Pengikut

Parade Monolog di Lembata, NTT Serukan Penolakan terhadap Proyek Geothermal Atadei

Redaksi
Januari 10, 2026 | Januari 10, 2026 WIB Last Updated 2026-01-10T16:32:49Z
Lewoleba, NTT– detiksatu.com || Komunitas Ukut Tawa berkolaborasi dengan Forum Pinggir Jalan dan Front Masyarakat Lembata untuk Keadilan (Frontal) menggelar Parade Monolog bertajuk “Jaga Ibu Bumi, Tolak Geothermal”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Perpustakaan Daerah Gorys Keraf, Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (10/1/2026).

Acara ini dihadiri oleh berbagai perwakilan komunitas, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan aktivis nidi Lembata. Parade Monolog digelar sebagai bentuk ekspresi dan kampanye penolakan terhadap rencana pengembangan proyek panas bumi (geothermal) di Kampung Watuwawer, Desa Atakore, Atadei.

Dalam prolognya, Dominikus Karangora, Ketua Frontal, menjelaskan filosofi tema “Ibu Bumi”. Istilah tersebut, menurutnya, mengingatkan manusia akan hakikatnya sebagai anak yang dilahirkan dari rahim Bumi, sehingga memiliki kewajiban untuk menjaganya.

“Bumi bukan sekadar benda mati, melainkan entitas yang hidup layaknya seorang ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan memelihara. Menyebut Bumi sebagai ‘Ibu’ adalah pengingat akan kewajiban kita untuk merawatnya,” tegas Karangora.

Ia menambahkan, tema “Jaga Ibu Bumi: Tolak Geothermal” merupakan deklarasi penolakan terhadap cara pikir yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta. “Nalar yang mengabaikan fakta bahwa kerusakan pada Ibu Bumi adalah kerusakan pada satu-satunya rumah yang kita miliki,” ujarnya.

Monolog sebagai Media Keintiman

Dominikus menjelaskan alasan dipilihnya format monolog. Menurutnya, monolog memiliki intensitas keintiman untuk menyampaikan pesan, seperti membisikkan rahasia keluarga tentang ibu yang sedang sakit.

“Melalui Parade Monolog, kami ingin memperkuat pesan bahwa kerusakan akibat geothermal adalah serangan terhadap seluruh jaringan kehidupan yang saling terhubung,” kata Dominikus.

Suara Perempuan dan Air

Salah satu monolog yang dibawakan adalah “Perempuan dan Air” oleh Biwa Bidomaking dari Forum Pinggir Jalan. Dalam monolognya, Biwa menyatukan dirinya dengan air, menyuarakan kekhawatiran akan dampak proyek geothermal terhadap sumber kehidupan.

“Proyek geothermal membutuhkan air dalam jumlah besar, menguras sumber air tanah yang vital bagi pertanian dan kehidupan sehari-hari. Air adalah nyawa kami, tapi proyek ini merampasnya tanpa suara kami,” seru Biwa.

Ia menegaskan bahwa penolakan ini juga merupakan perjuangan menjaga budaya dan hak perempuan sebagai penjaga kehidupan. “Kami butuh energi yang tidak merusak, yang menghormati hak perempuan dan alam,” imbuhnya.

Monolog lainnya, “Bumi Menyimpan Luka”, dibawakan oleh Ika Making dari Komunitas Ukut Tawa. Ika mengungkapkan penderitaan bumi dan masyarakat di berbagai daerah yang terdampak proyek sejenis, seperti di Cipanas, Poco Leok, Matoloto, Sokoria, dan Wogo.

“Bumi ingin menjadi sumber kehidupan, bukan sumber konflik dan penderitaan. Dengarkan suara rakyat yang selama ini terabaikan,” pesan Ika.

Ia menggambarkan berbagai dampak yang telah terjadi di lokasi lain, seperti pencemaran air, penurunan hasil pertanian, penyakit kulit, gempa mikro, dan ketakutan warga. “Inikah yang katanya energi terbarukan, atau justru luka baru?” tanyanya retoris.

Parade Monolog ini ditutup dengan seruan bersama untuk mendengarkan jeritan bumi dan suara masyarakat adat. Pesan utamanya jelas: penolakan terhadap proyek geothermal Atadei adalah pilihan untuk kembali menjadi anak yang menghormati Ibu Bumi, menjaga keseimbangan ekologi, ekonomi, dan budaya untuk generasi mendatang.

Reporter : Emanuel Boli
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Parade Monolog di Lembata, NTT Serukan Penolakan terhadap Proyek Geothermal Atadei

Trending Now