Jayapura, detiksatu.com || Jubi - ketua Dewan pimpinan cabang Persatuan penyandang disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Yahukimo Maes atbesenne Sub S.Th minta aparat penegak hukum segera mengungkapkan kasus pembunuhan dan menghilangkan jejak dua orang warga sipil di Yahukimo, Papua pegunungan
Pernyataan tersebut disampaikan setelah menemukan sejumlah alat bukti milik para korban di lokasi tempat kejadian perkara (TKP) pada Jumat (16/10/2026)
Menurutnya, para korban tersebut hilang sejak hari Senin 12 Oktober 2026 sekitar pukul 03.00 WIT, hingga saat ini belum temukan keberadaan para korban dan dugaan kuat mereka dalam keadaan tidak bernyawa. Hal tersebut berdasarkan barang bukti yang ditemukan
" Barang bukti yang temukan adalah 1 buah celana pendek jengki warna biru, 1 buah baju kaos abu-abu putih, terpal kain dan ditempat itu juga temuan bekas darah korban ". Ujar Maes
Ia minta semua pihak yang bekerja di pemerintahan , gereja, Kepala suku dan para pekerja kemanusiaan mendesak peristiwa tersebut sampaikan secara terbuka kepada publik untuk menjadi perhatian publik jika pembunuhan tersebut benar terjadi oleh pihak TNI POLRI atau pun pihak lainnya
"Kami minta semua pihak kasus kehilangan jejak keluarga dua orang warga sipil itu perlu sampaikan terbuka ada yang temukan atau diduga melakukan pembunuhan dari anggota TNI POLRI MARINIR dan satgas Damai Cartenz ataupun pihak lain" tegasnya.
Maes mengatakan kedua orang yang diduga korban tersebut yang bersangkutan berinisial EW (27) status warga sipil dan NW (18) status pelajar kelas 3 SMK N 1 Dekai kabupaten Yahukimo. Menurutnya mereka murni warga sipil yang hilang jejak hingga saat belum kembali ke rumah
" Iya Ernes websa (27) status warga sipil dan Natan well (18) status pelajar kelas 3 SMK N 1Dekai, mereka itu warga sipil dan anak sekolah ". Kata Maes
Ia juga menjelaskan bahwa setelah peristiwa tersebut, keluarga korban mendatangi Pos TNI Halabok untuk meminta penjelasan mengenai keberadaan dua orang yang diduga menjadi korban. Pihak Pos TNI menyampaikan bahwa pada waktu subuh mereka tidak melakukan patroli. Pihak pos juga meminta keluarga korban untuk berdoa agar kedua orang tersebut dapat ditemukan,” ujarnya.
“Pihak Pos TNI Halabok menyampaikan pada hari itu mereka tidak melakukan patroli dan tidak mengetahui keberadaan kedua korban. Namun, ketika keluarga menanyakan bagaimana cara menemukan mereka, pihak pos menyampaikan agar keluarga banyak berdoa,” ujarnya.
Menurutnya, pihak aparat penegak hukum belum memberikan penjelasan yang jelas mengenai keberadaan kedua korban. Sebaliknya, keluarga justru diminta untuk berdoa agar keduanya dapat ditemukan. Pernyataan tersebut, menurutnya, menimbulkan kecurigaan dan memperkuat dugaan adanya kejanggalan dalam peristiwa tersebut.
Oleh karena itu, pada hari ini, 16 Oktober 2026, pihaknya berencana menggelar aksi damai sebagai bentuk protes terhadap aparat keamanan di Kantor Polres Yahukimo. Dalam aksi tersebut, mereka akan mendesak aparat keamanan untuk memberikan penjelasan yang transparan mengenai keberadaan kedua orang yang berasal dari Suku Mek tersebut serta meminta kejelasan atas peristiwa yang menimpa mereka.
Ia berharap siapapun pelaku pembunuhan terhadap satu warga sipil dan satu berstatus pelajar tersebut pihak keamanan sebagai penegak hukum jelaskan jujur dan terbuka kepada keluarga korban dan kepada publik ." Ujarnya
Reporter Inggi Kogoya