Jakarta,detiksatu.com --Musa datang ke Firaun membawa wahyu. Bukan mengumbar nafsu. Sementara gentar dalam perjuangan, mencari aman sendiri dan mengorbankan kawan seperjuangan, bukanlah pesan wahyu melainkan hawa nafsu.kata Ahmad khozinudin kepada wartawan pada(17/1/26)
Musa berlari bersama kaumnya, hingga terjepit di bibir lautan. Dalam segala ketidakberdayaan itulah, mu’zizat turun, tongkat membelah laut, Musa dan kaumnya selamat. Sementara Firaun dan bala tentaranya binasa.
Adapun orang yang meninggalkan kaumnya, tidak pula melanjutkan perjuangan melawan Firaun, melarikan diri seorang diri ke luar negeri. Apakah layak menyandang gelar ‘Musa’ yang memerangi ‘Firaun’?
Musa memikirkan kaumnya dan tak peduli dengan dirinya. Berjuang untuk menegakkan kalimat agama. Sementara yang menyelisihi barisan, meninggalkan perjuangan, melabeli pengkhianat dan pendusta dengan predikat ‘Cerdas, Berani, Militan’, apa layak disebut Musa?
Jangan-jangan keduanya Firaun? Sama-sama berbuat zalim? Yang satu zalim kepada seluruh rakyat dan yang satu zalim pada pejuang & aktivis. Beda tempat sama-sama zalim.
Seandainya, kisah Firaun hanya ada di masa lalu dan tak mungkin ada di masa depan, tentulah Al Quran tidak mengabadikan kisahnya. Kisah itu diabadikan karena sampai kapanpun akan ada Firaun Firaun lainnya, yang berbuat zalim di muka bumi.
Sayangnya, tak semuanya bisa mengambil peran Musa atau setidaknya pengikut Musa yang istiqomah melawan kezaliman Firaun, tidak berdamai dengan kezaliman Firaun meskipun kesulitan hidup mereka alami. Ternyata, banyak karakter Firaun yang meminjam topeng wajah Musa.
Benarlah pepatah yang menyatakan : satu musuh kebanyakan, seribu kawan kurang. Satu pengkhianatan lebih wajib untuk dilawan sebelum menumbangkan rezim tiran.
Sisakan 9 peluru untuk pengkhianat, tembakan 1 peluru untuk musuh. Karena umumnya, pengkhianat lebih banyak daripada musuh.
Tetaplah menjadi Musa walau harus sendirian tanpa Harun untuk melawan Firaun. Tetap teguh di jalan kebenaran, meskipun kezaliman menawarkan umpan perdamaian. Ingat ! Jutaan rakyat saja biasa ditipu, apalagi hanya sekelompok orang.
Akan tetapi, berjuang bukanlah untuk menjadi Musa atau Harun. Berjuang amar Ma’ruf nahi mungkar, adalah untuk menetapi ketaatan, menjadi Hamba-Nya yang beriman. Untuk persiapan hari perhitungan saat menghadap al Khaliq di Yaumul Hisab. [].

