Depok, detiksatu.com || Kadin Jepang kagum pada program makan bergizi gratis Indonesia, jangkau hampir 60 Juta penerima manfaat
Depok, 14 Januari 2026.
Indonesia kini berbalik menjadi rujukan dunia.
Kamar Dagang dan Industri Jepang atau Japan Chamber of Commerce and Industry (JCCI) menyampaikan kekagumannya terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Pemerintah Indonesia. Program ini dinilai berhasil dikembangkan dalam waktu relatif singkat dengan skala yang sangat masif, menjangkau hampir 60 juta penerima manfaat setiap hari jumlah yang setara dengan hampir setengah populasi Jepang.
Kekaguman tersebut disampaikan secara langsung saat delegasi JCCI melakukan kunjungan studi banding ke Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG) Pasir Putih, Sawangan, Kota Depok.
Delegasi Jepang meninjau secara menyeluruh proses operasional MBG, mulai dari pengolahan bahan makanan, proses memasak, pemorsian, hingga pendistribusian makanan ke sekolah-sekolah penerima manfaat, termasuk Yayasan Bina Mulia.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi JCCI menyaksikan langsung bagaimana sistem MBG di Indonesia dijalankan secara terstruktur dan terkoordinasi. Mulai dari manajemen dapur, pengawasan kualitas bahan pangan, hingga mekanisme distribusi yang memastikan makanan bergizi sampai tepat waktu kepada para siswa.
Skala dan kecepatan pengembangan sistem inilah yang menjadi perhatian utama delegasi Jepang.
Ketua Delegasi JCCI, Hayashi Hiroto, menilai bahwa petunjuk teknis dan standar operasional prosedur (SOP) Program MBG di Indonesia telah memenuhi standar tinggi dan hampir setara dengan yang diterapkan di Jepang. Menurutnya, Indonesia menunjukkan kapasitas manajerial dan komitmen kuat dalam menjamin pemenuhan gizi anak-anak melalui kebijakan publik yang inklusif.
“Secara keseluruhan, standar operasional yang diterapkan sudah sangat baik dan mendekati standar Jepang. Yang membedakan adalah pada tahap memasak. Di Jepang, suhu setiap menu diukur sebelum disajikan, dengan standar minimal 80 derajat Celsius untuk memastikan makanan benar-benar aman dikonsumsi,” ujar Hayashi Hiroto.
Delegasi Jepang juga menilai bahwa pengalaman Indonesia dalam mengelola MBG pada skala besar dapat menjadi pembelajaran dua arah. Meski Jepang telah memulai program makan siang sekolah sejak tahun 1889 atau lebih dari 137 tahun lalu Indonesia dinilai berhasil melakukan lompatan besar dalam waktu singkat dengan pendekatan yang adaptif terhadap kondisi lokal.
Sebagai tindak lanjut kunjungan tersebut, delegasi JCCI menawarkan peluang kerja sama konkret, di antaranya program magang bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yayasan Bina Mulia jurusan Tata Boga. Selain itu, JCCI juga menawarkan pelatihan bagi Kepala SPPG Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bagian dari program transfer of knowledge, khususnya dalam aspek peningkatan keamanan pangan dan pengendalian mutu makanan.
Juru Bicara Badan Gizi Nasional, Dian Fatwa, menyambut positif kunjungan serta tawaran kerja sama dari JCCI. Ia menegaskan bahwa capaian Program MBG menjadi bukti kemampuan Indonesia dalam menjalankan program sosial berskala masif secara efektif dan berkelanjutan.
“Capaian MBG menunjukkan bahwa Indonesia mampu mengelola program besar dengan jangkauan nasional, bahkan kini menjadi lokasi studi banding bagi negara lain. Kolaborasi dengan Jepang tentu akan memperkuat kualitas serta keamanan pangan MBG, sekaligus mempererat hubungan kerja sama antara Indonesia dan Jepang,” ujar Dian Fatwa.
Menurutnya, kerja sama lintas negara sangat penting untuk memastikan Program MBG terus berkembang, tidak hanya dari sisi kuantitas penerima manfaat, tetapi juga dari kualitas gizi, keamanan pangan, serta edukasi bagi para pelaksana di lapangan.
Kunjungan delegasi JCCI ke Depok juga meninggalkan kesan mendalam. Delegasi tampak terharu saat disambut para siswa dengan penuh hormat, termasuk tradisi mencium tangan sebagai bentuk penghormatan. Keceriaan anak-anak saat menikmati Makan Bergizi Gratis menjadi pemandangan yang menguatkan keyakinan delegasi Jepang bahwa program ini benar-benar diterima dengan baik oleh para penerima manfaat.
Bagi Indonesia, kunjungan ini menjadi penanda penting bahwa Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi anak-anak bangsa, tetapi juga menempatkan Indonesia sebagai contoh praktik baik di tingkat internasional. Program MBG kini tidak sekadar kebijakan nasional, melainkan simbol komitmen negara dalam membangun generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan berdaya saing global.
Red-Ervinna

