UAS, sapaan akrabnya, mengungkap sejumlah kisah mengharukan tentang detik-detik wafatnya para nabi, sahabat, dan ulama. Ternyata, persiapan menghadapi akhir hayat penuh dengan pelajaran berharga tentang ketakwaan dan penyesalan.
Di hadapan ribuan jemaah, UAS memulai pemaparan dengan cerita pengalaman saat menyusun buku tersebut ketika terinfeksi Covid-19 dan merasakan gejala berat hingga menyiapkan surat wasiat. “Saya siap mati waktu itu,” kenangnya.
Pengalaman tersebut mengubah perspektifnya tentang usia, membuatnya bersyukur atas setiap hari yang tersisa untuk beramal saleh, karena sadar bahwa hidup adalah hadiah tak terduga. Ia menekankan bahwa persiapan menghadapi kematian seharusnya menjadi prioritas utama setiap Muslim.
Bedah buku dilanjutkan dengan menelusuri wasiat para tokoh besar. Nabi Nuh berpesan dua hal krusial: jangan berbuat syirik dan jangan bersikap sombong. Sementara itu, Nabi Musa justru takut lidahnya kelu dan tidak bisa menyebut nama Allah saat sakaratul maut, menekankan pentingnya zikir saat masih diberi kesempatan.
Abu Bakar Ash-Shiddiq meminta dimakamkan di samping makam Nabi Muhammad SAW, dan keajaibannya, pintu makam Nabi terbuka untuknya. Sementara Umar bin Khattab meminta agar jenazahnya segera dikubur agar ia cepat bertemu amal baiknya atau bebannya segera terlepas dari orang yang ditinggalkan.
UAS menyoroti kisah kontras antara orang saleh dan orang zalim. Imam Ahmad bin Hambal, ulama besar ahli hadis, digoda setan hingga menggigit jemarinya saat sakaratul maut, sementara orang awam seperti kita akan lebih rentan.
Namun, kisah yang paling menyentuh adalah Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, seorang pembunuh kejam. Di akhir hayatnya, ia hanya bisa memohon ampunan Allah, menunjukkan bahwa pintu taubat selalu terbuka hingga detik terakhir.
UAS menutup dengan menggarisbawahi pesan Imam Sari As-Saqati: jauhi teman yang buruk, karena orang baik akan saling mengingatkan dan memberikan syafaat di akhirat. []

