Situs Megalitik Cuada HO Di Lahemo Nias Merupakan Jejak Sejarah, Warisan Leluhur Dan Silsilah Peradaban

Situs Megalitik Cuada HO Di Lahemo Nias Merupakan Jejak Sejarah, Warisan Leluhur Dan Silsilah Peradaban

September 25, 2026 | September 25, 2026 WIB Last Updated 2026-09-25T06:22:46Z

Lahemo Nias,detiksatu.com || Situs megalitik Cuada Ho di Desa Lahemo, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias, merupakan salah satu peninggalan budaya yang menyimpan nilai sejarah, adat, tradisi lisan, serta jejak kehidupan leluhur masyarakat Nias. ( 25/09/2026 ).

Keberadaan situs megalitik di Lahemo telah tercatat dalam dokumentasi kebudayaan sebagai situs megalit tua yang berkaitan dengan makam leluhur keluarga Ho. Museum Pusaka Nias juga mencatat Desa Lahemo sebagai salah satu wilayah yang memiliki peninggalan megalitik dan makam leluhur marga Ho.

Tulisan dan dokumentasi yang disampaikan Fatolosa Gulo, C.P.S., C.E.C. memberikan perhatian khusus terhadap situs tersebut, terutama dalam melihat hubungan antara peninggalan batu megalitik, tradisi lisan, sejarah keluarga, serta perkembangan silsilah keturunan yang hidup dalam ingatan masyarakat.

Dalam tradisi masyarakat, batu-batu megalitik tidak semata-mata dipandang sebagai batu biasa. Ia menjadi bagian dari sistem sosial dan budaya yang berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur, status sosial, upacara adat, serta ingatan kolektif masyarakat.

Dalam konteks budaya Nias, tradisi megalitik merupakan bagian penting dari sejarah peradaban masyarakat Ono Niha. Kajian arkeologi juga mencatat keberadaan berbagai bentuk peninggalan megalitik di Nias, termasuk monumen batu, meja batu, tempat duduk batu, dan bentuk peninggalan lainnya yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan adat masyarakat.

SAITA GARI CUADA HO DAN JEJAK TELAPAK KAKI

Salah satu bagian yang menarik dari situs Lahemo adalah keberadaan batu yang dalam tradisi masyarakat dikenal sebagai Saita Gari Cuada Ho, yakni batu yang dipercaya menjadi tempat menyangkutkan pedang Cuada Ho.

Dokumentasi kebudayaan juga menyebut adanya batu besar yang memiliki bekas atau jejak yang oleh masyarakat dikaitkan dengan telapak kaki Cuada Ho. Keberadaan artefak tersebut memperlihatkan bagaimana cerita yang diwariskan secara lisan dapat berkaitan erat dengan objek fisik yang masih berada di lingkungan situs.

Namun, berbagai kisah mengenai fungsi dan asal-usul batu tersebut perlu terus dikaji melalui penelitian sejarah, arkeologi, dokumentasi adat, serta penelusuran sumber-sumber lokal agar generasi berikutnya memperoleh informasi yang semakin akurat.

MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG SILSILAH CUADA HO

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam dokumentasi Fatolosa Gulo adalah perlunya memperluas pemahaman masyarakat mengenai silsilah keturunan Cuada Ho.

Menurut tradisi silsilah yang terdokumentasi dalam sumber kebudayaan, Cuada Ho disebut memiliki dua garis perkawinan.

Dari istri pertama, Gaweda Nandrua, disebutkan keturunan yang kemudian berhubungan dengan:

Waruwu, Halawa, Gulö, dan Ndraha.

Sementara dari istri kedua, Sa'uso Lama, putri Tuada Gea, disebutkan adanya putra bernama Tumba Laoya/Laoya, yang kemudian dikaitkan dengan sejumlah Lukhu dan perkembangan marga.

Garis tersebut dalam dokumentasi budaya antara lain disebut sebagai:

- Lukhu Toli → Harefa
- Lukhu Mbanua → Telaumbanua
- Lukhu Hada → Mendröfa
- Lukhu Bongi → Laoli
- Lukhu Zendratö → Zendratö
- Lukhu Baene/Ana'a → Zalukhu dan Bate'e
- Lukhu Lase → Lase

Sumber dokumentasi kebudayaan yang tersedia juga mencatat beberapa Lukhu lain yang dalam tradisi tersebut disebut tidak memiliki keturunan.

Karena informasi silsilah seperti ini merupakan bagian dari tradisi sejarah keluarga dan masyarakat, pencatatan setiap versi perlu dilakukan secara hati-hati. Perbedaan penuturan tidak semestinya langsung dianggap sebagai kesalahan, melainkan dapat menjadi bahan untuk penelitian genealogis dan sejarah lokal yang lebih mendalam.

WARISAN UNTUK GENERASI MUDA

Situs Cuada Ho bukan hanya berbicara tentang masa lalu. Situs tersebut dapat menjadi ruang pendidikan sejarah bagi generasi muda Nias.

Anak-anak sekolah, pemuda, tokoh adat, keluarga keturunan, pemerintah desa, pemerhati budaya, dan masyarakat luas memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan situs tersebut.

Dokumentasi melalui foto, video, tulisan, wawancara dengan tetua adat, pemetaan lokasi, penelitian silsilah, hingga digitalisasi arsip dapat dilakukan agar pengetahuan mengenai situs tidak hilang bersama perubahan zaman.

Pelestarian juga perlu memperhatikan kondisi fisik situs. Kajian mengenai warisan megalitik Nias menunjukkan bahwa peninggalan megalitik merupakan bagian penting dari sejarah budaya Nias dan memiliki nilai penelitian maupun pendidikan.

CUADA HO SEBAGAI BAGIAN DARI IDENTITAS BUDAYA NIAS

Keberadaan situs Lahemo memperlihatkan bahwa sejarah Nias tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga berada di tengah-tengah masyarakat melalui batu, makam leluhur, rumah adat, tradisi lisan, silsilah keluarga, serta berbagai praktik kebudayaan.

Karena itu, Situs Megalitik Cuada Ho perlu dipandang sebagai bagian dari kekayaan sejarah dan budaya yang layak didokumentasikan, diteliti, dan dilestarikan.

Generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa cerita tentang leluhur, nilai adat, dan peninggalan fisik tersebut tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Melestarikan Cuada Ho berarti menjaga jejak sejarah.
Mendokumentasikan silsilah berarti menjaga ingatan leluhur.
Mengenalkan situs kepada generasi muda berarti menjaga identitas budaya Nias untuk masa depan.

Catatan: uraian silsilah dan sejumlah fungsi simbolik dalam berita ini ditempatkan sebagai tradisi/dokumentasi masyarakat, bukan sebagai kesimpulan arkeologis final. Verifikasi akademik melalui penelitian sejarah, arkeologi, antropologi, dan sumber adat tetap penting untuk memperoleh rekonstruksi yang lebih kuat. (Gaba'atulo Waruwu)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Situs Megalitik Cuada HO Di Lahemo Nias Merupakan Jejak Sejarah, Warisan Leluhur Dan Silsilah Peradaban

Trending Now