Jejak Sejarah Desa Suka Maju: Dari Pulau Lunsara hingga Menjadi Perkampungan Dakwah

Jejak Sejarah Desa Suka Maju: Dari Pulau Lunsara hingga Menjadi Perkampungan Dakwah

September 02, 2026 | September 02, 2026 WIB Last Updated 2026-09-02T15:00:33Z

Kapuas hulu,detiksatu.com || Setiap desa memiliki perjalanan sejarah yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakatnya. Begitu pula Desa Suka Maju, Kecamatan Putusselatan, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Jauh sebelum dikenal dengan nama Desa Suka Maju, wilayah tersebut memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan keberadaan Pulau Lunsara, kehidupan masyarakat di tepian Sungai Kapuas, serta perjalanan para perintis yang membuka kawasan tersebut sebagai tempat bermukim.

Berdasarkan catatan sejarah desa yang dihimpun dari sejumlah sumber masyarakat, nama Lunsara disebut berasal dari bahasa suku Taman yang berarti “Pulau Besar”.

Lunsara, Tempat Persinggahan Para Perantau

Sebelum era 1940-an, kawasan Lunsara disebut belum menjadi permukiman permanen. Wilayah tersebut lebih dikenal sebagai tempat persinggahan alami bagi para perantau Melayu dan berbagai kelompok masyarakat yang menyusuri Sungai Kapuas menuju wilayah hulu.

Pada masa itu, perahu menjadi sarana utama transportasi. Para perantau biasanya berangkat dari Putussibau sejak pagi untuk menempuh perjalanan melalui aliran Sungai Kapuas.

Setelah menempuh perjalanan seharian, Pulau Lunsara menjadi salah satu lokasi untuk beristirahat dan menambatkan perahu.

Ketika cuaca buruk atau kondisi sungai tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, para perantau bahkan harus tinggal selama beberapa hari. Sambil menunggu keadaan membaik, mereka mulai membuka lahan, menebas semak, membuat ladang, serta menanam berbagai tanaman di sekitar tepian sungai.

Dari aktivitas tersebut, perlahan tumbuh kehidupan masyarakat yang kemudian berkembang menjadi sebuah permukiman.

Benteng Lunsara dan Hubungan Antar-Etnis

Sejarah Lunsara juga tidak terlepas dari kondisi sosial dan keamanan masyarakat di wilayah hulu pada masa lalu.

Dalam tradisi masyarakat setempat, terdapat kisah mengenai masa ngayau dan berbagai ancaman yang pernah terjadi di kawasan hulu. Salah satu tokoh yang disebut dalam catatan sejarah desa adalah Temenggung Tapak Rajang dari Nanga Erak.

Dalam kisah yang diwariskan masyarakat, Temenggung Tapak Rajang memberikan ruang kepada para perantau untuk bermukim di kawasan Pulau Lunsara.

Keberadaan masyarakat yang tinggal di Lunsara kemudian memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat sekitar. Kawasan tersebut berkembang sebagai tempat tinggal sekaligus bagian dari pertahanan masyarakat lokal.

Catatan tersebut menggambarkan adanya hubungan sosial dan kerja sama antarkelompok masyarakat yang telah berlangsung sejak masa lalu.

Generasi Perintis Tahun 1940–1950

Sekitar tahun 1940, masyarakat mulai membangun permukiman yang lebih permanen di Pulau Lunsara.

Sejumlah nama yang tercatat sebagai generasi perintis antara lain:

  1. Ai Usan dari Mendalam, orang tua dari Pak Ibrahim serta M. Ilyas, Yunus, Bakhtiar, Molyadi, Nurjani dan lainnya.
  2. Imam Alai.
  3. Ai Miring dari Boyan, orang tua dari Ulak Todong.
  4. Itam Bujang Bukah, orang tua dari Piah, Amat, Comat, Cik Rasid, Sa’amah, Lamid dan Syahril.
  5. Ayah Mansur, orang tua dari H. Uju Inal, H. Sa’at, H. Tahir, H. Ipon dan Siti.
  6. Ai Senar, orang tua dari Adam Japar.
  7. Pak Jalil, orang tua dari Abdussamad.
  8. Ai Salan, orang tua dari Inak Uyah, istri Pak Japar.
  9. Dolah/Ai Nsilat, orang tua dari Pak Ngah (Abdussamad), Saenah, Seniah, Dimah, Meliah dan Inung.
  10. Kebayan Junan, orang tua dari Ramat Iman.
  11. Ali Tempiau, yang dikenal karena keahliannya memanjat, orang tua dari Pak Yusup, Rape’ah dan lainnya.
  12. Manap, orang tua dari Zubaidah, istri Ali Delah.
  13. Abang Yaman, dengan keturunan keluarga yang kemudian berkembang menjadi sejumlah rumpun keluarga di kawasan tersebut.
  14. Penghulu Putet, orang tua dari H. Hadrak, H. Husen, Ijah, Ulak Odoi dan lainnya.

Para perintis tersebut menjadi bagian dari sejarah awal terbentuknya komunitas masyarakat Lunsara.

Pindah Menyeberangi Sungai Kapuas

Hingga sekitar tahun 1950, masyarakat masih membangun kehidupan di kawasan Pulau Lunsara.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan akan lahan permukiman yang lebih luas, masyarakat kemudian secara bergotong royong memindahkan permukiman menyeberangi Sungai Kapuas menuju wilayah yang kemudian berkembang menjadi Desa Suka Maju.

Perpindahan tersebut menjadi salah satu babak penting dalam perjalanan sejarah desa.

Kepemimpinan dari Masa ke Masa

Perjalanan masyarakat Lunsara hingga menjadi Desa Suka Maju juga tidak terlepas dari peran para pemimpin lokal.

Catatan sejarah desa mencatat beberapa nama yang pernah memimpin masyarakat, yakni:

  • 1940–1950: Manap, Kepala Kampung pertama di kawasan Pulau Lunsara.
  • 1950–1960-an: Ai Salan, kemudian dilanjutkan Adam, pada masa transisi perpindahan permukiman.
  • 1969: Yunan.
  • 1978: Ibrahim Luhat.
  • 1978–1988: Abdussamad.
  • Pasca-1988: Abdurrahim, kemudian dilanjutkan Wakasman.
  • 2004–2010: Bakhtiar.
  • 2010–2016: Mohlis Raya.
  • 2016–2022: Adam.
  • 2022–sekarang: Hasbi.

Masing-masing periode kepemimpinan memiliki dinamika dan kontribusi tersendiri dalam perkembangan masyarakat serta tata kelola wilayah.

Tahun 2009, Nama Desa Suka Maju Ditetapkan

Babak penting dalam sejarah administrasi wilayah tersebut terjadi pada tahun 2009.

Melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kapuas Hulu Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pembentukan Desa dan Dusun, nama Desa Suka Maju kemudian menjadi identitas resmi pemerintahan desa.

Nama “Suka Maju” tidak hanya menjadi identitas administratif, tetapi juga mengandung harapan agar masyarakat terus berkembang, sejahtera, mandiri, dan mampu menjaga keharmonisan sosial tanpa melupakan akar sejarah Lunsara.

Dari Desa Suka Maju Menuju Perkampungan Dakwah

Memasuki era kepemimpinan Hasbi sejak tahun 2022, Desa Suka Maju kembali mengembangkan identitas dan program masyarakat melalui konsep Perkampungan Dakwah.

Konsep tersebut dibangun melalui kolaborasi dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kabupaten Kapuas Hulu.

Perkampungan Dakwah tidak hanya diarahkan pada kegiatan keagamaan, tetapi juga dikembangkan dengan sejumlah pilar pemberdayaan masyarakat, antara lain pendidikan dan pembinaan keagamaan, pemanfaatan teknologi tepat guna, serta pengembangan sektor pertanian.

Melalui pendekatan tersebut, desa diharapkan mampu memperkuat karakter masyarakat sekaligus membangun kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan berbasis potensi lokal.

Sejarah yang Perlu Dijaga

Perjalanan Desa Suka Maju menunjukkan bahwa sejarah sebuah desa tidak hanya berbicara tentang perubahan nama dan wilayah administrasi.

Di dalamnya terdapat kisah para perintis, perjuangan membuka permukiman, hubungan antarmasyarakat, proses perpindahan kampung, hingga perkembangan desa pada masa sekarang.

Dari Pulau Lunsara sebagai tempat persinggahan para perantau, kemudian berkembang menjadi permukiman dan akhirnya menjadi Desa Suka Maju, perjalanan tersebut menjadi bagian dari warisan sejarah yang penting untuk terus didokumentasikan.

Sejarah tersebut juga mengandung pesan bahwa sungai dan batas wilayah tidak selalu menjadi pemisah. Dalam perjalanan masyarakat Lunsara, Sungai Kapuas justru menjadi bagian dari jalur kehidupan, perdagangan, perpindahan, dan hubungan sosial antarmasyarakat.

Karena itu, pendokumentasian sejarah desa menjadi penting agar generasi berikutnya mengetahui asal-usul daerahnya serta memahami nilai gotong royong, persaudaraan dan perjuangan para pendahulu.

Narasumber:

  1. Abdullingki
  2. Abdul Moin

Catatan Redaksi:


Tulisan ini disusun berdasarkan catatan sejarah Desa Suka Maju dan keterangan narasumber masyarakat. 

Sejumlah bagian merupakan sejarah lisan yang masih dapat dikembangkan dan diverifikasi lebih lanjut melalui dokumen pemerintahan, arsip desa, sumber sejarah lokal, serta kesaksian para tokoh masyarakat.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Jejak Sejarah Desa Suka Maju: Dari Pulau Lunsara hingga Menjadi Perkampungan Dakwah