Pantun Melayu Kapuas Hulu Kembali Dihidupkan, Generasi Muda Jadi Garda Pelestari Budaya

Pantun Melayu Kapuas Hulu Kembali Dihidupkan, Generasi Muda Jadi Garda Pelestari Budaya

Agustus 10, 2026 | Agustus 10, 2026 WIB Last Updated 2026-08-10T12:30:40Z
Putussibau,detiksatu.com || Upaya menghidupkan kembali tradisi pantun Melayu di Kabupaten Kapuas Hulu terus dilakukan. Salah satunya melalui Workshop Pantun Melayu Kapuas Hulu bertema “Revitalisasi Pantun Urang Ulu di Bumi Uncak Kapuas”, yang digelar di Putussibau, Minggu (9/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar sekaligus bertukar pengetahuan bagi generasi muda, pelajar, mahasiswa, seniman, dan pegiat budaya untuk mengenal serta mengembangkan pantun sebagai bagian dari warisan sastra lisan masyarakat Melayu Kapuas Hulu.
Workshop diikuti sekitar 30 peserta yang berasal dari STIT Iqra’ Kapuas Hulu, pelajar SMP dan SMA, sanggar seni dan budaya, serta organisasi sosial kemasyarakatan.

Para peserta mendapatkan materi mengenai struktur pantun, persajakan, pemilihan kata, sampiran dan isi, hingga teknik menciptakan pantun. Selain teori, peserta juga mengikuti diskusi, praktik membuat pantun, pembacaan pantun, serta berbalas pantun.
Materi disampaikan oleh Syamsiah, S.Pd., M.Pd. dan Muhammad Kasim, S.Pd.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu yang diwakili Kabid Pendidikan Yohanes Niko, Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Kapuas Hulu, serta tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh adat, seniman, budayawan dan pegiat budaya.

Mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu, Kabid Pendidikan Yohanes Niko mengapresiasi pelaksanaan workshop tersebut.

Menurutnya, pantun tidak hanya menjadi bagian dari kekayaan budaya, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan dapat menjadi sarana pembentukan karakter generasi muda.

«“Kami dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu sangat mengapresiasi kegiatan workshop pantun ini. Pantun merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu diperkenalkan kepada generasi muda melalui pendidikan maupun kegiatan kebudayaan,” ujar Yohanes Niko.»

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan melibatkan lebih banyak pelajar dan satuan pendidikan di Kabupaten Kapuas Hulu.

Sementara itu, Ketua Panitia M. Hatta Kusumadinata mengatakan, workshop tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga eksistensi pantun Melayu agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Menurutnya, pantun memiliki nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Melayu.

«“Pantun bukan hanya rangkaian kata yang indah, tetapi di dalamnya terdapat nilai kehidupan, nasihat, etika dan kearifan lokal masyarakat Melayu. Karena itu, pantun harus terus dipelajari, digunakan dan diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.»

M. Hatta juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan, di antaranya Sanggar BETABUH Kapuas Hulu, Sahabat Beramal Kapuas Hulu, Pagar Budaya Cabang Kapuas Hulu, dan N1 Sablon.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat yang telah hadir dan membuka kegiatan workshop tersebut.

Di kesempatan yang sama, Muhammad Kasim, S.Pd., selaku penerima bantuan sekaligus pengusul program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan, menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diberikan sehingga kegiatan dapat terlaksana.

«“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan. Bantuan ini sangat berarti untuk melaksanakan kegiatan pelestarian dan pengembangan pantun Melayu Kapuas Hulu. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi generasi muda,” katanya.»

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat, Juliadi, menegaskan bahwa pelestarian kebudayaan membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik sekaligus pelaku kebudayaan.

«“Kebudayaan akan terus hidup apabila masyarakatnya ikut terlibat. Kegiatan seperti workshop pantun ini penting sebagai ruang belajar, berkreasi dan mewariskan pengetahuan budaya kepada generasi berikutnya,” ujarnya.»

Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti materi dan praktik. Mereka diajak menyusun pantun dengan memperhatikan persajakan a-b-a-b, sampiran, isi, serta mengangkat tema budaya, pendidikan, nasihat, lingkungan dan kehidupan masyarakat Kapuas Hulu.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan lahir generasi baru pantunis, penulis, seniman dan pegiat budaya yang mampu menjaga sekaligus mengembangkan pantun Melayu Kapuas Hulu.

Workshop Pantun Melayu Kapuas Hulu menjadi langkah nyata untuk memastikan pantun tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi tetap hidup, digunakan dan berkembang di tengah masyarakat.

Ke hulu mencari seluang,
Singgah sebentar di tepian.
Pantun Melayu terus dikenang,
Warisan hidup sepanjang zaman.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pantun Melayu Kapuas Hulu Kembali Dihidupkan, Generasi Muda Jadi Garda Pelestari Budaya

Trending Now