Kampung Emas Mentari Puskesmas Sukanagalih Didorong Jadi Model Inovasi Kesehatan di Cianjur

Kampung Emas Mentari Puskesmas Sukanagalih Didorong Jadi Model Inovasi Kesehatan di Cianjur

Agustus 18, 2026 | Agustus 18, 2026 WIB Last Updated 2026-08-18T06:15:09Z

CIANJUR,DETIKSATU.COM || Inovasi pelayanan kesehatan Kampung Emas Mentari yang dikembangkan Puskesmas Sukanagalih, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mendapat perhatian dari Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur.

Program yang mengusung upaya eliminasi anemia dan stunting serta mendukung target penurunan kematian ibu dan bayi itu dinilai memiliki kekuatan pada kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan data, serta keterlibatan masyarakat dalam mendeteksi dan menangani kelompok berisiko.

Penilaian tersebut disampaikan setelah tim verifikasi Bapperida dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur melakukan verifikasi lapangan di Desa Sukanagalih, Kecamatan Pacet, Selasa (18/8/2026).

Perencana Ahli Muda Bapperida Kabupaten Cianjur, Agung, mengatakan Kampung Emas Mentari menunjukkan bahwa inovasi pelayanan publik tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan perangkat pemerintahan di tingkat paling dekat dengan warga.

Menurut dia, pemerintah desa, RT/RW, Puskesmas, kader Posyandu, kader PKK dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam memastikan persoalan kesehatan dapat diketahui lebih awal dan ditindaklanjuti.

“Inovasi itu butuh kolaborasi dari semua unsur—pemerintah desa melalui RT/RW, Puskesmas, kader Posyandu, kader PKK, hingga tetangga kanan-kiri yang turut terlibat. Ini contoh yang sangat baik,” ujar Agung.

Ia menilai salah satu aspek penting dari Kampung Emas Mentari adalah kombinasi antara pendekatan digital dan pelayanan langsung di lapangan.

Puskesmas menggunakan pemetaan berbasis data untuk membantu mengidentifikasi keberadaan ibu hamil serta kelompok yang memiliki risiko kesehatan. Data tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam menentukan langkah pemantauan dan intervensi di lapangan.

Pendekatan berbasis teknologi itu tidak berdiri sendiri. Puskesmas tetap mengandalkan kunjungan lapangan, edukasi kesehatan, sosialisasi berkala, serta pendampingan masyarakat melalui kader.

Pola tersebut, kata Agung, menunjukkan bahwa transformasi pelayanan publik tidak semata-mata berbicara mengenai digitalisasi, tetapi bagaimana data dapat digunakan untuk menghasilkan tindakan yang tepat di tingkat masyarakat.

“Pemerintah dituntut berinovasi untuk menyelesaikan masalah publik yang semakin kompleks. Kita tidak bisa lagi menggunakan cara biasa. Saya berharap program ini minimal direplikasi di tingkat kecamatan hingga seluruh Kabupaten Cianjur,” katanya.

Ketua Tim Kerja Kesehatan Keluarga Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Rina Yudiantini, mengatakan Kampung Emas Mentari menjadi salah satu contoh bahwa peningkatan mutu pelayanan dapat dilakukan melalui inovasi sesuai kebutuhan wilayah kerja masing-masing puskesmas.

Rina menilai pendekatan tersebut relevan dengan agenda peningkatan kesehatan ibu dan anak, termasuk percepatan penurunan stunting serta penguatan deteksi dini terhadap kelompok rentan.

“Meskipun Puskesmas Sukanagalih bukan puskesmas rawat inap maupun PONED, keunggulannya terlihat dari komitmen melampaui Standar Pelayanan Minimal,” ujar Rina.

Menurut dia, keberhasilan program kesehatan tidak dapat hanya dibebankan kepada fasilitas kesehatan. Pemerintah desa, masyarakat, kader, sektor swasta dan perangkat daerah perlu membangun koordinasi agar intervensi dapat dilakukan secara terpadu.

“Inovasi Kampung Emas Mentari ini menjadi inspirasi bagaimana kolaborasi lintas sektor—antara masyarakat, swasta, dan dinas—dapat terjalin dengan efektif,” katanya.

Rina mengatakan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur terus mendorong setiap puskesmas menghasilkan inovasi yang berangkat dari pemetaan masalah dan potensi wilayah.

Dengan pendekatan tersebut, inovasi tidak sekadar menjadi program untuk memenuhi penilaian, tetapi diharapkan menjadi bagian dari sistem pelayanan yang dapat memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

Verifikasi lapangan terhadap Kampung Emas Mentari menjadi bagian dari proses penilaian inovasi daerah Kabupaten Cianjur 2026.

Program tersebut mengintegrasikan upaya pencegahan anemia dan stunting dengan penguatan kesehatan ibu dan anak melalui pemetaan sasaran, edukasi, kunjungan lapangan serta pelibatan kader dan masyarakat.

Bapperida dan Dinas Kesehatan melihat pola kolaborasi tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan di wilayah lain dengan menyesuaikan karakteristik dan persoalan kesehatan masing-masing daerah.

Bagi Puskesmas Sukanagalih, tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan inovasi, tetapi memastikan pendekatan yang telah dibangun dapat berjalan secara konsisten, berbasis data, terukur dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Jika dapat dipertahankan dan direplikasi secara tepat, Kampung Emas Mentari berpotensi menjadi salah satu model penguatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat di Kabupaten Cianjur. (Bet)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kampung Emas Mentari Puskesmas Sukanagalih Didorong Jadi Model Inovasi Kesehatan di Cianjur

Trending Now