Nduga, detiksatu.com || Pasca Operasi militer Indonesia awal bulan 12 Desember 2025 Di Distrik Gearek dilaporkan sebagian besar masyarakat belum kembali ke kampung halaman
Salah tokoh intelektual sekaligus ketua Yayasan Woken Yuli Bugiangge mengatakan Sampai sejauh ini masyarakat sebagai besar yang mengungsi ke beberapa lokasi sejak tanggal 12/12/2025 itu belum kembali di kampung :
" Sejak operasi militer masyarakat pengungsi keluar belum balik ke kampung halaman karena masih mengalami traumatis", kata Yuli bugiangge saat mewawancarai wartawan Minggu, Halaman gereja Weneroma 18/1/2026
Kelompok Yayasan Woken dilakukan pengambilan data di TKP setelah terjadi operasi pasca militer di Distrik Gearek kabupaten nduga pada 12 Desember 2025 telah mendapatkan sejumlah peristiwa
Yuli Bugiangge mengatakan tanggal 11 Desember 2025 TNI menggunakan satu helikopter melintas di area pemukiman warga tetapi karena cuaca yang tak memungkinkan untuk menurunkan bom pada akhirnya kembali ke timika
Tanggal 12 militer Indonesia datang menggunakan 6 helikopter melintas area wilayah distrik Gearek lalu melakukan penurunan bom sebanyak 5 kali di area pemukiman warga sipil
"Setelah dilakukan penurunan bom melancarkan tembakan arahnya dimana lokasi warga sipil berada, salah satu kampung yang menjadi sasaran adalah kanjelak distrik Gearek menjadi sasaran serangan militer,"kata Yuli saat wawancara
"TNI menggunakan 6 helikopter dan mendroping 52 anggota TNI untuk dilakukan operasi wilayah distrik Gearek Kabupaten Nduga"
Dampak dari operasi penurunan bom dan melancarkan penembakan salah satu anak kecil warga sipil atiana Giban umur 7 tahun menjadi korban, sedangkan mamanya saat melarikan diri melancarkan tembakan akhir kene di bagian betis"; kata Yuli saat jumpa awak media
"Anak kecil yang ditembak melalui bom udara itu setelah mendarat, mereka ambil mayatnya lalu hilangkan jejak anak itu hingga saat ini,"ungkap Yuli
Selanjutnya, ia juga menambahkan selain itu rumah-rumah penduduk yang dibakar oleh TNI sebanyak 6 rumah milik warga sipil dan milik hamba Tuhan, trek-trek milik bangunan disana bolong habis,"kata Yuli
Dampak dari operasi militer dipastikan sebagian besar warga sipil berada di pengungsian, diantarnya 50 kepala keluarga berada ibu kota keneyam, 15 kepala keluarga mengungsi ke kab. Asmat, 10 kepala keluarga mengungsi distrik terdekat, dan sebagian besar warga mengungsi di hutan-hutan menghindari tembakan ancaman militer.
" Jadi lebih dari 100 Kepala keluarga yang mengungsi sebagian besar belum kembali ke kampung,"jelas Yuli
"Masyarakat yang pengungsi masih tertanam rasa ketakutan dan trauma hingga saat ini, Selain itu tidak merasakan suasana natal 25 Desember 2025,"ungkap Yuli
"6 rumah yang di bakar itu milik pimpinan gereja pendeta dan gembala. Bukan di huni oleh TPNPB -OPM tetapi tindakan TNI menimbulkan menambah menganggu psikologis, traumatis dan ketakutan sepanjang masa,"kata Yuli
Sebelumnya Rombongan tim Gabungan dipimpin oleh Theo Hesem direktur Hak asasi manusia Papua beserta lembaga dewan perwakilan rakyat Daerah (DPRD) nduga bersama kepala distrik berkunjung disana melakukan pemasangan baliho
" Tujuan pemasangan baliho sebagai tanda pelarangan operasi militer di pemukiman warga sipil disana karena akan menciptakan kondisi traumatis terpanjang di masyarakat," kata Yuli
Kami berharap dengan adanya tanda pelarangan ini tidak lagi ada operasi militer yang nantinya membunuh warga sipil :
" Kami yayasan Woken sudah pasang baliho pelarangan operasi militer selain baliho dari rombongan tim gabungan Pemda nduga dengan yayasan kemanusiaan dan keutuhan manusia papua (YKKMP ),"tegasnya
Reporter: inggi Kogoya

