Gigih Demi Keluarga, Kisah Enjang Adu Nasib di Tumpukan Sampah Cinere

Maret 03, 2026 | Maret 03, 2026 WIB Last Updated 2026-03-03T06:23:09Z
Depok, detiksatu.com ll Di balik riuh rendahnya suasana Kota Depok, terselip kisah perjuangan seorang pria paruh baya bernama Enjang (40). Tinggal di gubuk sederhana kawasan Jalan Cendana, pinggiran kali Kecamatan Cinere, Enjang mendedikasikan hidupnya sebagai pemulung demi menyambung hidup orang tua dan masa depan anaknya.

Bagi Enjang, setiap kilogram barang bekas adalah harapan. Setiap hari, ia harus berpacu dengan waktu dan armada truk sampah dinas kebersihan untuk mengais sisa-sisa barang yang masih bernilai ekonomi.

Berpacu dengan Waktu dan Keringat

Rutinitas Enjang dimulai bahkan sebelum matahari sepenuhnya menampakkan diri. Dengan karung besar yang setia menyampir di bahu, ia menyusuri sudut-sudut Cinere dengan berjalan kaki.

"Setiap pagi atau sore saya harus bergegas sebelum mobil pengangkut sampah datang, agar bisa memilih barang yang masih layak dijual," ujar Enjang saat ditemui  detiksatu.com Selasa (3/3/2026).

Langkah kakinya tidak jarang berujung nihil. Persaingan antar-pemulung yang kian ketat membuat barang berharga seringkali sudah ludes sebelum ia sampai. Namun, bagi Enjang, menyerah bukanlah pilihan. "Sudah tua, mau kerja lain tidak bisa. Sedikit demi sedikit, ini bisa memenuhi kebutuhan," tuturnya sambil menyeka keringat di bawah terik matahari.

Terpisah Jarak Demi Pendidikan Anak

Perjuangan Enjang tidak sendirian. Sang istri, yang berasal dari Kampung Plosemut, Bekasi, setia mendampingi dan membantunya memilah hasil pungutan. Meski tinggal bersama di Depok, ada kerinduan mendalam yang mereka simpan; anak mereka tetap tinggal di kampung halaman demi menempuh pendidikan.

Seluruh hasil jerih payah Enjang mengumpulkan barang bekas selama seminggu rutin dikirimkan ke kampung. Biaya pendidikan anak menjadi prioritas utama di atas kebutuhan mereka sendiri di perantauan.

Harapan dan Kepedulian Sesama

Kondisi Enjang memicu simpati dari orang-orang terdekatnya. Rohani, bibi sekaligus kerabat Enjang, mengungkapkan rasa prihatinnya melihat kegigihan keponakannya tersebut di usia yang tak lagi muda.

"Saya hanya berharap Enjang selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Beliau benar-benar tulang punggung keluarga,"ungkap Rohani.

Ia juga mengajak masyarakat sekitar untuk mulai peduli terhadap nasib para pemulung. Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan memisahkan sampah plastik atau barang bekas layak jual dari sampah domestik, lalu memberikannya langsung kepada pemulung yang lewat.

Perjuangan Enjang adalah potret nyata bahwa di tengah kerasnya kehidupan kota, kejujuran dan kegigihan tetap menjadi modal utama untuk menjaga martabat keluarga.


Reporter: Roan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Gigih Demi Keluarga, Kisah Enjang Adu Nasib di Tumpukan Sampah Cinere

Trending Now