Tangis Gubernur Dedi Mulyadi Warnai Shalat Idul Fitri di Gedung Sate, Soroti Kemiskinan Ekstrem, Ungkap Warga Tak Mampu Beli Kafan

Maret 22, 2026 | Maret 22, 2026 WIB Last Updated 2026-03-22T03:20:43Z
Bandung, detiksatu.com || Momen Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang seharusnya menjadi hari penuh kebahagiaan dan kemenangan, justru diwarnai suasana haru mendalam di Kota Bandung. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tak kuasa menahan tangis saat menyampaikan pidato di hadapan ribuan warga usai pelaksanaan shalat Id di halaman Gedung Sate, Sabtu (21/3/2026).

Suara Dedi terdengar bergetar ketika ia mengungkapkan pengalaman emosional yang baru saja dialaminya. Di tengah suasana Lebaran yang identik dengan kebahagiaan, silaturahmi, dan rasa syukur, ia justru dihadapkan pada kenyataan pahit yang masih terjadi di tengah masyarakat.

Dalam kegiatan sosial yang dilakukannya, Dedi menemukan adanya warga yang hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan. Ia menyaksikan langsung sebuah keluarga yang bahkan tidak mampu membeli kain kafan untuk mengurus jenazah anggota keluarganya.

Temuan tersebut menjadi pukulan emosional yang mendalam baginya. Dengan mata berkaca-kaca, Dedi mengaku sangat terpukul karena realitas tersebut masih terjadi di Jawa Barat, provinsi yang dipimpinnya.

“Di hari kemenangan ini, saya justru menemukan kesedihan. Masih ada saudara-saudara kita yang kesulitan bahkan untuk mengurus kematian keluarganya,” ujarnya lirih di hadapan jamaah.

Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan ekonomi semata, tetapi juga menyentuh aspek paling mendasar dari kemanusiaan: martabat dan penghormatan terakhir bagi seseorang yang telah meninggal dunia.

Dalam kesempatan itu, Dedi juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Namun, permintaan maaf tersebut bukan sekadar tradisi Idulfitri yang lazim dilakukan, melainkan refleksi mendalam sebagai seorang pemimpin.

Ia mengaku merasa belum mampu sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Jawa Barat. Dengan penuh kejujuran, ia menyadari bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam mengatasi kemiskinan ekstrem.

“Saya mohon maaf lahir dan batin, tetapi juga mohon maaf sebagai pemimpin yang belum bisa memastikan semua rakyat hidup layak,” ucapnya.

Pernyataan tersebut disambut keheningan oleh ribuan warga yang hadir. Banyak di antara mereka yang turut larut dalam suasana haru, merasakan kepedihan yang disampaikan oleh orang nomor satu di Jawa Barat tersebut.

Dedi menegaskan bahwa permasalahan kemiskinan dan ketimpangan sosial bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Ia mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai gotong royong yang telah lama menjadi identitas bangsa Indonesia.

Menurutnya, solidaritas sosial merupakan kunci utama dalam mengatasi berbagai persoalan kemanusiaan.
“Kalau kita saling peduli, tidak akan ada lagi yang kesulitan, bahkan untuk hal paling mendasar seperti mengurus jenazah,” katanya.

Ia juga berharap agar ke depan tidak ada lagi warga yang harus menghadapi situasi serupa. Pemerintah daerah, lanjutnya, akan terus berupaya memperkuat program bantuan sosial dan memastikan bantuan tepat sasaran.

Kisah yang diungkapkan Dedi Mulyadi tersebut dengan cepat menyebar dan menjadi sorotan publik. Banyak masyarakat yang tersentuh oleh pernyataan dan empati yang ditunjukkan sang gubernur.

Di berbagai platform media sosial, warganet mengungkapkan rasa haru sekaligus kepedulian. Tidak sedikit yang tergerak untuk ikut berbagi dan membantu sesama, khususnya bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan ekstrem.

Beberapa komunitas sosial bahkan mulai menginisiasi gerakan bantuan, termasuk penyediaan perlengkapan pemakaman gratis bagi warga kurang mampu.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Idulfitri bukan hanya tentang perayaan dan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga momentum untuk melakukan refleksi diri dan meningkatkan kepedulian sosial.

Di balik gemerlap kebahagiaan Lebaran, masih terdapat luka sosial yang perlu disembuhkan bersama. Ketimpangan ekonomi dan kemiskinan ekstrem masih menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi secara kolektif.

Dedi berharap, semangat kebersamaan dan empati yang muncul di momen ini tidak hanya berlangsung sesaat, tetapi terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga tidak ada lagi yang merasa sendirian, bahkan di saat paling sulit dalam hidupnya,” tutupnya.

Momen haru di Hari Raya Idulfitri tahun ini pun menjadi cermin bagi semua pihak, bahwa kemenangan sejati bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang kemampuan untuk saling menguatkan dan membantu sesama.

Red-Ervinna
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tangis Gubernur Dedi Mulyadi Warnai Shalat Idul Fitri di Gedung Sate, Soroti Kemiskinan Ekstrem, Ungkap Warga Tak Mampu Beli Kafan

Trending Now