Daendels menjalankan kekuasaan dengan mengikat elite lokal ke dalam struktur kolonial. Para bupati dan bangsawan tidak disingkirkan, tetapi dijadikan perpanjangan tangan kebijakan. Melalui proyek infrastruktur, pengaturan ulang tanah, dan penguatan administrasi, kendali atas wilayah dan rakyat berpindah secara bertahap. Stabilitas tampak terjaga di permukaan, namun secara substantif rakyat makin dijauhkan dari hak menentukan nasibnya sendiri.
Ir. R. Haidar Alwi, MT - Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, memandang pengalaman Jawa Barat pada masa Daendels sebagai pelajaran kenegaraan yang mendasar. Bagi Haidar Alwi, pengkhianatan elite jarang hadir sebagai konflik terbuka; ia lahir dari keputusan elite yang memilih keamanan posisi dan keuntungan pribadi dibanding kesetiaan kepada rakyat yang diwakili.
*“Sejarah Jawa Barat menunjukkan bahwa kekuasaan dapat berpindah tanpa perlawanan terbuka ketika elite lokal dilibatkan dalam sistem yang secara perlahan memindahkan hak dan kedaulatan rakyat melalui kebijakan administratif, proyek pembangunan, dan keputusan yang tampak sah namun merugikan kepentingan publik,”* tegas Haidar Alwi.
*Mekanisme Pengkhianatan Elite dan Dampaknya.*
Mekanisme kekuasaan pada masa Daendels memperlihatkan pola yang jelas. Pembangunan tidak berdiri netral: ia menjadi alat konsolidasi. Tanah rakyat dialihkan, kerja paksa dilegalkan, dan elite lokal berperan sebagai pengawas kebijakan kolonial. Kepentingan rakyat tidak menjadi pusat keputusan karena kekuasaan telah terikat pada kepentingan elite dan stabilitas sistem. Di titik inilah negara mulai kehilangan maknanya, karena kekuasaan tidak lagi bekerja untuk rakyat, melainkan untuk menjaga keberlangsungan sistem yang menyingkirkan mereka secara perlahan.
Dampaknya langsung terasa. Rakyat kehilangan ruang menentukan arah hidupnya, sementara elite lokal yang seharusnya melindungi justru menjadi penghubung kebijakan yang menekan. Kedaulatan tidak hilang dalam satu peristiwa, tetapi terkikis bertahap melalui kolaborasi kekuasaan yang rapi.
*“Pengkhianatan elite selalu bekerja secara senyap, bukan melalui benturan terbuka, sehingga rakyat sering kali baru menyadari kehilangan haknya ketika dampak kebijakan itu telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari,”* ujar Haidar Alwi.
*Dari Jawa Barat ke Pola Nasional Nusantara.*
Apa yang terjadi di Jawa Barat kemudian menjadi pola yang berulang di wilayah lain di Nusantara. Kooptasi elite, pengalihan aset strategis, dan legitimasi kebijakan menjelma template kekuasaan kolonial. Penjajahan bertahan lama bukan semata karena kekuatan asing, tetapi karena adanya elite lokal yang menjaga keberlangsungan sistem tersebut. Seperti pada masa Daendels, kekuasaan yang tampak tegas dan efektif dapat menyembunyikan proses pengalihan kedaulatan yang tidak disadari rakyat.
*“Sejarah Nusantara memperlihatkan bahwa penjajahan tidak mungkin bertahan lama tanpa keterlibatan elite lokal yang bersedia menukar kepentingan rakyat dengan posisi dan keuntungan di dalam sistem kekuasaan,”* kata Haidar Alwi.
*Bentuk Baru Ancaman Lama di Era Modern.*
Pelajaran dari Jawa Barat ini penting dicatat, karena sejarah menunjukkan bahwa pola kekuasaan jarang benar-benar hilang; ia hanya berganti bentuk mengikuti zamannya. Memasuki era negara modern, pengkhianatan elite tidak lagi tampil sebagai kolonialisme klasik. Tekanan global, kepentingan ekonomi besar, dan relasi kekuasaan yang kompleks membuka ruang bagi elite untuk kembali memainkan peran sebagai perantara kepentingan, sementara rakyat berada jauh dari pusat keputusan.
Haidar Alwi menegaskan bahwa pembangunan dan stabilitas tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kedaulatan rakyat. Watak pengkhianatan elite tetap sama: memindahkan kepentingan bangsa ke tangan segelintir pihak atas nama kemajuan.
*“Sejarah mengajarkan bahwa bentuk kekuasaan boleh berubah, tetapi watak pengkhianatan elite tetap sama, yakni memindahkan kepentingan bangsa ke tangan segelintir pihak atas nama kemajuan dan stabilitas,”* tegas Haidar Alwi.
*Alarm Dini bagi Kepemimpinan Nasional di Era Prabowo: Membaca Ancaman dari Lingkar Kekuasaan.*
Dalam konteks kekuasaan hari ini, Prabowo Subianto memimpin dengan legitimasi politik yang kuat dan mandat rakyat yang besar. Namun justru pada fase kekuasaan yang solid inilah sejarah memberikan peringatan paling serius. Haidar Alwi menilai bahwa ancaman terbesar bagi kepemimpinan nasional bukan berasal dari lawan politik yang terbuka, melainkan dari orang-orang di sekitar kekuasaan yang memiliki akses langsung terhadap pengambilan keputusan strategis. Mereka memahami sistem, menguasai prosedur, dan mampu memengaruhi arah kebijakan tanpa harus tampil di ruang publik. Dalam situasi seperti ini, kekuasaan dapat bergeser arahnya bukan karena niat pemimpin, tetapi karena pengaruh lingkungan yang tidak sepenuhnya berpihak pada kepentingan bangsa.
Pengalaman sejarah pada masa Herman Willem Daendels menjadi pelengkap penting untuk membaca pola tersebut. Daendels tidak bekerja sendirian; ia menjalankan kekuasaan melalui elite yang tampak loyal, profesional, dan efektif. Pola inilah yang menurut Haidar Alwi berbahaya jika terulang dalam bentuk modern. Pengkhianatan elite tidak selalu hadir sebagai pelanggaran hukum atau sikap membangkang, tetapi sering kali muncul sebagai kompromi kebijakan yang tampak rasional, stabil, dan sah, namun perlahan menjauhkan kepentingan rakyat dari pusat kekuasaan.
Haidar Alwi menegaskan bahwa alarm dini bagi kepemimpinan nasional bukan ajakan untuk mencurigai semua orang, melainkan dorongan agar Presiden memiliki ketajaman membaca karakter elite di sekelilingnya. Kepemimpinan yang kuat bukan hanya ditentukan oleh visi dan keberanian mengambil keputusan, tetapi juga oleh kemampuan mendeteksi siapa yang benar-benar bekerja untuk kepentingan bangsa dan siapa yang menjadikan kekuasaan sebagai ruang aman bagi kepentingan pribadi atau kelompok. *“Sejarah selalu menunjukkan bahwa pemimpin dengan mandat besar lebih sering diuji oleh loyalitas di sekelilingnya daripada oleh serangan yang datang dari luar,”* ujar Haidar Alwi.
*Refleksi Akhir.*
Sejarah Daendels di Jawa Barat menegaskan bahwa pengkhianatan elite adalah ancaman laten dalam setiap rezim. Kualitas kepemimpinan nasional tidak diukur dari besarnya kekuasaan, melainkan dari kemampuannya menjaga kekuasaan agar tidak kembali dikuasai kepentingan elite yang menjauh dari rakyat.
*“Kekuasaan boleh besar dan mandat rakyat boleh kuat, tetapi sejarah selalu lebih panjang daripada usia kekuasaan itu sendiri; di sanalah pemimpin diuji, bukan oleh pujian yang membutakan, melainkan oleh kemampuannya menjaga bangsa dari pengkhianatan yang lahir di dalam lingkar kekuasaannya,”* pungkas Haidar Alwi.

