_Oleh: Agusto Sulistio - Pegiat Sosmed._
Pertempuran Surabaya, kita sering terpesona pada dentuman meriam dan nama-nama besar yang tercatat dalam sejarah. Namun sesungguhnya, sejarah lahir juga oleh adanya peran mereka yang tidak dikenal, tetapi perannya menentukan arah perjuangan (Pahlawan tak dikenal).
Di sudut kota Surabaya tahun 1945, tepatnya di sekitar Jembatan Merah, ada seorang pemuda sederhana berama Hasan. Bukan tentara, bukan pula tokoh penting. Hasan hanyalah seorang kurir pesan. Tapi justru lewar tangannya, masa depan bisa berubah arah.
Suatu hari, ketegangan Indonesia dengan Inggris, Belanda memuncak setelah tewasnya Brigadir Jenderal A. W. S. Mallaby di dekat Jembatan Merah.
Kota yang sebelumnya tegang, seketika berubah menjadi medan perang terbuka. Dentuman senjata terdengar dari berbagai penjuru, asap membumbung, dan ketakutan menyelimuti setiap sudut jalan.
Namun di tengah kekacauan itu, Hasan tetap berjalan. Bagi sebagian orang, mungkin itu nekat. Tapi bagi Hasan, itu adalah tanggung jawab.
Dalam satu misi penting, Hasan harus mengantarkan pesan surat rahasia ke kelompok pejuang di sisi lain kota. Ia mengayuh sepeda tuanya perlahan, melewati jalanan yang tak lagi aman. Setiap sudut bisa menjadi ancaman.
Saat melintasi Jembatan Merah, ia dihentikan oleh patroli bersenjata. Waktu seakan berhenti. Jantungnya berdegup keras, seolah bisa terdengar keluar dari dadanya.
Ia hanya membawa keranjang kecil berisi singkong rebus bak tampilan seorang anak kampung biasa yang tak mencurigakan. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan secarik kertas yang bisa mengubah jalannya pertempuran.
Tentara sekutu saat itu memeriksa barang bawaannya. Tangan-tangan kasar mengaduk isi keranjang. Sekejap lagi, rahasia itu hampir terbuka.
Namun entah karena keberuntungan atau ketenangan yang lahir dari keberanian, Hasan tetap tenang. Tatapannya lurus, geraknya wajar.
Dan ia… lolos.
Pesan itu akhirnya sampai ke tangan yang tepat. Dari secarik kertas sederhana itu, strategi penyerangan malam hari pun disusun. Sebuah langkah kecil yang berdampak besar.
Beberapa hari kemudian, situasi semakin genting menjelang puncak pertempuran 10 November 1945.
Kota benar-benar menjadi lautan api. Dan sejak saat itu, Hasan tak pernah kembali.
Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi. Apakah ia tertembak di sudut jalan, tertangkap tanpa jejak, atau gugur dalam diam demi tugasnya. Tidak ada makam, tidak ada catatan resmi, tidak ada nama yang diukir dalam buku sejarah.
Namun sesungguhnya, Hasan tidak sendiri. Banyak orang seperti dia, pemuda, ibu rumah tangga, tukang becak, hingga pedagang kecil di sekitar Jembatan Merah yang mengambil peran, sekecil apa pun, untuk mempertahankan kemerdekaan.
Mereka mungkin tak dikenal, tapi tanpa mereka, sejarah bisa berbeda.
*Cermin untuk Hari Ini*
Kini kita hidup di zaman yang jauh berbeda. Teknologi komunikasi berkembang luar biasa. Jika dulu, Hasan mengantarkan sebuah pesan harus mempertaruhkannya dengan nyawa, tapi hari ini kita bisa mengirimkannya dalam hitungan detik ke ribuan orang.
Namun justru di sinilah ironi itu muncul. Teknologi yang seharusnya menjadi alat pemersatu, kerap berubah menjadi alat untuk saling melukai. Bukan lagi sekedar menyampaikan informasi, tetapi sering digunakan untuk menjatuhkan, menghujat, bahkan membunuh karakter sesama anak bangsa, termasuk para pemimpin.
Kita menyebutnya bagian dari demokrasi. Padahal, ketika kebebasan kehilangan tanggung jawab, ketika kritik berubah menjadi kebencian, dan ketika informasi dipelintir menjadi fitnah, itu bukan lagi demokrasi yang sehat. Itu adalah penyimpangan, bahkan bisa menjadi kejahatan moral atas nama demokrasi.
*Belajar dari Hasan*
Hasan mungkin hanya seorang kurir. Tapi ia mengajarkan sesuatu yang hari ini terasa mahal, integritas dalam menyampaikan pesan.
Ia tidak menyebarkan kebencian. Ia tidak memutarbalikkan informasi. Ia tidak menggunakan pesan untuk memecah belah. Justru sebaliknya, pesan yang ia bawa menjadi penghubung, penguat, dan penentu arah perjuangan.
Hari ini, kita semua adalah “kurir”.
Bedanya, kita tidak lagi membawa pesan dengan sepeda tua melintasi medan perang, melainkan melalui layar kecil di genggaman tangan (HP).
Maka pertanyaannya menjadi sangat sederhana, sekaligus mendasar, apakah pesan yang kita kirim hari ini menyatukan, atau justru memecah bangsa?
Jangan sampai kemajuan teknologi yang begitu luar biasa ini justru kita sia-siakan untuk saling membenci. Jangan sampai kita mengkhianati makna perjuangan mereka yang bahkan rela hilang tanpa nama demi sebuah pesan yang benar.
Sejarah Jembatan Merah mengajarkan kita bahwa sebuah pesan bisa menjadi jembatan perjuangan.
Dan hari ini, di era digital, tugas kita adalah memastikan bahwa setiap pesan yang kita kirim tetap menjadi jembatan persaudaraan, bukan jembatan kebencian.
Kalibata, Rabu 18 Maret 2026, 16:09 Wib.

