Pengikut

Mutiara Hikmah Hari Senin 5 Januari 2026

Redaksi
Januari 06, 2026 | Januari 06, 2026 WIB Last Updated 2026-01-06T04:30:27Z
*MUTIARA HIKMAH SENIN*

📅 *5 Januari 2026*

✨ *RENUNGAN WAFAT: HANYA AMAL YANG MENYERTAI* ✨

🖋️ *Wafatnya penulis Kuwait, Abdullah al-Jarallah.*

Sebelum wafat, beliau menulis sebuah renungan yang mengguncang kesadaran, sebagai pengingat bagi yang masih hidup.

⚰️ *Saat Aku Wafat…*

“Ketika aku wafat, aku tidak akan cemas…
dan tidak akan peduli dengan jasadku yang rapuh…”

Karena akan ada saudara-saudara seiman yang mengurus segalanya:

👕 *Pakaianku akan ditanggalkan*

🚿 *Aku akan dimandikan*

🧻 *Aku akan dikafani*

🚪 *Aku akan dikeluarkan dari rumahku*

🪦 *Aku akan dibawa ke tempat tinggalku yang baru: kubur*

👥 *Banyak orang akan mengantarku,*
bahkan sebagian membatalkan urusan dunia demi pemakamanku…
Padahal, boleh jadi nasihatku semasa hidup tak pernah mereka hiraukan

📦 *Semua yang Pernah Menjadi Milikku Akan Disingkirkan*

🔑 *Kunci-kunciku*

📚 *Buku-bukuku*

🎒 *Tasku*

👞 *Sepatuku*

👔 *Pakaianku*

*Jika keluargaku diberi taufik, mereka akan menyedekahkannya, agar bermanfaat bagiku.*

🌍 *Dunia Tidak Berduka Lama*

🌎 *Dunia tetap berputar*

💼 *Pekerjaanku digantikan orang lain*

💰 *Hartaku berpindah kepada ahli waris*

📈 *Perekonomian terus berjalan*

👉 *Sementara aku… akan dimintai pertanggungjawaban atas semuanya.*
Yang sedikit maupun yang banyak,
yang tampak maupun yang tersembunyi.

🪪 *Hal Pertama yang Hilang Saat Aku Mati:*

NAMAKU

Mereka berkata: “Mana jenazahnya?”

“Bawalah jenazahnya…”

“Dekatkan mayat itu…”

❌ *Namaku tidak lagi disebut.*

⚠️ *Maka janganlah tertipu oleh:*

Nasab

Kabilah

Jabatan

Popularitas

🌫️ *Betapa remehnya dunia…*
dan betapa agungnya apa yang akan kita hadapi.

😔 *Kesedihan Manusia atas Kematianmu Ada Tiga Jenis*

1️⃣ Orang yang hanya mengenalmu sekilas: “Kasihan…”

2️⃣ Teman-temanmu: bersedih beberapa jam atau hari, lalu kembali tertawa

3️⃣ Keluargamu: bersedih berminggu, berbulan, bahkan setahun…
lalu namamu masuk ke arsip kenangan

📌 *Kisah hidupmu di hadapan manusia telah selesai.*

📌 *Dan dimulailah kisah hidupmu yang sebenarnya.*

📉 *Yang Sirna Darimu*

Ketampanan dan kecantikan

Harta

Kesehatan

Anak-anak

Rumah dan istana

Pasangan hidup

🎯 *Yang tersisa bersamamu hanyalah AMALMU.*
Inilah awal kehidupan yang sesungguhnya.

❓ *Pertanyaan Besar untuk Kita yang Masih Hidup*

🕯️ *Apa yang telah kau persiapkan untuk kubur dan akhiratmu mulai sekarang?*

Renungkan dengan sungguh-sungguh:

🕌 Shalat fardhu

🌙 Shalat sunnah

🤲 Shalat malam

💝 Sedekah secara diam-diam

🌱 Amal shaleh

📖 Mengapa Orang Mati Ingin Kembali ke Dunia untuk Bersedekah?

Allah Ta’ala berfirman:

“Ya Rabbku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah…”
(QS. Al-Munafiqun [63]: 10)

❗ Ia tidak berkata: aku akan umrah, shalat, atau puasa…

🧠 Para ulama menjelaskan:
Orang yang telah mati hanya menyebut sedekah, karena besarnya dampak sedekah yang ia lihat setelah kematiannya.

🌾 Maka Perbanyaklah Sedekah

Dan salah satu sedekah termudah hari ini adalah:

⏱️ 10 detik waktumu untuk menyebarkan tulisan ini
dengan niat menasihati karena Allah.

🗣️ Karena kalimat yang baik adalah sedekah.

📖 “Dan ingatkanlah, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”

🖋️ *Salam Ta’ziem, Taqwa, dan Jihad*

*BES – Brother Eggi Sudjana.*

🕊️ insyaaAllaah Allah menutup usia kita dalam husnul khatimah,
dan menjadikan amal-amal kita cahaya di alam kubur dan akhirat. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.
[6/1, 10 .21 ] . Mutiara Hikmah Selasa 2: *Politik Luar Negeri Indonesia Pasca Penangkapan Presiden Venezuela*

Oleh: Prof. Eggi Sudjana

Peristiwa penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Flores, oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump telah mengguncang tata hubungan internasional.

Tindakan sepihak tersebut, apa pun alasan hukumnya menurut versi Amerika Serikat, menimbulkan pertanyaan serius tentang penghormatan terhadap kedaulatan negara, hukum internasional, serta peran lembaga-lembaga global seperti Dewan Keamanan PBB.

Bagi Indonesia, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari warisan pemikiran Bung Karno, yang sejak awal telah meletakkan pondasi moral dan ideologis politik luar negeri Indonesia, bebas dan aktif, anti-penindasan, serta berpihak pada keadilan dunia.

Bung Karno dengan tegas menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari penjajahan cara berpikir. Dalam pidatonya di Konferensi Asia Afrika tahun 1955, Bung Karno menegaskan:
“Kolonialisme belum mati. Ia hidup dalam bentuk baru, dalam kontrol ekonomi, kontrol intelektual, dan kontrol politik.”

Pernyataan ini sangat relevan dengan situasi dunia hari ini. Ketika negara kuat bertindak sepihak atas negara lain dengan dalih hukum, keamanan, atau demokrasi, tetapi mengabaikan mekanisme internasional, sesungguhnya itulah bentuk kolonialisme gaya baru yang telah diperingatkan Bung Karno sejak puluhan tahun lalu.

Pemikiran Bung Karno ini sejalan dengan firman Allah SWT:

وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
(QS. Al-Baqarah: 190)

Larangan melampaui batas ini bukan hanya berlaku bagi individu, tetapi juga bagi negara.

*Non-Blok Jalan Tengah yang Bermartabat*

Bung Karno tidak ingin Indonesia menjadi satelit kekuatan mana pun. Ia menolak politik “ikut yang kuat” dan juga menolak sikap pasif. Inilah makna sejati non-blok, berdiri di tengah dengan prinsip, bukan berdiri di pinggir tanpa sikap.

Dalam salah satu pidatonya, Bung Karno berkata:

“Kita tidak memihak ke Timur atau ke Barat. Kita memihak kepada keadilan.”

Kalimat ini adalah intisari politik luar negeri Indonesia. Dalam konteks Venezuela, Indonesia tidak dituntut membela individu Maduro atau rezimnya, tetapi membela prinsip, kedaulatan negara, supremasi hukum internasional, dan penyelesaian damai.

Prinsip ini sejalan dengan Al-Qur’an:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا
(QS. Al-Mā’idah: 8)

Keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kebencian, tekanan politik, atau kepentingan global.

*Kedaulatan sebagai Harga Mati*

Bung Karno adalah pemimpin yang sangat sensitif terhadap isu kedaulatan. Baginya, kedaulatan adalah kehormatan bangsa. Dalam pidato-pidatonya, ia berkali-kali menegaskan:

“Sekali kita menyerah pada intervensi asing, maka saat itu pula harga diri bangsa mulai runtuh.”

Karena itu, Indonesia tidak boleh membenarkan praktek penangkapan kepala negara asing secara sepihak, apa pun alasannya. Jika preseden ini dibiarkan, maka dunia akan bergerak menuju hukum rimba, di mana yang kuat menentukan benar dan salah.

Al-Qur’an telah mengingatkan bahaya kezaliman kekuasaan:

وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا
(QS. Al-Kahfi: 59)

Sejarah dunia, sebagaimana sejarah bangsa-bangsa yang runtuh, selalu menunjukkan bahwa kezaliman kekuasaan tidak pernah berumur panjang.

Bung Karno tidak pernah bercita-cita menjadikan Indonesia negara adidaya secara militer. Yang ia inginkan adalah Indonesia menjadi mercusuar moral dunia. Negara yang berani bersuara ketika keadilan diinjak-injak, meski tidak memiliki kekuatan senjata terbesar.

Itulah sebabnya Bung Karno menggagas Konferensi Asia Afrika, bukan untuk melawan Barat atau Timur, tetapi untuk mengangkat martabat bangsa-bangsa yang selama ini dibungkam.

Al-Qur’an telah mengajarkan:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
(QS. An-Nahl: 90)

Perintah ini bersifat universal, berlaku di rumah tangga, di masyarakat, hingga dalam hubungan antarnegara.

Dalam menghadapi konflik global seperti kasus Venezuela, Indonesia tidak boleh kehilangan kompas sejarahnya.

Politik luar negeri Indonesia harus tetap setia pada ajaran Bung Karno, semangat Konferensi Asia Afrika, dan nilai-nilai keadilan universal yang juga diajarkan Al-Qur’an.

Selama Indonesia berpijak pada keadilan, kedaulatan, dan kemanusiaan, Indonesia tidak akan pernah menjadi bangsa kecil, meski tidak menjadi negara adidaya.

Itulah warisan Bung Karno.
Itulah jalan non-blok yang bermartabat.

Bogor, Selasa 6 Januari 2026, 4:54 Wib.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mutiara Hikmah Hari Senin 5 Januari 2026

Trending Now