Putussibau– Kapuas Hulu, detiksatu.com ||
Lonjakan harga kebutuhan pokok kembali memicu keresahan masyarakat di Kecamatan Putussibau Kota, Kabupaten Kapuas Hulu.
Harga gas LPG 3 kilogram di tingkat pengecer dilaporkan mencapai Rp60.000 per tabung, sementara BBM jenis Pertalite dijual bervariasi antara Rp13.000 hingga Rp15.000 per liter.
Tak hanya sektor energi, harga pangan juga ikut melonjak. Beras SPHP yang sebelumnya dijual sekitar Rp63.000 per karung, kini naik menjadi Rp75.000. Padahal, beras SPHP merupakan program pemerintah pusat yang seharusnya berfungsi sebagai penyangga harga dan pengendali inflasi.
Kondisi tersebut dinilai semakin memberatkan masyarakat kecil, pelaku UMKM, serta rumah tangga berpenghasilan rendah.
Kenaikan harga terjadi hampir bersamaan, sementara pengawasan distribusi di lapangan dinilai belum optimal.
“Gas sekarang Rp60 ribu, Pertalite bisa sampai Rp15 ribu, beras juga naik. Kami benar-benar tertekan,” ujar Syamsiah, warga Putussibau Kota, kepada detiksatu.com, Selasa (6/12/2026).
Syamsiah menilai, kebijakan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu saat ini terkesan tidak berpihak kepada masyarakat kecil.
Di tengah mahalnya kebutuhan pokok, masyarakat justru tidak merasakan kehadiran pemerintah dalam pengendalian harga.
Sorotan publik juga mengarah kepada instansi teknis terkait, mulai dari Dinas Perdagangan, Dinas Ketahanan Pangan, hingga Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kapuas Hulu.
Lemahnya pengawasan dinilai membuka peluang terjadinya spekulasi dan permainan harga di tingkat pengecer.
Selain itu, DPRD Kabupaten Kapuas Hulu turut diminta menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal. Masyarakat berharap DPRD tidak hanya menerima laporan administratif, tetapi juga turun langsung ke lapangan, memanggil pihak terkait, serta mengevaluasi kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Kondisi ini menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret, mulai dari penertiban distribusi LPG dan BBM bersubsidi, pengawasan harga beras SPHP, hingga keterbukaan data stok dan harga. Tanpa tindakan nyata, lonjakan harga dikhawatirkan akan terus menekan daya beli masyarakat Kapuas Hulu.
Kaperwil Kalbar : Adi*ztc

