“Di Balik Langit Gaza” membanjiri Taman Ismail Marzuki ( TIM ) dengan air mata 2.400 penonton,
2 Januari 2026.
Tahun 2025 ditutup dengan sebuah peristiwa seni yang meninggalkan gema panjang di hati publik. Dari panggung Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, karya teater berjudul “Di Balik Langit Gaza” karya seniman teater Adipatilawe hadir sebagai penanda kuat bahwa seni masih menjadi bahasa paling jujur untuk menyuarakan kemanusiaan. Pementasan yang digelar dalam dua sesi pada 28 Desember 2025 itu sukses menyedot perhatian sekitar 2.400 penonton, yang memenuhi gedung hingga nyaris tanpa sisa kursi.
Bukan sekadar ramai, pertunjukan ini meninggalkan jejak emosional yang mendalam. Sepanjang pementasan, suasana Teater Besar TIM dipenuhi keheningan panjang, isak tangis, dan tatapan-tatapan yang basah oleh air mata. Banyak penonton terlihat terdiam usai pertunjukan, seolah enggan beranjak dari ruang batin yang baru saja mereka masuki bersama para aktor di atas panggung.
“Di Balik Langit Gaza” bukanlah pertunjukan hiburan biasa.
Karya ini tampil sebagai pernyataan nurani, menyuarakan tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza. Adipatilawe hadir tidak hanya sebagai penulis naskah, tetapi juga sebagai sutradara yang dengan cermat menata setiap detail artistik agar pesan kemanusiaan tersampaikan secara utuh dan berdaya gugah.
Dalam proses kreatifnya, Adipatilawe menggandeng Adara Relief International, sebuah lembaga kemanusiaan yang selama ini konsisten mengawal isu-isu kemanusiaan, khususnya terkait Palestina. Kolaborasi ini melahirkan pementasan yang tidak hanya kuat secara estetika, tetapi juga berpijak pada realitas pahit yang dialami masyarakat Gaza tentang kehilangan, ketakutan, keteguhan, dan harapan yang tak pernah sepenuhnya padam.
Deretan aktor dan aktris ternama tampil dengan performa yang memikat sekaligus menghantam emosi penonton. Bella Fawzi, David Chalik, Robert Chaniago, dan Cholidi tampil dengan penjiwaan karakter yang intens, diperkuat oleh penampilan para pemain lain seperti Wini, Keke, Dzaki, dan Nadya.
Keseluruhan permainan aktor berpadu solid, membentuk narasi yang hidup dan terasa dekat dengan realitas.
Aspek artistik pementasan turut diperkuat oleh sentuhan Firly RJ sebagai asisten sutradara, yang memastikan alur dramatik, ritme adegan, serta transisi emosi berjalan presisi.
Tata cahaya yang gelap dan kontras, musik yang lirih namun menusuk, serta koreografi simbolik menjadikan panggung TIM berubah menjadi ruang refleksi kolektif tempat penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi turut merasakan luka dan doa yang disuarakan.
Monolog-monolog yang dilantunkan para aktor menjadi salah satu kekuatan utama pertunjukan ini. Kalimat-kalimat pendek namun tajam terasa seperti serpihan doa dan jeritan yang melayang di udara. Panggung seolah menjadi cermin, memantulkan kembali pertanyaan mendasar tentang empati, keadilan, dan tanggung jawab kemanusiaan.
“Ini bukan sekadar pertunjukan teater,” ujar Adipatilawe seusai pementasan, dengan suara bergetar.
“Ini adalah doa, jeritan nurani, dan ajakan agar kita tidak mati rasa terhadap penderitaan sesama manusia.”
Gaung kemanusiaan yang disuarakan “Di Balik Langit Gaza” sejalan dengan pandangan sejumlah tokoh nasional. KH. Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU periode sebelumnya, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa Palestina merupakan panggilan moral bagi bangsa Indonesia.
“Palestina bukan sekadar isu politik, tetapi isu kemanusiaan. Selama masih ada ketidakadilan, selama itu pula nurani kita diuji,” ujarnya.
Sementara itu, Goenawan Mohamad, budayawan dan sastrawan terkemuka, pernah menempatkan seni sebagai benteng terakhir empati manusia.
“Seni mungkin tidak mampu menghentikan perang, tetapi seni mencegah manusia kehilangan empatinya. Selama seni ada, kemanusiaan tetap hidup,” katanya.
Respons luar biasa dari publik menunjukkan bahwa teater masih memiliki tempat penting dalam ruang kesadaran masyarakat. Banyak penonton menyampaikan kesan bahwa pertunjukan ini bukan hanya menggugah emosi, tetapi juga membangkitkan kesadaran untuk lebih peduli terhadap penderitaan yang sering terasa jauh secara geografis, namun dekat secara nurani.
Pihak penyelenggara berharap “Di Balik Langit Gaza” dapat kembali dipentaskan di berbagai kota di Indonesia, agar pesan kemanusiaan yang dibawanya menjangkau lebih banyak ruang dan lapisan masyarakat. Lebih dari sebuah karya seni, pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa suara kemanusiaan tidak boleh padam, dan empati harus terus dirawat.
“Selama nurani masih punya panggung, harapan akan selalu menemukan tempatnya,” tutup perwakilan penyelenggara.
Red-Ervinna

