Ancak Agung Jadi Panggung Pesan Toleransi dari Jember

Ancak Agung Jadi Panggung Pesan Toleransi dari Jember

Agustus 22, 2026 | Agustus 22, 2026 WIB Last Updated 2026-08-22T16:38:38Z
JEMBER , detiksatu.com || Ribuan orang larut dalam kemeriahan Kirab Pawai Budaya Ancak Agung di Kabupaten Jember, Sabtu (22/8/2026). Namun, di balik kemeriahan tradisi yang digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan RI itu, terselip pesan yang lebih luas: merawat persaudaraan di tengah keberagaman.

Sebanyak 867 peserta ancak ikut ambil bagian. Mereka datang dari berbagai unsur, mulai organisasi perangkat daerah (OPD), puskesmas, pemerintah desa dan kelurahan, sekolah hingga lembaga kemasyarakatan.

Keragaman peserta tersebut membuat Ancak Agung tidak sekadar menjadi agenda budaya tahunan. Kirab berubah menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen Jember dalam satu barisan.

Hasil bumi dan makanan tradisional yang ditata dalam ancak menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas rezeki sekaligus kekayaan potensi daerah. Tradisi yang diwariskan antargenerasi itu juga memperlihatkan bagaimana budaya tetap hidup karena dikerjakan secara bersama-sama.

Bupati Jember Gus Fawait menempatkan momentum tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan. Menurut dia, Maulid Nabi dan peringatan kemerdekaan memiliki benang merah yang sama, yakni mengajarkan pentingnya persaudaraan, kepedulian dan kecintaan terhadap sesama.

Pesan itu diperkuat dengan simbol yang dikenakannya dalam kirab. Gus Fawait mengenakan syal bercorak Indonesia dan Palestina.

Ia menegaskan, penggunaan simbol tersebut tidak berkaitan dengan persoalan agama, melainkan bentuk kepedulian terhadap nilai kemanusiaan.

“Ini bukan urusan agama, tetapi ini adalah urusan kemanusiaan. Mudah-mudahan dari Jember untuk Indonesia dan untuk dunia, kita menunjukkan bahwa di Jember toleransi tetap harus kita jaga bersama-sama,” kata Gus Fawait.

Ia mengaitkan sikap tersebut dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa.

Bagi Gus Fawait, pesan kemanusiaan tidak cukup berhenti dalam simbol. Nilai tersebut harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana masyarakat memperlakukan orang yang berbeda keyakinan.

Keteladanan Nabi Muhammad SAW, lanjut dia, salah satunya tercermin dari akhlak dalam menghormati sesama.

“Kecintaan kepada Rasulullah harus kita buktikan dengan akhlak. Kalau mengaku umat Nabi Muhammad, tidak mungkin akan mengganggu ibadah agama yang lain,” tegasnya.

Pesan toleransi tersebut menjadi salah satu warna kuat dalam pelaksanaan Ancak Agung tahun ini. Tradisi keagamaan dan budaya dipadukan dengan semangat kebangsaan, sementara keberagaman peserta menjadi gambaran bahwa perbedaan tidak harus menjadi jarak.

Justru dari perbedaan itu, kata Gus Fawait, Jember dapat membangun kekuatan bersama.

Ancak Agung juga memperlihatkan wajah lain Jember. 

Hasil pertanian, makanan tradisional dan kreativitas warga berpadu dalam satu kirab. Masyarakat tidak hanya mempertontonkan tradisi, tetapi juga memperkenalkan potensi yang lahir dari kehidupan sehari-hari.

Gus Fawait berharap penyelenggaraan Ancak Agung ke depan terus berkembang dengan melibatkan masyarakat lebih luas.

“Ancak Agung mungkin tidak seberapa, tetapi ini membuat kita bahagia karena kita bisa berkumpul bersama. Mudah-mudahan tahun depan lebih besar lagi,” ujarnya.

Ia pun menutup pesannya dengan ajakan agar tradisi tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.

“Dari Jember untuk Indonesia, dari Jember untuk dunia. Mari kita jaga tradisi, kita kuatkan ukhuwah, kita rawat toleransi, dan kita angkat marwah Jember bersama-sama,” pungkasnya.

(Wiwik)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ancak Agung Jadi Panggung Pesan Toleransi dari Jember

Trending Now