Iran Digembosi, Kritik Keras Ayatullah Abbasi atas Sikap Al-Azhar

Redaksi
Maret 22, 2026 | Maret 22, 2026 WIB Last Updated 2026-03-22T09:41:59Z
Bogor,detiksatu.com || Di tengah panasnya konflik geopolitik yang terus berulang di kawasan Timur Tengah, sebuah pesan terbuka dari Ayatullah Dr. Ali Abbasi kepada Prof. Dr. Ahmad Muhammad Ahmad At-Thayyib "Al Azhar" sebuah kegelisahan serius.

Kritik tersebut bukti adanya kegamangan sikap dunia Islam dalam menghadapi ketidakadilan global.

Surat tersebut berkaitan dengan apa yang telah diterima Iran, sebagai sasaran agresi militer Amerika Serikat, Israel dan sekutunya. 

Abbasi mempertanyakan sikap Al-Azhar yang dinilai tidak konsisten, di satu sisi menyerukan perdamaian dan perlindungan darah umat Islam, namun di sisi lain mengutuk langkah militer Iran sebagai bentuk pembelaan diri, setelah Iran digembur militer AS dan Iarael.

Kegelisahan itu muncul, tentang apa yang disebut sebagai “standar ganda”. Abbasi mempertanyakan, bagaimana mungkin tindakan balasan terhadap agresi militer AS, Israel justru diposisikan sebagai sumber ketidakstabilan, sementara serangan awal (AS, Israel) seolah tidak mendapat penekanan moral yang sama. Dalam perspektifnya, ini bukan hanya soal politik, tetapi juga menyangkut prinsip dasar keadilan dalam ajaran Islam.

Lebih jauh, pesan ini menyinggung aspek yang lebih sensitif, peran negara-negara Muslim di kawasan yang dianggap memberi ruang bagi kekuatan asing untuk melancarkan serangan. Dalam pandangan Abbasi, hal ini bukan semata persoalan strategi geopolitik, tetapi juga menyentuh wilayah teologis, tentang loyalitas, kepemimpinan, dan batas-batas kerja sama dengan pihak yang dianggap memusuhi umat Islam.

Namun, di balik kritik tersebut, ada dasar normatif yang kuat dalam ajaran Islam yang sebenarnya merupakan cermin untuk menilai sikap ini.

Kewajiban membela diri dari agresi:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS. Al-Baqarah: 190)

Ayat ini menegaskan bahwa perang dalam Islam bukanlah agresi, melainkan respon terhadap serangan. Membela diri adalah hak, bahkan kewajiban, selama tidak melampaui batas. Dalam konteks ini, kritik Abbasi mengarah pada anggapan bahwa mengutuk pembelaan diri tanpa mengutuk agresi awal akan mengaburkan prinsip dasar ini.

Keharusan menegakkan keadilan secara konsisten:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri…”
(QS. An-Nisa: 135)

Ayat ini menekankan pentingnya keadilan tanpa pandang bulu. Tidak boleh ada keberpihakan yang dipengaruhi kepentingan politik atau tekanan eksternal. Dalam konteks kritik terhadap Al-Azhar, ayat ini menjadi pengingat bahwa otoritas keagamaan harus berdiri di atas prinsip, bukan kompromi.


Larangan bersikap diam terhadap kezaliman:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ

“Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah…”
(QS. An-Nisa: 75)

Ayat ini adalah seruan moral untuk tidak diam ketika ada penindasan. Membela yang lemah bukan hanya tindakan politik, tetapi bagian dari iman. Kritik dalam surat Abbasi dapat dipahami sebagai dorongan agar dunia Islam, termasuk Al-Azhar tidak bersikap pasif dalam menghadapi ketidakadilan.

Loyalitas yang keblinger:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin…”
(QS. An-Nisa: 144)

Ayat ini sering menjadi rujukan dalam diskursus tentang relasi politik umat Islam. Dalam konteks surat tersebut, Abbasi mengkritik negara-negara Muslim yang membuka ruang bagi kekuatan asing untuk menyerang sesama negara Muslim, yang dipandang sebagai bentuk penyimpangan dari prinsip solidaritas umat.

Melalui ayat-ayat ini, terlihat bahwa kritik yang disampaikan bukan karena emosional atau politis, tetapi berusaha memgakar pada dalil normatif dalam Islam. Namun demikian, perlu disadari bahwa penafsiran terhadap ayat-ayat tersebut bisa beragam, dan sering dipengaruhi oleh konteks sosial, politik, dan pendekatan keilmuan masing-masing lembaga.

Yang paling penting untuk dikedepankan adalah semangat keadilan, keberanian moral, dan kejernihan sikap. Surat dari Ayatullah Dr. Ali Abbasi ini, setuju atau tidak, telah membuka ruang refleksi, bahwa dalam menghadapi ketidakadilan global, dunia Islam membutuhkan suara yang konsisten dan berakar kuat pada nilai-nilai Al-Qur’an.

Bogor, Minggu 22 Maret 2026, 
Sumber: Prof. Eggi Sudjana

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Iran Digembosi, Kritik Keras Ayatullah Abbasi atas Sikap Al-Azhar

Trending Now