Pengikut

Jaga Aliran di Tengah Kekosongan Jabatan, Ikhtiar BPSDA Kawal Musim Tanam di Pulau Sumbawa

Redaksi
Januari 11, 2026 | Januari 11, 2026 WIB Last Updated 2026-01-11T10:17:06Z
Bima, detiksatu.com — Di Daerah Irigasi (DI) Sumi, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, warga bergotong royong membongkar pintu penguras saluran irigasi yang dipenuhi endapan lumpur. Beberapa orang memutar roda besi, sebagian lain menahan rangka pintu agar tidak ambruk. Di sela aktivitas itu, aparatur teknis Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Wilayah Sumbawa Bagian Timur tampak mendampingi, memastikan pekerjaan berjalan aman dan saluran kembali berfungsi.

Kerja lapangan tersebut berlangsung di tengah keterbatasan anggaran dan belum terisinya jabatan struktural definitif di lingkungan PUPR Provinsi Nusa Tenggara Barat. Namun kondisi administratif itu tidak serta-merta menghentikan pelayanan teknis. Bagi petani, air tidak bisa menunggu proses pelantikan.

Kepala BPSDA Wilayah Sumbawa Bagian Timur, Amrin, menjelaskan pendampingan dilakukan karena pada tahun anggaran sebelumnya tidak tersedia biaya pelaksanaan, baik pada anggaran murni maupun perubahan. Situasi itu mendorong masyarakat berinisiatif melakukan gotong royong, sementara BPSDA hadir memastikan pekerjaan sesuai kaidah teknis.

“Kegiatan gotong royong ini dilaksanakan di DI Sumi, Kecamatan Lambu. Murni swadaya masyarakat. Kami mendampingi agar saluran tetap berfungsi dan mendukung peningkatan pangan,” katanya saat dikonfirmasi media ini, Minggu (11/01/2026).

Selain di DI Sumi, kerja teknis BPSDA juga berlangsung di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Bima. Di Kecamatan Wawo, dilakukan penggalian 14 kantong air sebagai penampungan cadangan air. Sementara di Kecamatan Wera, pekerjaan difokuskan pada perkuatan tebing dengan bronjong serta normalisasi sungai akibat banjir bandang," jelasnya.

Amrin menambahkan, di Kecamatan Wera terdapat lima paket pekerjaan yang bersumber dari Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD. Paket-paket tersebut diarahkan untuk menangani kerusakan infrastruktur air yang bersifat darurat dan rawan mengganggu aktivitas pertanian warga.

Sambil menunggu pelantikan pimpinan definitif, BPSDA masih menyelesaikan sejumlah pekerjaan rumah sejak akhir tahun lalu. Karena tidak tersedia anggaran pemeliharaan, pola kerja swadaya bersama masyarakat menjadi pilihan paling realistis," ungkapnya.

Kegiatan gotong royong di DI Sumi dikoordinasikan oleh Camat Sape bersama kepala desa terdampak, termasuk Desa Sumi dan desa-desa sekitar. Bersama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), warga bahu-membahu memastikan saluran irigasi tetap mengalir.

Menurut Amrin, keputusan untuk tetap turun ke lapangan diambil karena musim tanam tidak bisa menunggu. Jika harus menanti petunjuk teknis dan regulasi hingga Februari atau Maret, petani berisiko terlambat menanam dan mengalami kegagalan panen.

“Anggaran kami sangat minim, sementara masih banyak jaringan irigasi kewenangan Provinsi NTB yang belum tertangani. Karena itu, kami mengambil langkah-langkah darurat yang sifatnya emergensi,” ujarnya.

Melalui skema swakelola, BPSDA juga telah melakukan penggalian sedimentasi di Daerah Irigasi Madapangga dan DI Ncanga Kai. Pemeliharaan jaringan irigasi dilakukan secara bertahap, meski belum menyeluruh.

Ia menegaskan, seluruh kegiatan tetap berpedoman pada petunjuk teknis dan aturan yang berlaku. Setiap langkah dimusyawarahkan bersama P3A. BPSDA juga tidak melakukan penandatanganan administrasi di luar kewenangannya. Secara administratif, telah ada Pelaksana Tugas (Plt) yang bertanggung jawab, sementara aparatur teknis fokus pada pendampingan lapangan.

Dalam pelaksanaannya, kerja lapangan melibatkan lintas sektor. Selain P3A, unsur Koramil, Polsek, hingga Muspika turut dilibatkan untuk memastikan kegiatan berjalan tertib dan aman.

Saat ini, perhatian utama BPSDA tertuju pada daerah irigasi kewenangan provinsi, seperti DI Ncanga Kai serta DI Daha 1 dan Daha 2. Kondisi saluran di wilayah tersebut mengalami sedimentasi cukup parah sehingga aliran air tidak lagi lancar. Karena keterbatasan anggaran, pemeliharaan baru bisa dilakukan secara sporadis melalui gotong royong," tuturnya.

Antusiasme masyarakat, terutama di wilayah Sape dan Kecamatan Lambu, dinilai cukup tinggi. Warga tidak hanya terlibat secara fisik, tetapi juga mulai tumbuh rasa memiliki terhadap saluran irigasi dan pintu-pintu air.

Ke depan, Amrin berharap adanya anggaran khusus untuk Operasi dan Pemeliharaan (OP) jaringan irigasi di Pulau Sumbawa guna mendukung target peningkatan pangan tahun 2026.

Ia juga mengajak masyarakat untuk aktif menjaga infrastruktur air. Jika terjadi banjir atau sampah masuk ke saluran, warga diminta tidak hanya menonton, tetapi ikut membersihkan melalui jadwal yang telah disepakati bersama P3A.
“Saluran irigasi ini milik bersama. Kalau dijaga bersama, manfaatnya juga kembali ke masyarakat,” pungkasnya. (bgs)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Jaga Aliran di Tengah Kekosongan Jabatan, Ikhtiar BPSDA Kawal Musim Tanam di Pulau Sumbawa

Trending Now