BALIKPAPAN, detiksatu.com – Kasus belasan remaja yang diamankan polisi karena membawa busur panah hingga celurit di Balikpapan Barat menjadi alarm keras bagi semua pihak. Menyikapi kondisi tersebut, Kepala SMP Negeri 4 Balikpapan , Afandi, mengajak orang tua dan masyarakat untuk tidak lagi abai terhadap aktivitas anak-anak, terutama pada malam hari.
Menurut Afandi, pengawasan terhadap anak tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau keluarga semata. Lingkungan sekitar memiliki peran besar dalam mencegah anak terjerumus ke aktivitas yang berisiko membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
“Kalau ada anak-anak berkumpul, jangan cuek. Kita perlu bertanya dengan baik, mereka sedang melakukan apa. Apalagi jika ditemukan barang-barang yang berpotensi membahayakan, itu pertanda ada sesuatu yang perlu diwaspadai,” ujarnya saat ditemui di Polsek Balikapan Barat, Minggu (18/1).
Ia menekankan bahwa kepedulian sosial warga sering kali menjadi benteng pertama sebelum masalah berkembang menjadi tindakan kekerasan. Terlebih, banyak peristiwa bermula dari kebiasaan berkumpul hingga larut malam tanpa pengawasan yang jelas.
Afandi secara khusus menyoroti peran orang tua dalam mengontrol jam keluar-masuk anak, terutama pada malam Sabtu dan Minggu. Menurutnya, kelonggaran kecil yang dibiarkan berulang bisa membentuk kebiasaan berbahaya.
“Kalau sekali dibiarkan pulang larut, besoknya akan diulang, lalu makin larut lagi. Maka harus konsisten. Misalnya jam tertentu sudah harus pulang, itu diterapkan terus,” jelasnya.
Dari sisi sekolah, SMPN 4 Balikpapan berupaya memperkuat pembinaan karakter melalui rutinitas harian yang melibatkan orang tua. Afandi mengungkapkan bahwa pihak sekolah secara rutin mengingatkan orang tua melalui wali kelas untuk membangunkan anak salat Subuh, bahkan pesan pengingat dikirim setiap hari, termasuk akhir pekan.
“Ini kami lakukan terus-menerus. Di sekolah pun kami wajibkan salat Zuhur berjamaah, dan kami absensi satu per satu. Jika ada yang tidak melaksanakan, orang tua kami panggil,” tegasnya.
Terkait adanya siswa yang diduga terlibat dalam peristiwa, Afandi memastikan pendekatan sekolah bersifat pembinaan, bukan penghukuman. Ia menilai anak-anak tersebut berada dalam kondisi khilaf dan membutuhkan pendampingan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
“Kami tidak mendiskriminasi. Justru kami rangkul, kami komunikasikan dengan orang tua, dan kami jadikan peristiwa ini sebagai ibrah agar tidak terulang,” katanya.
Afandi juga menjelaskan bahwa SMPN 4 Balikpapan menerapkan tujuh pembiasaan utama, mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan pagi, belajar, hingga bermasyarakat. Menurutnya, aspek bermasyarakat menjadi poin penting yang harus diluruskan agar anak-anak bergaul di lingkungan yang sehat dan positif.
“Anak-anak itu harus diajarkan bermasyarakat yang benar, yang bersih dan bermakna. Dengan cinta, perhatian, dan keteladanan, kita bisa menyelamatkan masa depan mereka,” pungkas Afandi.***


