Intan Jaya, Detiksatu.com || Gerakan Pelajar Mahasiswa Intan Jaya Se-Indonesia (GPMI-I) menggelar aksi demonstrasi damai di halaman Kantor Bupati Kabupaten Intan Jaya pada 13 Februari 2026. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pernyataan Bupati Intan Jaya yang disampaikan pada 13–14 Januari 2026 lalu.
Koordinator aksi, Marten Hagisimijau, dalam rilisnya menyatakan bahwa Bupati Intan Jaya dinilai tidak menjaga etika komunikasi sebagai pemimpin daerah saat merespons aksi demonstrasi damai mahasiswa. Massa aksi menuntut agar Bupati mempertanggungjawabkan pernyataan yang disampaikan di hadapan publik pada pertengahan Januari tersebut mengatakan
"Ko mahasiswa bodoh, saya kastau ko"
Mahasiswa menilai pernyataan Bupati Intan Jaya pada 14 Januari 2026 tidak mencerminkan sikap kepemimpinan yang melindungi rakyat, terutama di tengah situasi konflik bersenjata dan kondisi pengungsian yang masih terjadi di wilayah tersebut. Mereka menyesalkan adanya pernyataan yang dianggap memerintahkan aparat TNI-Polri untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap mahasiswa dan warga.
Massa aksi datang tanpa membawa senjata tajam sebagai bentuk komitmen menjaga aksi tetap damai. Setibanya di halaman Kantor Bupati, sejumlah perwakilan mahasiswa menyampaikan orasi yang menyoroti kondisi pendidikan, kesehatan, ekonomi, keamanan, serta situasi kemanusiaan yang dinilai semakin memburuk di Kabupaten Intan Jaya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyoroti pernyataan Bupati yang dinilai merendahkan mahasiswa. Mereka menyebut adanya pernyataan yang dianggap tidak berwibawa dan mencederai nilai demokrasi serta kebebasan berpendapat.
Selain itu, mahasiswa mengecam keras pernyataan yang dinilai mengancam keselamatan mahasiswa dengan menyebut adanya perintah kepada aparat untuk menindak tegas mahasiswa yang dianggap sebagai provokator.
"Suruh aparat militer tembak mahasiswa itu yang memprovokasi warga intan jaya"
Atas dasar itu, Gerakan Pelajar Mahasiswa Intan Jaya Se-Indonesia (GPMI-I) menyampaikan sejumlah sikap:
1. Menilai Bupati Kabupaten Intan Jaya tidak mampu mengatasi berbagai persoalan yang terjadi di daerah tersebut.
2. Menilai Bupati belum menunjukkan kedewasaan secara teoritis maupun mental dalam menerima aspirasi rakyat dan mahasiswa.
3. Menilai Bupati dan DPRD Kabupaten Intan Jaya belum siap secara teori dan mental dalam menjalankan kepemimpinan yang demokratis dan berpihak pada rakyat.
4. Mengecam kepemimpinan Pemerintah Kabupaten Intan Jaya yang dinilai otoriter dan anti-kritik di tengah situasi daerah yang memburuk.
5. Mahasiswa juga menyatakan bahwa apabila tuntutan mereka tidak ditindaklanjuti, maka GPMI-I akan melaksanakan aksi lanjutan secara nasional dengan metode perjuangan yang berbeda dari aksi sebelumnya.
Pernyataan sikap tersebut disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan komitmen perjuangan mahasiswa demi masa depan Kabupaten Intan Jaya yang dinilai lebih baik ". Tutup