Eggi Sudjana: Sabar Bukan Berdiam Diri

Redaksi
Januari 30, 2026 | Januari 30, 2026 WIB Last Updated 2026-01-30T10:31:15Z
Bogor _Dalam kehidupan, kata sabar sering disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa ikhtiar, menerima ketidakadilan tanpa suara, atau berdiam diri menghadapi keburukan. Padahal, dalam ajaran Islam, sabar bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan moral dan spiritual yang aktif. Sabar bukan berarti berhenti bergerak, melainkan tetap melangkah dengan kendali iman dan akal sehat.

Allah ﷻ memerintahkan sabar bukan untuk membenarkan kezaliman, tetapi agar manusia tidak dikendalikan oleh emosi, dendam, dan keputusasaan. Al-Qur’an menegaskan:

> “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Kebersamaan Allah dengan orang yang sabar menunjukkan bahwa sabar adalah sikap aktif yang melibatkan kesadaran, perjuangan, dan keteguhan. Jika sabar hanya bermakna diam tanpa usaha, maka tidak mungkin Allah menjadikannya sebagai sarana pertolongan.

Dalam konteks menghadapi kezaliman, Islam tidak mengajarkan kepasrahan total. Sabar justru menjadi fondasi agar perlawanan terhadap keburukan dilakukan dengan cara yang benar dan bermartabat. Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa diam terhadap kemungkaran bukanlah bentuk kesabaran, melainkan tanda lemahnya iman. Sabar berfungsi menjaga niat dan cara dalam menolak kemungkaran, bukan untuk meniadakan sikap kritis dan tanggung jawab sosial.

Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan nyata bahwa sabar berjalan seiring dengan ikhtiar. Ketika disakiti, difitnah, dan ditindas di Makkah, beliau bersabar tanpa kehilangan prinsip. Namun ketika ada ruang dan kekuatan untuk menegakkan keadilan di Madinah, beliau membangun tatanan sosial, hukum, dan politik yang adil. Ini menunjukkan bahwa sabar memiliki fase: menahan diri ketika belum mampu, dan bertindak tegas ketika kemampuan telah ada.

Allah ﷻ juga menegaskan keseimbangan ini dalam firman-Nya:

> “Maka bersabarlah kamu sebagaimana kesabaran ulul azmi dari para rasul.”
(QS. Al-Ahqaf: 35)

Para rasul bukanlah orang-orang yang berdiam diri menghadapi kebatilan. Mereka bersabar dalam proses panjang perjuangan, sambil terus menyampaikan kebenaran, meski harus menghadapi risiko besar.

Hikmah hari ini mengajarkan bahwa sabar adalah kemampuan mengendalikan diri agar tetap berada di jalan yang benar, bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Sabar adalah kekuatan batin yang menjaga perjuangan tetap bersih, lurus, dan bernilai ibadah. Diam tanpa ikhtiar adalah keputusasaan, sedangkan sabar adalah harapan yang terus bekerja.

Maka, bersabarlah—namun tetap berpikir, bergerak, dan berbuat kebaikan. Sebab Islam tidak memuliakan kepasrahan, melainkan kesungguhan yang disertai keikhlasan dan keteguhan iman.

Bes
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Eggi Sudjana: Sabar Bukan Berdiam Diri

Trending Now