Ahmad Kailani, Ketua KAMUS Pasbar: Pilihlah Pemimpin Amanah, Bukan karena Risywah/Sogok

Ahmad Kailani, Ketua KAMUS Pasbar: Pilihlah Pemimpin Amanah, Bukan karena Risywah/Sogok

September 25, 2026 | September 25, 2026 WIB Last Updated 2026-09-25T08:09:41Z

Pasaman barat,detiksatu.com || Menjelang pelaksanaan Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) di sejumlah nagari di Kabupaten Pasaman Barat, masyarakat diingatkan agar menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam menentukan pemimpin serta menjauhi praktik risywah atau sogok.

Pesan tersebut disampaikan Ahmad Kailani, S.Pd., M.Pd., Ketua DPD KAMUS (Keluarga Alumni dan Abituren Musthafawiyah) Pasaman Barat periode 2025–2028, yang juga dikenal sebagai pendakwah muda dan akademisi.

Kepada Detiksatu.com, Jumat (25/9/2026), Kailani mengatakan kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar jabatan, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

“Dalam Islam, kepemimpinan itu amanah. Ketika kita memberikan pilihan kepada seseorang, kita sedang memberikan kepercayaan untuk mengurus kepentingan ummat,” ujar Kailani.

Menurut Kailani, prinsip tersebut sejalan dengan pesan QS. An-Nisa ayat 58, yang mengajarkan agar amanah diberikan kepada orang yang berhak menerimanya dan setiap keputusan di antara manusia dilakukan dengan adil.

Karena itu, Kailani mengajak masyarakat tidak memilih hanya karena popularitas, hubungan keluarga maupun pemberian. Menurutnya, calon pemimpin perlu dilihat dari akhlak, kejujuran, kemampuan, rekam jejak dan gagasannya.

Ia kemudian mengingatkan pesan QS. Al-Qashash ayat 26, bahwa orang yang paling baik untuk diberi tanggung jawab adalah orang yang kuat atau memiliki kemampuan serta dapat dipercaya.

“Lihat akhlaknya, lihat amanahnya, lihat kemampuannya, lihat rekam jejaknya dan lihat gagasannya untuk masyarakat,” kata Kailani.

Jangan Tukarkan Suara dengan Risywah

Kailani juga mengingatkan masyarakat agar tidak menukarkan hak pilih dengan uang atau pemberian yang bertujuan mempengaruhi pilihan.

“Jangan sampai suara yang menentukan masa depan nagari ditukar dengan sesuatu yang hanya menjadi nikmati sesaat,” tegas Kailani.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan QS. Al-Baqarah ayat 188, yang mengingatkan agar manusia tidak memakan harta orang lain dengan cara yang batil.

Menurut Kailani, peringatan tersebut semakin jelas dalam hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa orang yang memberi suap dan orang yang menerima suap sama-sama mendapat laknat.

“Karena itu, jangan membiasakan politik kita dengan transaksi. Jangan sampai suara rakyat menjadi barang yang diperjualbelikan,” ujar Kailani.

Namun, Kailani juga mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan menuduh seseorang melakukan politik uang tanpa bukti.

“Kalau ada dugaan pelanggaran, tentu harus dilihat fakta, bukti dan ketentuan hukum yang berlaku. Kita jangan mudah menuduh, tetapi jangan pula membiarkan kalau memang ada praktek yang bertentangan dengan aturan,” katanya.

Memilih Pemimpin Juga Amanah

Kailani menilai tanggung jawab dalam Pilwana bukan hanya berada pada calon yang terpilih, tetapi juga pada masyarakat yang memberikan suara.

Ia mengingatkan pesan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Menurut Kailani, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa memberikan suara juga harus dilakukan secara bertanggung jawab.

“Jangan memilih hanya karena diberi sesuatu. Pilihlah karena kita percaya orang tersebut mampu menjalankan amanah,” ujarnya.

Kailani berharap Pilwana menjadi momentum membangun budaya politik nagari yang sehat dan bermartabat.

“Calon menawarkan gagasan, masyarakat menilai. Calon menyampaikan visi dan program, masyarakat mempertimbangkan. Calon menunjukkan rekam jejak dan akhlaknya, masyarakat menentukan pilihan,” katanya.

Ia juga berharap siapapun yang terpilih nantinya dapat menjadi pemimpin bagi seluruh masyarakat, bukan hanya bagi kelompok yang mendukungnya.

“Jabatan itu amanah. Jangan hanya memikirkan bagaimana mendapatkan jabatan, tetapi bagaimana menjalankan amanah setelah jabatan itu diberikan,” ujar Kailani.

Ajak Alumni Musthafawiyah Berdakwah

Sebagai Ketua DPD KAMUS Pasaman Barat, Kailani juga mengajak para alumni dan abituren Musthafawiyah untuk ikut meluruskan dan mendakwahkan kepada umat tentang pentingnya memilih pemimpin yang amanah serta menjauhi risywah.

“Saya mengajak seluruh alumni dan abituren Musthafawiyah untuk sama-sama meluruskan dan mendakwahkan kepada umat. Jangan ikut dalam praktik risywah, baik sebagai pemberi maupun penerima, termasuk bagi calon yang merupakan alumni Musthafawiyah,” ujar Kailani.

Menurutnya, nilai-nilai agama yang dipelajari di pondok harus tercermin dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam proses politik/siyasah di nagari.

Kailani berharap Pilwana tidak menjadi ajang mempertajam perpecahan, tetapi menjadi ruang untuk menjaga ukhuwah dan silaturrahmi, berlomba dalam gagasan dan kebaikan (fastabiqul Khoirot), serta memilih pemimpin yang mampu menjaga amanah.

“Mari kita berlomba dalam gagasan dan kebaikan, bukan berlomba dalam memberikan sogokan. Siapapun yang terpilih nantinya, mari kita hormati dan kita kawal agar amanah,” pungkas Kailani.
(/R.H)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ahmad Kailani, Ketua KAMUS Pasbar: Pilihlah Pemimpin Amanah, Bukan karena Risywah/Sogok

Trending Now