Jakarta,detiksatu.com II Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Universitas Hasanuddin menjadi simbol nyata kolaborasi antara kecerdasan akademik dan pemenuhan hajat hidup orang banyak.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini bukan sekadar urusan dapur, melainkan manifestasi kebijakan publik yang berpijak pada fondasi ilmu pengetahuan.
“Ini bukan hanya dapur dalam pengertian operasional, ini adalah laboratorium hidup. Di sinilah ilmu, riset, inovasi, dan praktik bertemu dalam satu ekosistem yang utuh,” kata Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) Abdul Rivai Ras dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (04/05/202).
Langkah ini dinilai mampu menghapus sekat antara teori di meja kuliah dengan realitas pengabdian di tengah masyarakat. Integrasi tersebut memastikan setiap bulir nasi dan nutrisi yang disajikan telah melalui proses uji ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Selama ini kita sering melihat riset berhenti di meja akademik, sementara praktik berjalan tanpa basis ilmiah yang kuat. Model seperti ini memutus mata rantai tersebut. Apa yang diteliti langsung diuji dan apa yang dijalankan langsung bisa diperbaiki secara ilmiah,” katanya.
Model integrasi vertikal ini telah menjadi standar di berbagai negara maju guna memastikan kualitas hasil produksi yang berkelanjutan. Kedekatan antara ruang belajar dan pusat produksi akan melahirkan efisiensi serta akselerasi teknologi gizi yang sangat dibutuhkan umat.
“Ketika pusat pembelajaran berdiri berdampingan dengan pusat produksi, proses inovasi menjadi jauh lebih cepat, adaptif, dan terukur. Ini yang kita lihat mulai dibangun di Unhas melalui dapur MBG,” ucapnya.
Melalui SPPG ini, perguruan tinggi membuktikan perannya bukan sekadar pencetak ijazah, melainkan motor penggerak solusi konkret bagi kedaulatan bangsa. Harapannya, model di Makassar ini menjadi rujukan nasional agar program nasional ini tidak hanya besar secara angka, tetapi juga berkah secara dampak.
“Ini adalah contoh bagaimana kebijakan publik bertemu dengan keunggulan akademik. Ketika keduanya berjalan bersama, kita tidak hanya menjalankan program, tetapi membangun sistem yang kuat untuk masa depan,” tutur Abdul.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto bersama Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana telah meresmikan fasilitas ini pada Selasa (28/4). Brian menegaskan bahwa langkah ini adalah bukti nyata dukungan dunia pendidikan terhadap program strategis demi masa depan generasi Indonesia.
“Intinya adalah bagaimana dari perguruan tinggi bisa menjalankan peran untuk mendukung program prioritas Bapak Presiden, salah satunya adalah program MBG,” kata dia saat peresmian tersebut.
Dadan Hindayana memberikan apresiasi tinggi atas keterbukaan pihak universitas yang bersedia terjun langsung mengawal program strategis ini. Inovasi dan sumber daya manusia dari kampus diyakini akan memberikan manfaat besar bagi keberhasilan agenda penguatan gizi nasional.
“Keterbukaan kampus untuk terlibat dalam program MBG sangat penting karena teknologi, sumber daya manusia, dan inovasi yang dimiliki perguruan tinggi akan banyak manfaatnya untuk pengembangan program ini,” ucap Dadan.[]


