UNESCO juga pernah melakukan survei literasi untuk menilai partisipasi membaca, jumlah koleksi perpustakaan, ketersediaan buku, dan aktivitas literasi rutin. Dalam survei itu, Indonesia termasuk kategori “low engagement reading country”. Rata-rata waktu membaca orang Indonesia menurut beberapa survei nasional sekitar 15–20 menit per hari, jauh di bawah standar negara maju.
Dalam survei PISA (Programme for International Student Assessment) 2022, untuk menilai kemampuan membaca siswa berusia 15 tahun, Indonesia berada di peringkat 71 dari 81 negara. Skor Reading Indonesia: 371 (rata-rata OECD, OECD, Organisation for Economic Co-operation and Developmentsekitar 476). Lihatlah perbandingan negara-negara dalam skor PISA ini:
Jepang: 516
Korea Selatan: 515
Kanada: 516
Singapura (peringkat 1): 543
Malaysia: 388
Thailand: 372
Indonesia: 371
Filipina: 347
Sedangkan dalam survey membaca harian, diperoleh data:
Jepang: 1–2 jam per hari
Jerman: 1 jam per hari
Korea Selatan: 45–60 menit
Amerika Serikat: 25 menit
Indonesia: 15–20 menit (beragam survei Kemdikbud, BPS, dan non-pemerintah)
Waktu membaca Indonesia sangat rendah, terutama ketika dibandingkan dengan negara Skandinavia yang rata-rata membaca lebih dari dua jam per minggu (di luar waktu sekolah).
Ada juga survei untuk rasio buku per orang. Jepang menempati sebagai negara tertinggi untuk pemilikan buku:
Jepang: 20–30 buku per orang per tahun
Korea: 10–12 buku per orang per tahun
Eropa Barat: 15–20 buku
Indonesia: 0,001 buku per orang (data Ikapi beberapa tahun terakhir)
Budaya membaca buku yang rendah ini dikeluhkan banyak pihak. “Indonesia harus berpindah dari literasi sebagai kemampuan dasar ke literasi sebagai budaya,” kata Darmaningtyas, pemerhati pendidikan, dalam sebuah diskusi literasi di Yogyakarta. “Tanpa perubahan budaya, indeks hanya jadi angka kosmetik.”
Fakta berikut mungkin yang paling menentukan masa depan literasi Indonesia: 83% masyarakat lebih sering membaca melalui smartphone, menurut survei 2023. Hanya 12% yang membaca buku cetak.
Dalam konteks dunia modern, data ini tidak serta merta buruk. Masalahnya bukan perangkatnya, tetapi isi yang dikonsumsi. Pengguna internet Indonesia, menurut We Are Social, menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam per hari untuk media sosial—tiga kali lipat durasi membaca buku dalam sebulan bagi sebagian orang.
Konten cepat mengubah ritme berpikir. Mendorong otak untuk mencari stimulasi instan, bukan kedalaman. Anak-anak SD kini hafal ratusan suara viral di TikTok, tetapi tidak hafal satu paragraf dari buku cerita yang mereka bawa ke sekolah.
“Gawai itu netral. Yang tidak netral adalah apa yang kita konsumsi,” kata Najelaa Shihab, pendiri Gerakan Semua Murid Semua Guru. “Masalahnya, algoritma media sosial tidak pernah mendorong kita untuk membaca; ia mendorong kita untuk menonton.”
Di titik ini, buku dan media sosial bukan sekadar dua aktivitas berbeda. Mereka adalah dua budaya berbeda. Yang satu menuntut kesabaran, konsentrasi, dan kontemplasi. Yang lain menawarkan hiburan cepat, reaksi cepat, dan lupa cepat.
Belajar dari Negara Lain: Ketika Membaca Menjadi Gaya Hidup
Kita perlu berhenti sejenak melihat bagaimana negara-negara dengan tingkat literasi tertinggi membangun budaya itu.
Finlandia: Membaca Dimulai dari Buaian
Finlandia tidak hanya memiliki sistem pendidikan terbaik, tetapi juga budaya membaca yang dipupuk dari rumah. Setiap bayi yang lahir mendapat “kotak bayi” berisi selimut, pakaian, dan sebuah buku cerita. “Ini simbol bahwa literasi dimulai di rumah, bukan di sekolah,” kata seorang pejabat pendidikan Finlandia di Helsinki.
Perpustakaan di Finlandia bukan hanya tempat meminjam buku, tetapi pusat kegiatan komunitas: kursus, diskusi, konser kecil, bahkan ruang bermain anak. Membaca bukan kewajiban; ia bagian dari kehidupan.
Swedia & Belanda: Perpustakaan sebagai Ekosistem
Negara-negara Nordik lain mempunyai kesamaan: banyak perpustakaan umum, kebiasaan membaca di rumah, dan integrasi literasi dalam kurikulum nasional. Di Swedia, anak-anak diperkenalkan pada buku sejak usia prasekolah melalui kegiatan “reading hour”—kegiatan membaca bersama guru, dua kali seminggu, wajib.
Di Belanda, orang tua diundang ke sekolah untuk ikut sesi membaca, agar membaca menjadi aktivitas keluarga, bukan hanya sekolah.
Jepang: Disiplin Membaca Setiap Hari
Jepang memperkenalkan “silent reading” di kelas. 10–15 menit pertama setiap hari sekolah digunakan untuk membaca apa saja, tanpa tugas, tanpa tes. Hanya membaca. Ketenangan ini membuat anak terbiasa menikmati aktivitas hening dan fokus.
Mengapa Indonesia Tertinggal?
Indonesia punya kampanye literasi, punya perpustakaan nasional, punya gerakan komunitas, punya buku-buku murah. Bahkan, memiliki ratusan ribu guru. Lalu apa yang kurang? Beberapa hal ini perlu dikritisi :
Keluarga tidak membaca
Riset internal Perpusnas menunjukkan bahwa mayoritas orang tua di Indonesia tidak pernah membacakan buku untuk anaknya. Anak-anak pun tidak melihat teladan membaca di rumah.
Sekolah terlalu fokus kurikulum, bukan kebiasaan
Banyak sekolah memandang membaca sebagai tugas, bukan kebiasaan hidup. Membaca sering menjadi proyek, bukan budaya.
Perpustakaan ada, tapi sering kosong atau tidak terawat
Perpustakaan sekolah kadang hanya bilik kecil berisi buku yang sudah usang. Perpustakaan daerah banyak yang tidak ramah anak, tidak nyaman, bahkan tidak terawat.
Buku berkualitas sulit diakses
Daerah terpencil masih kekurangan akses buku yang layak—baik karena biaya kirim mahal, distribusi minim, atau tidak ada toko buku.
Gawai mengambil alih tanpa pendampingan
Orang tua memberi HP kepada anak, tetapi tidak membimbing apa yang harus dibaca di sana. Ekosistem yang terputus inilah yang membuat indeks literasi naik, tetapi budaya literasi berjalan di tempat.
Untuk menggerakkan budaya baca-tulis, dibutuhkan pendekatan multi-lapisan, bukan sekadar kampanye.
Menjadikan Buku “Mudah Didapat”
Negara-negara yang tinggi tingkat literasinya, memastikan bahwa buku bukan barang mewah. Indonesia perlu kebijakan:
distribusi buku murah ke daerah-daerah terpencil,
perpustakaan desa yang dibiayai APBD,
perpustakaan digital nasional dengan kuota internet gratis,
kemitraan dengan penerbit untuk e-book murah.
Semua ini bukan soal anggaran besar; lebih pada prioritas.
Membiasakan Membaca di Sekolah
Program yang paling mungkin dilakukan:
15 menit membaca hening setiap hari, seperti Jepang
book day di mana siswa boleh membawa buku bebas, bukan buku pelajaran
pojok baca di setiap kelas
kompetisi review buku
pelatihan guru untuk membacakan cerita dengan baik
Sekolah harus menjadi pusat budaya membaca—lebih dari rumah, lebih dari lingkungan.
Mengubah Gawai Menjadi Mesin Literasi
Karena kita tidak mungkin melawan smartphone, kita harus menggunakannya untuk membaca. Pemerintah dan swasta bisa menyediakan:
aplikasi buku anak gratis,
kanal cerita audio,
platform resensi buku untuk remaja,
tantangan membaca via media sosial.
Jika anak membaca lewat HP, itu bukan masalah—selama isinya benar.
Menghidupkan Perpustakaan
Perpustakaan harus bertransformasi menjadi ruang hidup:
memiliki ruang kreativitas,
ada kegiatan rutin seperti kelas menggambar, menulis, diskusi,
jam operasional fleksibel,
lokasi nyaman dan bersih.
Perpustakaan yang hidup akan menarik anak-anak tanpa perlu disuruh.
Menggerakkan Komunitas
Gerakan seperti Taman Baca Masyarakat (TBM), Rumah Baca, Komunitas Akar Rumput, dan ratusan relawan literasi telah melakukan kerja besar. Pemerintah bisa memperkuat mereka dengan:
dukungan buku baru,
dana operasional tahunan,
jaringan pelatihan relawan,
pengakuan resmi sebagai mitra literasi nasional.
Komunitas sering bekerja lebih efektif karena dekat dengan warga.
Pada akhirnya, membaca bukan lagi soal hobi. Ia adalah bentuk perlawanan. Perlawanan terhadap ketidaktahuan. Terhadap banjir informasi palsu. Terhadap budaya instan.
Di masa mendatang, negara yang paling kuat bukan yang paling besar, tetapi yang warganya paling mampu berpikir. Dan kemampuan berpikir hanya bisa dibangun dengan membaca.
Indonesia harus banyak berbenah. Guru harus membiasakan kegiatan baca tulis kepada murid. Orang tua harus mengenalkan buku kepada anak-anak sejak dini. Perpustakaan harus dibangun dan diisi dengan hal-hal yang kreatif agar menarik anak-anak untuk berkunjung.
Memang butuh waktu yang tidak pendek untuk membenahi semua ini. Tapi bila para pemimpin dan guru mau bergerak bersama, cita-cita menjadikan Indonesia berbudaya baca tulis, bukan sebuah hal yang utopis. Wallahu alimun hakim. []

