Pengikut

Redaksi Ber Histori Tokoh Religi

Redaksi
Januari 01, 2026 | Januari 01, 2026 WIB Last Updated 2025-12-31T23:32:48Z
🌿 ABAH ANOM KH. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin Wali Pasundan, Pewaris Suryalaya, Penjaga NKRI

Bogor, detiksatu.com || Redaksi berhistory 
Di kaki perbukitan Tasikmalaya, di Kampung Suryalaya, pada 1 Januari 1915, lahirlah seorang anak yang kelak menjadi salah satu poros spiritual terbesar di Tanah Sunda. Ia bernama KH. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin, yang kemudian dikenal luas sebagai Abah Anom.
Ia adalah putra dari Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh)—pendiri Pesantren Suryalaya—dan Hajjah Juhriyah, seorang ibu yang menanamkan adab, kesabaran, serta keteguhan batin sejak dini. Dari rahim keluarga inilah Abah Anom tumbuh, ditempa oleh ilmu, laku, dan tirakat.

📚 SANTRI KELANA TANAH PASUNDAN

Pendidikan awal Abah Anom langsung dibimbing oleh ayahnya sendiri. Dari Abah Sepuh, ia menyerap dasar-dasar agama, adab, dan ruh tasawuf. Pada usia delapan tahun, ia mengenyam pendidikan formal di Ciamis, lalu melanjutkan sekolah menengah di Ciawi, Tasikmalaya.

Sejak tahun 1930, Abah Anom menjalani laku santri kelana. Ia mondok dari satu pesantren ke pesantren lain di Jawa Barat:

– Pesantren Cicariang, Cianjur
– Pesantren Jambudwipa, Cianjur
– Pesantren Gentur, diasuh Ajengan Syatibi
– Pesantren Cireungas Cimelati, Sukabumi, diasuh Ajengan Aceng Mumu, ahli hikmah dan ilmu silat
Di pesantren terakhir inilah keilmuannya benar-benar dimatangkan—bukan hanya ilmu syariat dan tasawuf, tetapi juga ketangguhan jasmani, keberanian, dan disiplin diri.

🕋 MENIMBA ILMU DI TANAH SUCI

Pada usia 23 tahun, Abah Anom menikahi Euis Siti Ruyanah. Tak lama berselang, tahun 1938, ia berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu.
Selama kurang lebih tujuh bulan di Makkah, ia tekun mengikuti majelis bandungan di Masjidil Haram, menyimak pengajian para ulama dari Makkah dan Mesir. Ia juga rutin bermuzakarah di Ribat Naqsabandiyah Jabal Gubaisy, mengkaji kitab-kitab tasawuf karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, seperti Sirr al-Asrar dan Ghaniyyat at-Thalibin, kepada Syekh Romli, ulama asal Garut.
🇮🇩 ULAMA PEJUANG PENJAGA REPUBLIK

Sekembalinya dari Makkah, Abah Anom mendampingi Abah Sepuh mengelola Pesantren Suryalaya. Namun masa itu adalah masa genting bangsa. Tahun 1939–1945, ia aktif menjaga keamanan dan ketertiban negeri.

Ketika terjadi pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, Abah Anom mengambil sikap tegas: berdiri bersama NKRI. Ia bergabung dengan TNI untuk melawan gerakan tersebut. Baginya, agama dan cinta tanah air adalah satu tarikan nafas.

Sejak wafatnya Abah Sepuh pada 1956, Abah Anom memimpin Pesantren Suryalaya sepenuhnya. Dalam kurun 1950–1960, pesantren ini tercatat lebih dari 38 kali diteror DI/TII. Namun Abah Anom tak pernah surut. Ia memerintahkan santri dan pengikutnya untuk bertahan dan melawan. Atas jasanya, ia mendapat penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia.

KARAMAH SEORANG WALI

Abah Anom dikenal memiliki karamah yang masyhur. Salah satu kisah yang kerap diceritakan adalah pertemuannya dengan seorang kapten sakti.
Sang kapten memamerkan kemampuannya dengan membelah batu kali menjadi dua. Abah Anom hanya tersenyum, lalu meremas batu tersebut hingga berubah menjadi tepung halus. Dalam kisah lain, ia memindahkan ikan hanya dengan isyarat jari, bahkan menjatuhkan burung dari langit dengan satu bidikan isyarat tangan.

Akhirnya sang kapten bersujud, mengakui kekalahan batin, dan memohon ditalqinkan tarekat oleh Abah Anom. Dari kesombongan menuju kepasrahan—itulah hakikat karamah yang sejati.

🕊️ WARISAN SPIRITUAL TANAH SUNDA

Abah Anom wafat pada 5 September 2011. Ia dikenang bukan hanya karena karamahnya, tetapi karena kedalaman ibadah, kekuatan dzikir, keluasan ilmu, dan keberpihakannya pada kemanusiaan serta negeri.
Di Tanah Sunda, namanya hidup dalam wirid para salik, dalam sejarah pesantren, dan dalam ingatan bangsa.
“Wali sejati bukan yang menaklukkan alam,
tetapi yang menundukkan hawa nafsu.”
🌿

#KisahTanahSunda
#AbahAnom
#Suryalaya
#UlamaPasundan
#WaliNusantara
#SejarahSunda
#PesantrenSuryalaya
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Redaksi Ber Histori Tokoh Religi

Trending Now