Sumbawa,detiksatu.com | | Matahari belum tinggi ketika puluhan warga Dusun Musuk, Desa Tangkam Pulit, Kecamatan Batu Lanteh, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mengayunkan cangkul dan sekop di jalur tanah sepanjang sekitar 12 kilometer yang membelah kawasan perbukitan, Minggu (26/07/2026). Mereka tidak sedang membangun proyek pemerintah. Mereka sedang membuka harapan.
Di tengah medan terjal dan akses yang sulit dilalui kendaraan, warga bergotong royong memperbaiki jalan desa secara swadaya. Jalan tersebut selama bertahun-tahun menjadi urat nadi bagi petani kopi, jahe, kunyit, dan berbagai hasil perkebunan lainnya yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Namun persoalan yang mereka hadapi bukan sekadar soal ekonomi. Jalan yang rusak juga menyangkut keselamatan jiwa.
Sekretaris Desa Tangkam Pulit, Syamsul, mengatakan kondisi akses jalan selama ini sangat menyulitkan warga, terutama ketika ada masyarakat yang membutuhkan penanganan medis darurat.
"Kalau ada warga sakit, terutama lansia, sering kali harus ditandu karena kendaraan tidak bisa menjangkau beberapa titik jalan. Ini yang menjadi keprihatinan kami," ujarnya di sela kegiatan gotong royong.
Pemandangan warga menggotong orang sakit menuju akses kendaraan terdekat bukan cerita lama yang sudah berlalu. Bagi masyarakat Musuk, kondisi itu masih menjadi kenyataan yang harus dihadapi ketika musim hujan datang atau saat jalan semakin rusak.
Karena itu, warga memilih bergerak sendiri.
Setiap Minggu, masyarakat turun ke lapangan memperbaiki jalan secara bertahap. Mereka meratakan badan jalan, mengangkat batu, menggali saluran air, hingga membuka titik-titik yang selama ini menjadi hambatan utama kendaraan roda dua maupun roda empat.
Kepala Dusun Musuk, H. Hasanuddin, menjelaskan kegiatan tersebut difokuskan pada sejumlah lokasi prioritas, yakni kawasan Brang Sabana, Brang Salam, dan beberapa titik genangan yang sering menghambat mobilitas warga.
"Ini murni gotong royong masyarakat. Kami ingin jalan ini bisa dilalui kendaraan sehingga aktivitas warga lebih lancar," katanya.
Bagi warga Batu Lanteh, jalan bukan hanya infrastruktur. Jalan adalah akses menuju sekolah, puskesmas, pasar, dan kehidupan yang lebih layak.
Ketika jalan rusak, hasil kopi yang dipanen petani sulit keluar dari desa. Biaya angkut meningkat. Harga jual hasil pertanian menjadi kurang kompetitif. Bahkan dalam kondisi tertentu, warga harus berjalan kaki berjam-jam untuk mencapai akses transportasi yang lebih baik.
Meski demikian, semangat gotong royong tetap hidup. Puluhan warga tampak bekerja tanpa upah, bergantian memegang cangkul dan sekop di bawah terik matahari.
Sayangnya, keterlibatan lintas dusun belum sepenuhnya optimal. Menurut warga, koordinasi antarwilayah masih perlu diperkuat agar upaya perbaikan jalan dapat berjalan lebih cepat dan merata.
Di tengah keterbatasan tersebut, masyarakat berharap pemerintah tidak menutup mata.
Warga meminta Pemerintah melalui instansi terkait dapat memberikan perhatian serius terhadap akses jalan di wilayah Batu Lanteh yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.
Mereka berharap gotong royong yang dilakukan saat ini menjadi sinyal bahwa masyarakat telah menunjukkan kesungguhan. Kini giliran pemerintah hadir dengan perbaikan yang lebih permanen.
Sebab bagi warga Musuk, jalan yang layak bukan sekadar soal kenyamanan perjalanan. Jalan adalah penghubung harapan, ekonomi, pendidikan, dan keselamatan warga yang hidup di pelosok pegunungan Sumbawa. (san/bgs)