap". Sepenuhnya mereka sudah jadi kaum tuna sandang, pangan dan papan. Untuk air bersih saja pun masih banyak yang harus bergantung pada support dari luar.

Ada persoalan utama di negeri ini. Seringkali yang masih perencanaan diatas kertas, dianggap sudah terealisasi. Sekian bantuan turun dari pemerintah, sekian rumah dibangun, sekian dan sekian.

Padahal prosesnya masih panjang, sekelas menteri Purbaya saja bingung ratusan miliar dana kebencanaan di Aceh Tamiang belum tereksekusi padahal narasinya sudah begitu heboh. 

Kenapa demikian ? Jangan tanya rakyat dong pak menteri. Yang rakyat tahu hari ini rumah mereka masih berlumpur. Mungkin birokrasi memang belum berubah walau sudah dalam kejadian bencana. "Memperpanjang meja" udah jadi tradisi yang tak pernah selesai walau diujung tenda-tenda para lansia dan bayi sudah menderita kelaparan.

Ayo..para relawan dan warga, kembalilah kita dukung. Saudara kita di Sumatera ini masih nestapa. Ayo tetap warga bantu warga meski kita pun kadang tetap susah. Tapi ini bukan hanya sekedar lapar biasa , ada nyawa saudara kita yang dipertaruhkan juga.

Sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Tanpa dukungan real, kita tidak tahu bagaimana saudara kita akan menjalani berbuka dan sahur. Apalagi jika ditambah pertanyaan , bagaimana lebaran mereka ?

Semoga kita masih semangat, Warga Bantu Warga dari mulai sembako, obat-obatan, perlengkapan dan kebutuhan bayi serta kebutuhan lainnya. Untuk negara, please...relawan bukan musuh apalagi pesaing. Justru kita harusnya kolaborasi. Kalau ada kritikan maka itu justru harus jadi pintu masuk evaluasi bersama. Karena kita sejatinya satu tujuan ; segera pulih dari bencana ini.
Reporter : Habib
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tepat Satu Bulan Pasca Banjir Bandang Dan Tanah Longsor Di Sumatera Dan Aceh Warga Wajib Saling Bantu

Trending Now