Oleh karena itu, umat Islam penting memiliki Islamic world view (cara pandang Islami) di tengah arus sekularisasi yang memisahkan agama dari kehidupan publik. “Agama jangan hanya dibatasi di masjid. Islam harus hadir dalam kehidupan sosial, ekonomi, hingga pemerintahan,” tegasnya saat mengisi kuliah umum di SMP IT Al Munadi, Medan, Sumatera Utara, Jumat (9/1/2026).
Terkait pendidikan, Prof Didin menegaskan bahwa pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak mulia dalam membangun generasi terbaik. Hal tersebut disampaikan dalam kuliah umum
Dalam pemaparannya, Prof Didin menjelaskan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk insan yang berilmu, berakhlak, serta bermanfaat bagi umat dan bangsa. Ia menekankan peran guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai motivator bagi peserta didik, termasuk memotivasi mereka untuk melaksanakan perintah agama dan meninggalkan larangannya.
“Pendidikan Islam harus melahirkan manusia yang berilmu dan berakhlak. Guru memiliki tugas penting untuk membimbing dan memotivasi anak didik dalam kebaikan,” ujarnya.
Prof Didin menguraikan tiga upaya utama dalam mendidik generasi yang baik. Pertama, pembiasaan, seperti mengajarkan shalat sejak dini ketika anak sudah mampu membedakan kanan dan kiri. Kedua, keteladanan, di mana guru dan orang tua harus menjadi contoh nyata perilaku baik agar dapat ditiru oleh anak-anak.
“Dan yang ketiga, penerapan reward dan punishment, yaitu memberikan penghargaan kepada anak yang berprestasi serta sanksi atau hukuman yang mendidik bagi yang melanggar aturan,” jelasnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa umat Islam harus mampu menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi dengan memperkuat ilmu pengetahuan, kebersamaan jamaah, ekonomi, hingga politik, sesuai dengan aturan Allah SWT.
Kuliah umum tersebut diikuti oleh para guru SMP IT Al Muladi dan pengurus yayasan sebagai upaya memperkuat pemahaman tentang pentingnya pola pendidikan Islami dalam menghadapi tantangan zaman. [ ]

