Pengikut

Dari Wedaran Hingga Pageni Pusaka, Sastrajendra Hadirkan Laku Spiritual Digelar di Depok

Redaksi
Januari 04, 2026 | Januari 04, 2026 WIB Last Updated 2026-01-04T05:41:15Z
Depok, detiksatu.com || Wedaran Sastrajendra bertema “Cahaya Januari” berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan pada 3–4 Januari 2026. Bertempat di Kamar Unik Olshop, Jl. Wadas Raya 7A RT 03 RW 14, Pitara, Pancoran Mas, Depok Baru, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan batin, perenungan makna, serta penguatan nilai-nilai kearifan leluhur yang terus hidup dan bernapas bersama semesta.

Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris Sastrajendra, Rohmani, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa tema Cahaya Januari merupakan simbol awal perjalanan kesadaran di tahun yang baru. Januari, menurutnya, tidak sekadar penanda pergantian waktu, melainkan momentum untuk menyalakan kembali cahaya batin, menata niat, serta menumbuhkan kesadaran akan relasi manusia dengan Tuhan, sesama, alam, dan sejarah kebudayaannya.
“Cahaya Januari adalah undangan bagi kita semua untuk kembali hening, membaca diri, dan menyelaraskan langkah. Wedaran Sastrajendra bukan sekadar forum, melainkan ruang kesadaran yang menghubungkan pengetahuan, rasa, dan laku hidup,” ujar Rohmani dalam sambutan pembukaannya.

Ia menambahkan bahwa Wedaran Sastrajendra senantiasa dihadirkan sebagai ruang dialog batin dan intelektual, tempat nilai-nilai luhur diwariskan secara hidup tidak hanya melalui kata-kata, tetapi melalui keteladanan, kebersamaan, dan kesungguhan niat dalam laku sehari-hari.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bambang Eko Priyono, selaku tuan rumah. Dengan penuh ketulusan, ia membuka pintu rumahnya sebagai ruang yang hangat dan bersahaja bagi berlangsungnya Wedaran Sastrajendra. Dalam ungkapannya, Bambang Eko Priyono menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan dapat menjadi bagian dari peristiwa kebudayaan dan spiritual yang sarat makna ini.
“Rumah ini kami buka dengan niat baik, sebagai ruang persaudaraan. Apa yang tumbuh di sini adalah semangat kebersamaan, saling belajar, dan saling menguatkan. Inilah cermin kearifan leluhur kita warisan budaya yang tidak berhenti di masa lalu, tetapi terus bernapas bersama semesta,” tuturnya

Ia menegaskan bahwa rumah sejatinya bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang hidup tempat nilai, kasih, dan kebijaksanaan ditumbuhkan bersama. Dalam konteks inilah Wedaran Sastrajendra menemukan maknanya sebagai ruang budaya yang hidup dan membumi.
Selama dua hari pelaksanaan, Wedaran Sastrajendra “Cahaya Januari” diisi dengan rangkaian wedaran, perenungan, dialog kebudayaan, serta penghayatan nilai-nilai spiritual yang berakar pada kearifan Nusantara. 

Suasana berlangsung intim, hangat, dan sarat rasa persaudaraan, menghadirkan ruang aman bagi para peserta untuk menyelami makna, berbagi pandangan, serta memperdalam kesadaran diri.

Tema Cahaya Januari dimaknai sebagai sinar awal yang menuntun langkah sepanjang tahun mengajak setiap insan untuk hidup lebih selaras dengan nurani, alam, dan nilai-nilai luhur warisan leluhur. Cahaya ini tidak dipahami sebagai gemerlap yang 4 Januari 2026 menyilaukan, melainkan cahaya hening yang menumbuhkan kebijaksanaan, kepekaan batin, dan kejernihan sikap.

Wedaran Sastrajendra kembali menegaskan perannya sebagai ruang kebudayaan dan spiritual yang merawat ingatan kolektif, mempertemukan manusia dalam kesadaran yang lebih utuh, serta menjaga agar nilai-nilai luhur Nusantara tetap hidup, relevan, dan menyinari perjalanan zaman.

Dengan berakhirnya rangkaian Wedaran pada 4 Januari 2026, para peserta membawa pulang bukan hanya pengetahuan, tetapi juga pengalaman batin, kehangatan persaudaraan, serta cahaya kesadaran yang diharapkan terus menyala dalam laku kehidupan sehari-hari.

Rangkaian Wedaran Sastrajendra kemudian berlanjut dengan Diskusi Pendalaman Penguasaan Bumi dan Geni, yang dirangkai dengan ritual pageni pusaka  bersama dipimpin langsung oleh Anggoro, tokoh penggerak laku spiritual dan kebudayaan Nusantara. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan sarat makna, menghadirkan suasana perenungan mendalam bagi seluruh peserta.

Diskusi ini tidak hanya menjadi forum tukar pemikiran, tetapi juga ruang penyadaran kolektif mengenai relasi manusia dengan unsur dasar kehidupan. Bumi dimaknai sebagai simbol pijakan, keteguhan, dan keberlanjutan hidup, sementara Geni (api) dipahami sebagai lambang daya, kesadaran, dan transformasi batin. Dalam pemaparannya.

Anggoro menekankan bahwa penguasaan unsur bukanlah bentuk dominasi, melainkan pengendalian diri, penyelarasan rasa, dan pematangan kesadaran.
“Bumi mengajarkan kita tentang keteguhan, kesabaran, dan keikhlasan menerima. Geni mengajarkan keberanian, kejernihan niat, serta kemampuan mengolah amarah dan nafsu menjadi daya cipta,” tegas Anggoro dalam penyampaian yang dialogis dan reflektif.
Para peserta diajak memahami bahwa penguasaan unsur alam sejatinya berakar pada olah rasa, olah jiwa, dan tanggung jawab moral, bukan semata-mata praktik simbolik atau ritual belaka.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ritual Pageni pusaka sebuah laku spiritual yang dikenal sebagai proses pengendapan diri melalui keheningan, pengendalian pancaindra, serta pembatasan unsur api dan cahaya. Ritual ini dijalani sebagai sarana penjernihan batin, penguatan niat, dan penyatuan kesadaran antara lahir dan batin. Dalam suasana yang hening dan tertib, para peserta mengikuti setiap tahapan dengan penuh kesungguhan.

Sebagai penutup dilaksanakan pageni bersama, sebuah prosesi penyucian yang dimaknai tidak hanya sebagai pembersihan fisik, tetapi juga sebagai momentum pembaruan niat dan kesadaran untuk menjalani hidup dengan sikap yang lebih arif, seimbang, dan bertanggung jawab.

Tambahnya bahwa diskusi dan ritual semacam ini bukanlah praktik mistik semata, melainkan bagian dari warisan pengetahuan spiritual Nusantara yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi jembatan bagi generasi masa kini untuk kembali mengenali akar kebudayaannya tanpa kehilangan nalar kritis dan nilai kemanusiaan.
Eka Widya salah satu coach menambahkan 
" Terselenggaranya ruang pembelajaran yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga menyentuh dimensi batin dan kesadaran diri. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai kebijaksanaan lokal kembali dihidupkan sebagai bekal menghadapi tantangan zaman dengan harapan terciptanya manusia yang tidak tercerabut dari bumi tempat berpijak, sekaligus mampu menyalakan geni kesadaran dalam dirinya secara bijak dan bertanggung jawab. Tutup Eka Widya


Red-Ervinna
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dari Wedaran Hingga Pageni Pusaka, Sastrajendra Hadirkan Laku Spiritual Digelar di Depok

Trending Now