Damai Hari Lubis
Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
1. Roy Suryo eksis memberi kuasa kepada banyak advokat yang berbeda bendera;
2. Kesan gambaran jatidiri Roy cenderung berupaya kuat _melekat menempel" kepada anggota TPUA yang TSK namun menjauhi tokoh TPUA yang amat populer Prof. DR. Eggi (Ketua TPUA) ini persepektif penulis selaku pengamat sebagai salah seorang tokoh (senioren) TPUA, Roy amat tendensius tidak netral sebaliknya lebih fokus politis praktis fragmatis, dari sisi persaingan, amat individualisme, terbukti seiring perjalanan (selang belasan hari), Roy mendukung deelneming (turut serta) pembentukan Tim Hukum TAKA dan sengaja turut serta melupakan DHL aktivitis senior TPUA yang mengundangnya ke UGM (15 April 2025) yang dikhianati tanpa diundang (Gedoeng Joeang, Cikini Menteng, Jakpus 2 Mai 2025), namun transparansi ada gejala gejala praktik devide et impera dan beri sambutan bersama Rismon dan Tifa juga MSD, Ab S, dan Refly dan jika tidak kelir Beathor dan tokoh Jendr (Purn). *Catatan; dr Tifa ikut menyelinap dadakan ke UGM 15 April 2025* namun Roy, Rismon dan Tifa tidak berani ikut penulis (TPUA) membersamai ke rumah Jokowi, Solo (16 April 2025), dan pada saat acara 2 Mai 2025 Gd Joeang saat "menyabotase gawe/hajat DHL/ TPUA back drop- panggungnya pun tanpa ada kalimat TPUA dan foto DHL juga Eggi selaku katua TPUA yang ada hanya foto Roy, Rismon dan Tifa serta Rizal Fadillah), ini alamat Roy tidak peka (no sensitive) tanpa merasa prihatin kepada DHL yang hadir (senioren TPUA yang mengajaknya ke UGM sebagai versi TPUA sehingga pihak rektorat/ dekanat UGM mengklaim Roy merupakan delegasi TPUA) dimana jelas DHL tetap berbesar hati, terbukti hadir 2 Mai di Gd Joeang. Walau tak diundang, namun nyata tidak diberi kesempatan (ditolak) untuk ikut memberi sambutan walau sudah dimintakan oleh kawan-kawan (eks TPUA Rustam dan Muslim.Arbi) oleh panitia penggagas si AK ? Roy tidak risih justru euforia bersama rekannya RH (Youtuber_peliput warta dan eks komisaris Pelindo) sesama alumni UGM, dan terus berlanjut, Roy berupaya keras mulai beringsut menunjukan politik praktis kepentingan kelompok (primordialisme), Roy lakukan embrio politik, dengan pola "politik amuba", tanpa (belum) disadari oleh eks TPUA hingga kini yang tetap (mereka) rangkul, dia publis dan aklamasikan RRT yang lalu mengarang buku. Lupa kan Eggi dan kabarnya Jokowi's White Paper isinya melupakan (sunat sejarah awal yanh membawa dirinya dan Tifa (walau pastinya 100% Tifa tidak diundang oleh DHL) sebagai delegasi perwakilan ES atau TPUA yang dituakan), ini kebohongan.merusak prinsip historis (Roy bukan figur jujur), Karena sejarah adalah imu pengetahuan dan ilmu pengetahuan sebagai hal yang ilmiah (knowladge), pastinya tidak boleh ada kebohongan atau kepalsuan yang nyata;
3. Roy memberikan angka nominal dengan kalimat "jelas jelas ijazah palsu" 99,9 %, artinya seolah masih ada kemungkinan asli 0,1 persen, walau bilangan desimal secara pembulatan matematika 99,9 % menjadi 100 %, sementara 0, 1% sisanya akan atau on going dia Roy gunakan, yakni dengan pola "minta diperlihatkan yang asli dengan waktu yang cukup", walau kasat mata dan sekalipun durasi yang cukup, tanpa preparat dan penelitiannya diatas meja mikroskop, dan Roy dipastikan adalah bukan ahlinya (digital forensik), maka pasca dirinya diperlihatkan Roy otomatis jika masih menghormati tentang makna pakar atau ahli dimana dirinya sendiri juga mengaku sosok ahli ?Pakar telematika ?? Oleh karenanya bis jadi detik detik akhir Roy akan (mencari celah) berkesempatan mengatakan agar lolos sebagai TSK dan sanksi dia akan berkelit setelah diperlihatkan kembali secara sendiri dan cukup waktu, akan mencoba jurus belit dan belut, dia bisa jadi bakal mangakui yang tersisa 1% (dari 99,9 persen palsu) menjadi 100 % ijazah asli, (vide tonton inews Rakyat Bersuara) 17 Maret 2026;
4. Roy mimikris politik, ketika memiliki kepentingan (fragmatis) dari sekuler lalu tiba-tiba menggaungkan kalimat "takbir !" di Polda Metro Jaya diantara anggt TPUA (sekarang eks TPUA), lalu hanya karena terpaksa mampir "ke rumah basis Eggi (Petamburan)";
5. Roy membuat buku Jokowi's White Paper, ingat Jokowi merupakan tokoh politik ! Dan Roy radikal dukung Buku tentang Politik karangan Rismon (Gibran end game), bukan kah Gibran juga tokoh politik.
6. Poin nomor 3 pada *pendapat* ini, lalu baru-baru ini dan tentunya on going, Roy mempublis dan viral di media bahwa dia 90 % tidak akan minta RJ, *Roy tidak eksplisit mengucapkan* layaknya ilustrasi sosok individu yang hakekatnya sebuah keyakinan dengan jelas-jelas mengatakan tidak akan minta RJ 100%;
7. Latar belakang Roy dipastikan 100 % adalah politik, ini data empirik tanpa butuh "epidence", Ia eks anggota DPR RI dari partai sekuler dan eks pejabat kabinet atau penyelenggara negara yang politis (Menpora), Roy bersama RH kini kembali berhasil giat kebutuhan politisnya menarik (kolaborasi) beberapa rekan pembela hukum yang gen nya tidak jauh dari Prof. DR. Eggi Sudjana,SH.,MSI dan DHL.
Patut dipertanyakan kepada Roy, apakah secara kepribadian punya kekecewaan secara politis, karena sebelumnya memiliki persahabatan yang kental dengan Jokowi (saat pra Gubernur DKI) sebelum menduduki Presiden RI ?
Dan RH Youtuber papan atas dan ahli tata negara pun ikut mencoba merangkap pengacara perkara pidana "?" eksis resmi menangani, walau tidak proporsional dari sisi keahlian (tidak profesional), antusiasme namun tidak mempersiapkan diri memperdalam ilmu hukum pidana, idealnya RH elok jika menjadi ahli dari sisi aspek hukum tata negara, lalu fokus tentang apa saja asas asas good government yang jika ada buktikan asas dan sistem hukum yang dilanggar oleh pihak aparatur termasuk Jokowi selaku penyelenggara tertinggi (presiden RI dan kekinian selaku pejabat publik di DANANTARA), dalam makna kewajiban berlaku transparansi dan objektifitas (proporsionalitas, profesional, kredibilitas dan netralitas serta akuntablitas).
Dan setelah membaca artikel ini, tentang karakter beralaskan track record, maka tidak apriori, karena sesuai dengan data empirik atau sepak terjang perilaku Roy dan dinamika (fenomena dengan segala gejala-gejala yang ada), kemudian oleh karenanya *sanggupkah kita* patahkan teori Ariestoteles manusia adalah Zoon Politicon, filosofis buah pikir filsuf asal Yunani kuno yang 100 persen tidak dapat dibantahkan oleh manusia modern serta waras?

