Pengikut

Eggi Sudjana Dan Damai Hari Lubis Terjebak Tipuan Politik Jokowi Maju Kena Mundur Kena

Redaksi
Januari 17, 2026 | Januari 17, 2026 WIB Last Updated 2026-01-17T10:40:48Z
Jakarta,detiksatu.com - Salah satu kesalahan paling fatal yang dilakukan oleh Eggi Sudjana (ES) dan Damai Hari Lubis (DHL) adalah mengikat komitmen dengan JOKOWI si pembohong yang pengecut dan licik. Jangankan hanya ES dan DHL, Rakyat Indonesia saja ditipu oleh JOKOWI. Jadi, menipu ES dan DHL bagi JOKOWI ibarat melahap bubur dalam satu sendokan: tinggal telan.

Penulis meyakini, desain membocorkan pertemuan bukanlah hasil kesepakatan. Bahkan, ES dan DHL jelas ingin mengunci rapat pertemuan itu, agar tak diketahui publik, bahkan oleh sesama rekannya di TPUA (Tim Pembela Ulama & Aktivis). Hal itu dapat diketahui melalui beberapa indikasi, diantaranya :

*Pertama,* ES dan DHL tidak pernah membahas rencana kunjungan ke Solo dengan anggota TPUA yang lain. Bahkan, belakangan sejumlah anggota TPUA yang istiqomah berjuang seperti Rizal Fadillah, Kurnia Tri Royani, Azam Khan dan yang lainnya, justru dipecat dengan alasan yang tak masuk akal.

Tindakan ES dan DHL yang menyembunyikan rencana ke Solo ini jelas atas dasar keyakinan dan pengetahuan yang pasti. Bahwa berkunjung ke Solo (JOKOWI) adalah aib dan pengkhianatan yang besar, yang pasti tidak akan disetujui oleh anggota TPUA jika dibahas dalam rapat sebelum keberangkatan.

*Kedua,* kedatangan ES & DHL terkesan bersembunyi, mengendap-endap dan menghindari kamera. Padahal, biasanya keduanya sangat gemar di sorot kamera dan menyemburkan pidato dan orasi yang agitatif dan menyala.

Cara berkunjung yang sembunyi-sembunyi ini, jelas juga atas dasar keyakinan dan pengetahuan yang pasti. Bahwa berkunjung ke Solo (JOKOWI) adalah aib dan pengkhianatan yang besar, yang pasti akan dimaki para aktivis dan rakyat jika sampai diketahui.

*Ketiga,* pasca kunjungan pun, ES dan DHL juga tak buka suara. Mengunci peristiwa. Padahal, untuk agenda yang lain, keduanya begitu gemar mengadakan Konferensi Pers.

Lagi-lagi, keduanya jelas memiliki keyakinan dan pengetahuan yang pasti berkunjung ke Solo (JOKOWI) adalah aib dan pengkhianatan yang besar, yang pasti akan dimaki seluruh rakyat. Makanya, mereka mempertahankan mode senyap.

Diluar itu, mereka telah mensyaratkan tidak ada dokumentasi dan publikasi atas pertemuan pengkhianatan tersebut. Keduanya berangkat ke Solo, juga atas dasar kesepakatan ini.

Namun apa mau dikata. ES dan DHL terlalu naif. Mereka bukan sedang membuat kesepakatan dengan orang yang dapat dipercaya. Mereka, membuat kesepakatan dengan pendusta yang licik meskipun pengecut.

Segera saja, pertemuan itu dibocorkan oleh JOKOWI. Bocoran tipis dikabarkan oleh Kompol Syarif, selaku ajudan JOKOWI yang mengabarkan kedatangan ES dan DHL ke Solo.

Bocoran kerasnya, disampaikan oleh Relawan JOKOWI yang mengabarkan isi pertemuan, dari saling memaafkan, berpelukan hingga doa yang dipanjatkan ES. Tentu saja target pembocoran pertemuan ini jelas: *adu domba dan pecah belah para pejuang yang membongkar ijazah JOKOWI sekaligus pembusukan sosok ES & DHL.*

Setelah itu, publik menjadi ramai. Mayoritas menghardik pertemuan itu, sementara Buzer JOKOWI memujinya sebagai pertemuan silaturahmi dan kebaikan. JOKOWI mulai memainkan strategi pecah belah, yang targetnya agar kasus ini tidak masuk ke persidangan sehingga dia bisa lolos dari aib ketahuan ijazahnya palsu.

Sementara ES dan DHL yang masih belum siuman dari mimpi lepas dari jerat hukum dan sejumlah janji manis JOKOWI lainnya sangat terperanjat. Tak percaya, pertemuan yang dijanjikan rahasia itu bocor ke publik. Lalu, sibuk membuat klarifikasi via sejumlah orang hingga akhirnya sibuk melakukan sejumlah pemecatan anggota TPUA.

Belum sempat ES membuat klarifikasi resmi selain video singkat yang ngeles atas pujian JOKOWI CBM (Cerdas, Berani, Militan), JOKOWI langsung membuat serangan kedua. JOKOWI mengadakan konpers yang membenarkan pertemuan dengan ES & DHL, yang meskipun secara zahir memuji ES & DHL namun secara esensi makin membongkar pengkhianatan ES & DHL yang bertandang ke Solo.

Entah apa yang ada di benak ES dan DHL. Lugu dan sangat polos memasukan diri pada perangkap politik JOKOWI. Apa karena takut penjara? Ada motif uang dan jabatan? Entahlah.

Yang jelas, saat ini ES & DHL masih berstatus Tersangka. Namun namanya sudah rusak karena masuk jebakan politik JOKOWI.

Padahal, dalam kasus ini konsistensi akan menjadi penentu kemenangan perjuangan. Kemenangan itu sudah diambang pintu, tinggal sedikit bersabar InsyaAllah sampai pada tujuan.

Target JOKOWI membusukkan ES dan DHL tercapai. Namun JOKOWI tak dapat memecah-belah dan menghentikan perjuangan. Karena perjuangan membongkar ijazah palsu adalah milik seluruh rakyat, bukan perjuangan ES dan DHL.

Penulis menulis ini, sebagai pengingat sekaligus peringatan keras. Agar tak ada lagi yang mencoba berkhianat dan berdamai dengan JOKOWI.

Penulis juga tahu, sejumlah nama yang mencoba menggiring kasus ini agar damai dengan JOKOWI, meskipun mereka dikenal kontra JOKOWI. Entah karena motif uang atau cari selamat sendiri, yang jelas itu pasti bukan karena motif perjuangan atau strategi berdalih pertemuan Musa dengan Firaun.

Penulis mengingatkan dengan keras, jangan pernah membuat kesepakatan dengan penipu. Tangan JOKOWI berlumuran darah 6 syuhada KM 50, berlumuran darah 900 KPPS, berlumuran darah tragedi Kanjuruan. Berbagai kerusakan di negeri ini karena ulah JOKOWI. Lalu, kalian masih tak punya nurani mau berdamai dengan makhluk seperti ini?

Untuk ES dan DHL, posisi kalian sudah tamat. Segera bertaubat, agar ada ampunan Allah SWT sebelum ajal menjemput. Kalian sudah tak diterima di kalangan pejuang, sebentar lagi juga akan dibuang lawan setelah tidak dibutuhkan. [].
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Eggi Sudjana Dan Damai Hari Lubis Terjebak Tipuan Politik Jokowi Maju Kena Mundur Kena

Trending Now