Pascagempa: Warga Tonggorambang Dan Mbay II Hidup Lima Hari Tanpa Listrik

Pascagempa: Warga Tonggorambang Dan Mbay II Hidup Lima Hari Tanpa Listrik

Agustus 19, 2026 | Agustus 19, 2026 WIB Last Updated 2026-08-19T12:51:23Z

NAGEKEO,DETIKSATU.COM || Tangis haru dan rasa cemas masih menyelimuti warga Mbay II dan Tonggorambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasca bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo pada Sabtu (15/8/2026), ribuan jiwa kini terpaksa bertahan di tenda pengungsian darurat.

Hingga Rabu (19/8/2026) malam, warga masih mengungsi dan tidur berdesakan di lokasi darurat yang didirikan secara swadaya di halaman rumah dengan kondisi gelap gulita. Gempa susulan yang masih kerap terjadi membuat masyarakat mengalami trauma berat untuk kembali ke rumah masing-masing.

Salah satu warga Tonggorambang, Muhadir, mengungkapkan bahwa rasa ketakutan masyarakat masih sangat tinggi karena gempa susulan terus terjadi.

“Dari malam pertama pasca gempa sampai saat ini belum ada informasi resmi dari PLN. Bantuan darurat penerangan dari Pemda Nagekeo juga tidak ada. Kami warga Desa Tonggorambang ini korban terdampak yang dengan jarak dari pesisir pantai kurang lebih 1 km,”ujar Muhadir kepada detiksatu.com, Rabu (19/8/2026).

Muhadir menjelaskan bahwa fasilitas di lokasi pengungsian korban gempa ini sangat terbatas. Warga hanya beralaskan tikar seadanya tanpa perlengkapan tidur yang memadai untuk melindungi diri dari udara dingin malam.

Selain keterbatasan sarana tidur kebutuhan dasar, masalah penerangan menjadi kendala yang fatal di setiap tempat pengungsi. Suplai daya listrik terputus total pascagempa, memaksa masyarakat memutar otak demi mendapatkan cahaya di malam hari.

Lumpuhnya suplai daya listrik membuat warga semakin panik. Kondisi memprihatinkan ini tidak hanya dialami oleh warga Tonggorambang. Di Mbay II Kecamatan Aesesa, juga menunjukkan pemandangan serupa.

Masyarakat kini sangat mengharapkan uluran tangan dari pemerintah daerah maupun lembaga penanggulangan bencana agar penyaluran bantuan genset dapat segera menjangkau di Tonggorambang dan Mbay II.

"Kami membutuhkan bantuan yang tepat guna dengan kondisi kami di sini. Banyak rumah warga yang rusak dan roboh, sudah lima malam kami gelap gulita, kami terpaksa menggunakan senter handphone" tegas Muhadir.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari PLN Mbay. Warga Tonggorambang dan Mbay II masih memilih untuk mengungsi dan berjaga pada malam hari sampai situasi dinyatakan benar-benar aman oleh pihak berwenang.

Reporter: Stefan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pascagempa: Warga Tonggorambang Dan Mbay II Hidup Lima Hari Tanpa Listrik

Trending Now