Jakarta ,detiksatu.com || Selepas kematian pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei Minggu pagi 1 Maret 2026. Mata dunia tertuju pada sikap Iran dalam merespon agresi Israel dan Amerika. Kita dapat melihat di berbagai media asing, bagaimana Iran membuktikan secara nyata kepada masyarakat dunia, bahwa Teheran sedang memberi balasan paling tragis, mematikan dan tak termaafkan kepada Israel maupun Amerika.
Sejengkalpun Iran tidak akan memberi pengampunan kesalahan atas tindakan brutal Israel Amerika yang mengawali penyerangan ke tempat kediaman Khamenei. Iran bersumpah membalas kematian Ali Khamenei sebagai War knows no time limits. Dengan mengirim rudal jelajah ke berbagai kota besar Israel serta kapal induk Amerika. Akibatnya, Kapal Induk berikut armada Angkatan Laut Amerika yang berada di seputar selat Hormuz ditarik mundur karena kena hantaman rudal Iran.
Tidak sampai disitu saja. Seluruh pangkalan militer Amerika yang ada di kawasan Timur Tengah juga tidak luput dari sasaran rudal Iran. Tempat-tempat strategis Amerika yang ada di negara Timur Tengah luluh lantak, menjadi incaran dan amuk rudal Fatah 2. Tidak selang lama presisi jatuhnya rudal Iran di Kedubes Amerika Saudi Arabia menjadikan momentum sejarah atas jawaban agresi Israel Amerika.
14 Pangkalan Militer Amerika yang ada di Timur Tengah lenyap. Ratusan tentara Amerika tewas dan tindakan pemerintah Amerika untuk mengevakuasi personilnya menjadi jalan satu-satunya. Tampak tentara Amerika stress serta mengalami gangguan jiwa. Tentara Amerika dilanda rasa ketakutan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tentara Amerika menghindari kematian sebelum perang. Mereka tidak lebih sebagai martir sia-sia melawan Iran. Sementara, Iran belum satupun mengirimkan tentara daratnya untuk bertemu muka duel face to face dengan tentara Israel maupun Amerika. Tapi senjata nirawak menjadi andalan Iran sebagai perisai sekaligus untuk mengusir warga Israel dari tanah Palestina sebagai jajahannya. Dampak dari serangan rudal Iran ke wilayah Israel menimbulkan gelombang eksodus pengungsi yang jumlahnya ratusan ribu menuju perbatasan lembah gurun Yordania.
Perang Iran kali ini sangat berbeda dengan peristiwa perang Iran tahun lalu. Perang Iran yang sedang berlangsung kali ini sebagai total war (istilah Jawa, rawe-rawe rantas, malang-malang putung). Tarung habis- habisan. Tidak ada yang mampu memprediksi kapan situasi ini akan berakhir. Tak ada satupun negara saat ini yang dapat meyakinkan pada Iran tentang pencapaian perdamaian. Para pemimpin dunia nampak cemas dan kesulitan untuk urun bicara. Apalagi membujuk dengan cara bagaimana mencari solusi agar dunia segera dapat puluh dan keluar dari kemelut peperangan yang akan terus meluas di kawasan Timur Tengah. Bisa jadi eskalasi perang dapat melebar dan menyeret ke wilayah lain. Hanya saja ada beberapa perkembangan menarik dari perang Iran ini.
Dimana negara-negara yang tadinya menjadi Sekutu Israel Amerika dalam setiap momen agresi, kini berbalik arah tidak ikut campur dalam menghadapi peperangan dengan Iran. Hal itu membuktikan bahwa telah terjadi pergeseran paradigma peta dukungan dari negara-negara di Eropa. Inggris dan Spanyol dengan tegas menyatakan tidak ikut terlibat dalam perang.
Para pemimpin Eropa nampaknya menyadari bahwa kekuatan militer Iran merubah iklim politik yang sebelumnya tidak pernah terprediksi. Peta politik dan ekonomi dunia sedang dibalik oleh Iran. Tanda-tanda itu akan terjadi setelah masa berkabung Iran usai. Setelah 40 hari masa berkabung Iran akan menentukan apakah perang dunia ketiga akan terjadi atau tidak. Sebab seluruh negara akan mengalami stagnasi ekonomi dan krisis energi. Disanalah akan muncul keresahan dan keprustasian masyarakat dunia dalam menghadapi kehidupan. Tatkala negara-negara mengalami jalan buntu dan problema ekonomi. Kekhawatiran bagi para pemimpin dunia tentang terjadinya siklus perubahan yang kedepannya membawa gejolak sosial di masing-masing negara.
Rusia, China menjadi blok sosialis (komunis) yang turut berperan memutar jarum ekonomi dunia. Bahwa tidak selamanya negara kapitalis seperti Amerika, Inggris beserta sekutunya terus menerus menjadi lambang supremasi politik dunia. Kini angin perubahan itu datang zdari Iran sebagaimana Iran tampil menjadi negara pelopor dalam kemandirian hal politik, ekonomi bahkan militer. Iran menjadi negara yang tidak mau tunduk begitu saja oleh imperialisme baru paska Perang Dunia kedua. Negara-negara agresor imperalis senantiasa menggunakan kedok propaganda adanya pembatasan produksi Nukkir bagi negara-negara yang ingin bangkit dalam teknologi.
Isu tentang Nuklir, Kartel Narkoba, Hak Azasi Manusia (HAM), Demokrasi, Lingkungan Hidup, Kesehatan menjadi siasat Amerika untuk mengeksplorasi sekaligus menundukan negara-negara yang kaya akan Sumber Daya Alam. Hampir seluruh kawasan di Timur Tengah telah menjadi underbouw Israel maupun Amerika dalam memanfaatkan serta mengelola Sumber Daya Alam dan keamanan, Negara-negara itu dijadikan sapi perah Israel dan Amerika. Minyak dan gas bumi serta material energi uranium dimonopoli, dikuasai oleh Amerika dengan kamuflase menjadi penjaga keamanan dunia.
Dengan alasan sebagai polisi dunia, sebagaimana Irak menjadi korban dimana Amerika bersama bolo kurowonya (sekutu), lebih dulu menjadikan Irak sebagai pangkalan militer. Selain Sadam Husein dibunuh. Pemerintahan baru Irak dibentuk menjadi boneka Amerika. Kepentingan penguasaan negara-negara di kawasan teluk sebagai kelanjutan program Pentagon untuk step stone merebut wilayah Iran hari ini.
Namun Iran sudah tahu rencana busuk Amerika jauh sebelum agresi Amerika ke Irak. Bahwa dikemudian hari target selanjutnya Amerika akan melakukan hal yang sama kepada Iran. Realitas itu nyata, ada kepentingan yang sama, baik pada Israel maupun Amerika untuk mengagresi Iran. Operasi senyap dengan sandi Epic Fury itu tdak semata untuk membunuh Ayatullah Ali Khamenei. Tapi ada kepentingan lain yakni Israel dan Amerika ingin menguasai sumber minyak dan gas bumi.
Untuk menaklukkan Iran perlu merebut Irak terlebih dulu. Penaklukan Irak dengan melibatkan sekian banyak negara Sekutu Amerika (Bolo kurowo Amerika), telah menjadi kenyataan bahwa final targetnya adalah Iran.
Siasat licik ini kini terbukti sebagai tindakan operasi militer yang sedang dijalankan oleh Israel maupun Amerika. Kedua kepentingan yang sama itu berjalan dengan melancarkan gerakan militer. Dengan membawa isu klasik yang sering dikampanyekan Amerika yakni pengayaan Nuklir. Dengan demikian masyarakat dunia di hipnotis percaya atas narasi yang dibikin Amerika, sehingga ada alasan pembenaran Israel dan Amerika untuk membunuh Ali khamenei.
Hanya saja, kalkulasi politik Israel dan Amerika kali ini tidak sama dengan prediksi ketika mengagresi Irak. Taktik dan strategi kali ini tidak matang, sehingga menimbulkan pukulan balik yang harus dibayar mahal oleh Israel maupun Amerika.
Perang Iran versus Israel Amerika akan membawa pengaruh besar terhadap pasokan minyak dan konstelasi ekonomi dunia. Nilai Dollar Amerika bisa ambruk terkuras untuk pembiayaan perang melawan Iran. Sementara inflansi ekonomi di berbagai negara sebentar lagi tak dapat di hindari. Hal ini tentu saja akan berlangsung lama, karena akibat ditutupnya selat Hormuz oleh Iran. Ratusan kapal Tangker pengangkut minyak tak dapat berfungsi, mereka antre di perbatasan selat Hormuz, dikarenakan terjebak situasi perang, entah sampai kapan Iran mengijinkan kembali kapal-kapal tengker itu dapat melewati selat Hormuz. Jika Iran akan memberi waktu yang lama, maka akan terjadi eskalasi gejolak sosial yang sangat hebat di negara-negara yang cadangan minyaknya minim. Negara-negara akan mengalami defisit anggaran.
Negara yang tidak memiliki cadangan minyak yang cukup seperti Indonesia, akan mengalami gejolak sosial dalam negeri. Sebab kebutuhan minyak merupakan roda penggerak perekonomian yang berekses pada kebutuhan primer masyarakat. Sedang sekarang, transportasi laut ditutup dan kapal harus memutar jauh menghindari selat Hormuz.
Tentu saja ini menjadi problematika bagi negara-negara yang perolehan minyaknya tergantung dari Timur Tengah. Situasi ini akan berlangsung lama sebagai proxy war Iran. Iran rupanya ingin menggoncang perekonomian Amerika dengan mengefek dominokan pada negara-negara yang selama ini menjadi mitra Amerika. Taktik ini dilakukan Iran sebagai presur untuk melemahkan sekaligus menjungkirkan sistem ekonomi dunia yang selama ini dikendalikan Israel dan Amerika. Iran memancing negara-negara sekutu Amerika untuk menuntut balik atas situasi yang dibuat Amerika. Sebab dampak ekonomi cepat atau lambat akan datang dan banyak negara yang tidak siap menghadapi krisis dunia akibat perang.
Tentu saja Iran akan membuat kalkulasi ekstrim tentang lonjakan harga minyak dengan menutup selat Hormuz. Tak menutup kemungkinan ini akan menjadi genosida ekonomi pada negara-negara yang rapuh anggaran pemerintahannya termasuk Indonesia. Efek domino penutupan selat Hormuz menjadi tragedi keamanan pada suatu negara.
Gejolak sosial anti Israel dan Amerika terjadi di seluruh dunia. Masyarakat internasional mengutuk Israel dan Amerika sebagai aktor kerusuhan dan kedamaian. Bahkan para pemimpin negara-negara kini mengkhawatirkan akan terjadinya Perang Dunia ke tiga. Beberapa pemimpin dunia speechless melihat sedemikian cepat perubahan geopolitik yang hanya memutar waktu tidak lebih dalam tempo enam jam.
Iran membara. Eskalasi peperangan kali ini jauh lebih dahsyat. Berbeda dengan apa yang menjadi sengketa Putin dengan Volodymyr Zelensky. Atau perang Thailand versus Kamboja.
Atau perang Iran lawan Israel 13 Juni 2025 lampau. Israel yang pada waktu itu sudah terdesak dan babak belur, dengan sifat licik meminta gencatan senjata dan membuat perdamaian dengan Iran. Tapi dibelakangnya kemudian mengingkari dan membunuh Ali Khamenei. Secara fakta, sesungguhnya Israel sudah kalah perang, tapi Netanyahu tampak malu untuk mengakuinya. Netanyahu masih mbrengkele tidak mau kehilangan muka di mata dunia, sehingga ia mencoba bermanuver memancing kembali perang kali ini dengan memprovokasi Amerika.
Tapi diluar perhitungan Pentagon dan Ha-Mossad Le-Modi'in Ule Tafkidim Menyuchadim/ Departemen Pertahanan Israel Mozad. Mereka memperkirakan Iran akan takluk dalam waktu singkat, ketika Ali khamenei berhasil di bunuh. Ternyata sebaliknya, Iran terlihat tangguh dan agresif menyerang balik Israil dan Amerika tanpa jeda.
Ini adalah bentuk perang moderen antara sekutu Iran dengan sekutu Israel. Iran yang terang-terangan di belakangnya ada Rusia, RRC, Korea Utara dan beberapa negara Timur Tengah, telah berhadapan langsung dengan Israel yang di back up oleh Amerika, India dan beberapa negara yang tergabung dalam Nato, ditambah negara satelit Amerika yang ada di Timur Tengah.
Konstelasi politik dunia berubah sedemikian cepat. Ketika kematian Khamenei sebagai simbul perlawanan rakyat Iran yang tidak mau tunduk oleh superioritas Amerika. Kali ini Amerika mengalami ridiculaus act (tindakan konyol) yang membawa petaka pada dirinya.
Iran melawan Israel, Amerika dengan mempertontonkan senjata canggih yang membuat dunia tercengang.
Israel dan Amerika telah menjadikan sebagian negara di Timur Tengah sebagai basis militer. Sebagian negara Timur Tengah sudah masuk ke dalam jaringan multilateral Israel dan Amerika. Negara seperti Arab Saudi, Mesir, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, Maroko adalah negara yang memiliki kaitan dengan program Israel Amerika.
Negara-negara tersebut memiliki ladang minyak dengan hasil yang sangat besar. Mereka bukan saja sebatas mitra strategis Amerika tapi semua pelecy keamanan dan tata kelola negara dikontrol oleh Washington DC. Oleh sebab itu, Amerika berikut Israel mempunyai kepentingan untuk menguasai Negara-negara tersebut untuk dijadikan basis kekuatan militer dan sumber energi.
Setelah Irak dapat dikuasai Amerika. Iran ibarat duri dalam daging Amerika. Karena Iran tidak mau tunduk dijadikan negara jajahannya. 20 Maret 2003 Amerika menginvasi Irak bersama bala kurawanya (Sekutu). Dalam operasi sandi militer Iraqi Freedom tahun 2003, Amerika berhasil menggulingkan Saddam Husein. Amerika dengan propaganda klasik mengatakan kepada masyarakat dunia, bahwa Irak memiliki senjata nuklir yang harus dilucuti. Tapi setelah sekian tahun Irak dikuasi Amerika, isu tentang Nuklir tersebut hanya omong kosong.
Mengapa Amerika harus menaklukkan Irak? Karena Saddam Hussein salah satu pemimpin negara di Timur Tengah yang dianggap kuat dan dikhawatirkan oleh Negara-negara teluk lainnya dapat mengganggu kepentingan tetangga. Tapi sejatinya bukan itu alasannya. Amerika ingin merampok ladang minyak yang di miliki Irak. Selain itu Irak dijadikan pangkalan militer Amerika yang dikemudian hari untuk mencaplok Iran.
Taktik dan strategi ini dapat dibaca oleh Iran jauh sebelum Amerika menginvasi Irak. Perang Teluk antara Amerika bersama bala kurawanya itu tidak lain menjadikan Irak sebagai step stone untuk mengambil alih Iran. Skenario ini berada dalam radar Pentagon dan Dewan Keamanan Amerika.
Three Countres, Inggris, Amerika dan Australia adalah kekuatan politik dunia yang terus akan memandu jalannya peta dunia. Tiga negara ini menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ada kesinambungan dalam membagi wilayah dominion.
Hanya saja, Amerika sering masuk dalam perangkap Israel. Mereka dimanfaatkan Israel untuk dijadikan tameng khusunya soal kemerdekaan Negara Palestina. Di dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa, tiga negara ini plus Israel memainkan peran penting penghambatan eksistensi Palestina sebagai negara yang merdeka. Meskipun mayoritas anggota PBB telah bersepakat agar ada kebebasan dan kemerdekaan bagi Palestina. Tapi tiga negara ditambah Israel plus bolo kurowonya selalu mengeluarkan veto tentang ketidakabsahan masa depan Palestrina.
Meski perang Iran dengan Israil Amerika ini tidak terkait langsung dengan isu kemerdekaan Palestina, tapi sejatinya Iran jauh hari memperlihatkan komitmennya akan pembelaan kepada rakyat Palestina. Persoalan Iran dan Palestina bukan persoalan isu agama tapi tidak lebih sebagai bangsa yang mempertahankan kedaulatan negaranya yang akan dijajah oleh negara lain.
*Politik Luar Negeri Indonesia
Indonesia baru menyadari ketika Board Of Peace bikinan Amerika telah melampaui ekspetasi perdamaian ketika lembaga ini diseret Amerika dalam kancah invansi militer dan eksekusi kepada Ali Khameni. BOP yang digagas oleh Amerika dan Israel dijadikan alat kekerasan yang justru bertolak belakang dengan semangat perdamaian yang mereka promosikan. Dua negara ini memanfaatkan BOP sebagai entry point untuk merengut Iran dengan paksa.
Indonesia tampak tercengang dan masuk perangkap Amerika Israel. Indonesia tidak akan bisa mudah keluar dari BOP, sebab kontrak kerjasama itu telah ditandatangani oleh Presiden Prabowo. Kemelut yang terjadi di Iran tidak serta merta Indonesia dapat menghindar dari konstelasi itu. Indonesia sudah masuk dalam internal jaringan yang mau tidak mau harus dijalankan dan ditanggung bersama sesuai keinginan Amerika dan Israel. Dan Indonesia tidak mempunyai bargaining yang seimbang dengan Amerika. Tidak lebih sebagai anggota biasa yang harus patuh dan tunduk kepada majikannya.
Dengan politik musang berbulu domba, Amerika Israel memainkan peran penting di dalam BOP. Dengan innocent Indonesia merasa sudah sejajar dengan Amerika. Sementara Indonesia hanya menjadi Bolo dupakan tak lebih sebagai (kacung) negara imperialis. Kelebihan Indonesia hanya terletak pada penduduknya yang mayoritas muslim. Nilai jualnya hanya itu. Tapi kepentingan Israel dan Amerika pada legitimasi umat Islam bahwa umat Islam Indonesia dapat dibungkam dan dijinakan melalui masuknya Indonesia ke dalam BOP.
Kedok untuk mensiasati penciptaan perdamaian untuk Palestina adalah jebakan pola politik Amerika dan Israel untuk membangun narasi seolah Amerika Israel memiliki niatan suci untuk memikirkan masa depan rakyat Palestina. Tapi dibalik itu ada rencana busuk yang mana BOP dibelokan untuk menyerang Iran dan ingin menguasainya.
Agenda perdamaian pecah menjadi untran-untran pergolakan dan perang. Inilah siasat jebakan maut yang dibuat Amerika berikut Israel dengan menggunakan wadah dalam bingkai “Perdamaian” agar negara-negara yang tadinya tidak sejalan dengan politik Amerika dan Israel dapat tergoda dan terpincut dengan BOP.
Senyatanya, jika kita analisis dan amati ketika Amerika dan Israel membuat BOP dapat kita kalkulasi secara politik internasional. Ada apa gerangan Amerika dan Israel tiba-tiba membuat BOP. Apakah karena Putin memainkan peran penting dalam BRICS?
Padahal, Presiden Prabowo awal tahun 2026 ini membawa Indonesia ikut aktif sebagai anggota penuh BRICS. Prabowo sepertinya ingin memainkan peran politik bebas aktif dengan menyisir ke berbagai lembaga internasional yang dibuat oleh kekuatan politik internasional yang saling berbeda.
Hanya saja, Prabowo tidak memperhitungkan dimana Indonesia harus berdiri dan komitmen pada landasan idiologi bangsa. Bahwa sejak berdirinya Negara Indonesia, para pendiri bangsa ikut melaksanakan perdamaian dunia. Kalimat “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”. Kalimat ini tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Apakah langkah Prabowo masuk ke BOP sudah selaras dengan semangat Pembukaan Undang-Undang 1945?
Semua perlu diuji secara pasti dalam langkah politik hari ini dan kedepan.
Nampaknya politik bebas aktif Indonesia kini masuk dalam “point of no return”. Indonesia terkunci dengan masuk sebagai anggota BOP. Apalagi dalam konteks perang Iran, sulit kiranya akan dapat diterima seperti semangat awal Indonesia masuk keanggotaan BRICS atau lembaga lainnya. Karena, anggota BRICS bertolak belakang dengan kepentingan BOP.
Permainan catur internasional Indonesia mengalami decline politik. Karena pandangan politik bebas aktif diartikan tidak sesuai dengan cita- cita perdamaian abadi.
Politik bebas aktif Indonesia yang pernah menjadi mercusuar disaat membangun gerakan Non Blok Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Adalah monumental gerakan politik bebas yang paling puncak. Semangat Bandung melahirkan greget dan membangun sebuah kekuatan yang maha dahsyat. Soekarno sebagai simbul bapak politik Non Blok dapat duduk sejajar dengan negara-negara besar di Forum PBB.
Jika Indonesia hari ini dapat memainkan peran gerakan Non Blok seperti masa lampau, dalam situasi dunia yang tidak pasti. Indonesia akan kembali pada kejayaan dan menjadi bangsa yang mandiri seperti yang di cita-cita pendiri bangsa.
Bangsa Indonesia mempunyai “roh/spirit” yang luar biasa untuk membangun kesadaran sebagai nahkoda sekaligus wasit dunia untuk menyatukan perbedaan dan menciptakan perdamaian abadi.
Tapi, kwalitas politisi dan flight hours politik internasional di seputar Prabowo tidak nyandak untuk menganalisa, memprediksi apalgi mempraktekkan. Inisiatif jauh kedepan tentang kemana arah politik dunia. Dengan demikian sebatas cukup bangga, Indonesia duduk dibelakang Amerika dan Israel hanya untuk mencari identitas.
Tapi jauh dari sejarah masa lalu yang pernah diukir para pendiri bangsa. Para pendiri bangsa telah membuka peta jalan pada bangsa Indonesia untuk menuju jalan sutra kearah Indonesia perkasa. Dengan legacy Soekarno merajut bangsa-bangsa yang tergabung dalam politik gerakan Non Blok Asia Afrika untuk terciptanya perdamaian dunia.

