Aceh, detiksatu.com || Prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dari jajaran Korem 011/Lilawangsa terus menunjukkan komitmennya dalam membantu masyarakat terdampak bencana dengan membangun jembatan gantung sepanjang 120 meter di atas Sungai Tamiang, tepatnya di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang.
Pembangunan jembatan tersebut dilakukan sebagai respons cepat atas putus totalnya akses penghubung akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Salah seorang prajurit TNI AD di lokasi pembangunan, Kamis (15/1/2026), mengungkapkan bahwa proses pembangunan jembatan gantung tersebut telah berjalan selama 16 hari.
Ia menargetkan jembatan dapat difungsikan dalam kurun waktu satu bulan ke depan agar segera bisa digunakan oleh masyarakat.
“Kami sudah 16 hari membangun jembatan ini dan ditargetkan dalam waktu satu bulan ke depan jembatan sudah dapat difungsikan sebagai sarana penyeberangan warga,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa jembatan gantung tersebut bersifat sementara, sembari menunggu pembangunan kembali jembatan permanen oleh pihak terkait. Meski demikian, keberadaan jembatan gantung ini dinilai sangat vital untuk memulihkan kembali aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat yang sempat lumpuh akibat terputusnya akses transportasi.
Pembangunan jembatan gantung di Lubuk Sidup menjadi prioritas utama karena jalur tersebut merupakan urat nadi perekonomian warga. Putusnya jembatan rangka baja Aras Sembilan Lubuk Sidup membuat aktivitas warga terganggu, mulai dari distribusi hasil pertanian, akses pendidikan, hingga layanan kesehatan.
Tidak hanya di Desa Lubuk Sidup, TNI AD juga tengah mengerjakan pembangunan jembatan gantung serupa di wilayah pedalaman Desa Pantai Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur.
Daerah tersebut juga mengalami kerusakan infrastruktur akibat banjir, sehingga akses masyarakat menjadi sangat terbatas.
Sejumlah prajurit TNI telah bekerja tanpa kenal lelah selama beberapa hari terakhir untuk menyambung kembali akses penghubung antara Kecamatan Sekerak dan Kecamatan Bandar Pusaka.
Medan yang cukup berat serta kondisi cuaca yang tidak menentu tidak menyurutkan semangat para TNI dalam menyelesaikan tugas kemanusiaan tersebut.
Pasca-robohnya jembatan permanen, kondisi warga Desa Lubuk Sidup dan sekitarnya memang sangat memprihatinkan. Warga dan pendatang terpaksa kembali menggunakan jasa perahu boat berbayar untuk menyeberangi Sungai Tamiang, sebagaimana yang dilakukan sebelum jembatan permanen berdiri.
“Sejak jembatan dihantam banjir dan roboh, warga terpaksa menyeberang sungai menggunakan perahu boat dengan biaya tertentu,” ungkap prajurit tersebut.
Berdasarkan catatan, jembatan permanen yang roboh tersebut merupakan jalan lintas provinsi yang dibangun pada tahun 2008 dan mulai difungsikan secara penuh sejak tahun 2010. Kerusakan parah akibat banjir besar membuat jembatan tidak lagi dapat digunakan, sehingga pola transportasi masyarakat kembali seperti masa lalu.
Menilik sejarahnya, jalur penyeberangan Sungai Tamiang di kawasan tersebut memang memiliki riwayat panjang sebagai jalur transportasi air. Pada era 1990-an, penyeberangan sungai dilayani menggunakan getek atau rakit mesin milik Dinas Perhubungan Aceh Tamiang yang dikelola oleh pemerintah desa setempat, sebelum akhirnya digantikan oleh jembatan permanen.
Dengan dibangunnya jembatan gantung oleh TNI AD, masyarakat berharap akses transportasi dapat segera normal kembali. Keberadaan jembatan ini diharapkan mampu mengakhiri ketergantungan warga pada jasa penyeberangan boat, sekaligus mengembalikan kelancaran mobilitas orang dan distribusi logistik di wilayah Aceh Tamiang.
Kehadiran TNI AD di tengah masyarakat tidak hanya menjadi simbol pertahanan negara, tetapi juga wujud nyata pengabdian dan kepedulian terhadap rakyat, terutama dalam situasi darurat dan pemulihan pascabencana.
Red–Ervinna

