Rumah Adat dan Baju Adat Nias Jangan Tinggal Jadi Pajangan, Tokoh Masyarakat Serukan Gerakan Pelestarian

Rumah Adat dan Baju Adat Nias Jangan Tinggal Jadi Pajangan, Tokoh Masyarakat Serukan Gerakan Pelestarian

September 21, 2026 | September 21, 2026 WIB Last Updated 2026-09-21T07:42:06Z

Kepulauan Nias,detiksatu.com || Rumah adat dan pakaian adat Nias dinilai tidak boleh berhenti sebagai simbol seremonial. Warisan leluhur tersebut harus tetap hidup, dirawat, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. 21/09/2026

Tokoh masyarakat Nias, Gaba'atulo Waruwu, menegaskan bahwa rumah adat Nias dan pakaian adat merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Kepulauan Nias, Sumatera Utara.

Menurutnya, perkembangan zaman tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan akar budaya. Sebaliknya, modernisasi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas dan nilai-nilai leluhur.

Omo Niha, Jejak Kearifan Leluhur

Rumah tradisional Nias atau Omo Hada merupakan salah satu warisan arsitektur yang memiliki karakter kuat. Rumah berbentuk panggung dengan struktur kayu dan teknik konstruksi tradisional menunjukkan pengetahuan leluhur dalam membangun hunian yang menyesuaikan dengan kondisi lingkungan Nias.

Di Nias Selatan dikenal Omo Sebua, rumah berukuran besar yang secara historis berkaitan dengan kediaman raja atau kepala desa. Bangunan tersebut tidak hanya memiliki fungsi tempat tinggal, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan sosial dan pemerintahan tradisional masyarakat.

Bagi Gaba'atulo, keberadaan rumah adat tidak boleh dipandang sebatas bangunan tua.

“Di dalam rumah adat ada sejarah, pengetahuan, identitas dan nilai kehidupan masyarakat Nias. Kalau rumah adat hilang, bukan hanya bangunannya yang hilang, tetapi sebagian jejak sejarah leluhur juga ikut terputus,” tegasnya.

Baju Adat Bukan Sekadar Busana Seremonial

Hal serupa berlaku terhadap pakaian adat Nias. Ragam busana, ornamen, aksesori dan perlengkapan tradisional merupakan bagian dari ekspresi budaya yang diwariskan lintas generasi.

Pakaian adat pria dan wanita memiliki bentuk serta penggunaan yang beragam sesuai tradisi dan konteks budaya masing-masing wilayah Nias.

Karena itu, penggunaan pakaian adat tidak semestinya hanya muncul ketika ada acara seremonial. Generasi muda perlu mengenal makna, sejarah, serta tata penggunaannya sehingga pakaian adat tetap menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat.

Generasi Muda Harus Turun Tangan

Gaba'atulo menyerukan keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya Nias melalui pendidikan, dokumentasi, kegiatan adat, ekonomi kreatif, pariwisata dan pemanfaatan teknologi digital.

Menurutnya, budaya dapat dikembangkan secara modern tanpa menghilangkan keasliannya.

“Jangan sampai generasi muda mengenal budaya Nias hanya melalui foto di internet, sementara rumah adatnya semakin hilang dan pakaian adatnya hanya dipakai ketika ada seremoni. Budaya harus hidup di tengah masyarakat,” katanya.

Ia juga mendorong pemerintah, tokoh adat, tokoh masyarakat, akademisi, komunitas budaya dan pelaku ekonomi kreatif membangun kolaborasi untuk mendokumentasikan serta mengembangkan warisan budaya Nias secara berkelanjutan.

Rumah adat, pakaian adat, seni tradisional, sejarah leluhur, kuliner dan berbagai peninggalan budaya, menurutnya, dapat menjadi kekuatan pendidikan sekaligus potensi pariwisata berbasis masyarakat.

Jangan Tunggu Warisan Itu Hilang

Gaba'atulo menilai pelestarian budaya membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar wacana.

“Kalau bukan kita yang menjaga warisan leluhur, siapa lagi? Kalau bukan sekarang dimulai, kapan lagi?” ujarnya.

Ia mengajak seluruh masyarakat Nias untuk menjadikan pelestarian budaya sebagai tanggung jawab bersama.

Rumah adat harus tetap berdiri. Pakaian adat harus tetap dikenakan. Nilai leluhur harus tetap dipelajari. Dan identitas budaya Nias harus tetap hidup di tengah perubahan zaman. (A. Lynce War)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rumah Adat dan Baju Adat Nias Jangan Tinggal Jadi Pajangan, Tokoh Masyarakat Serukan Gerakan Pelestarian

Trending Now