Lembata, NTT, detiksatu.com- Dominiko Ariyanto Djaga, atau yang akrab disapa Rintho, mengungkapkan terdapat tiga titik panas bumi (geothermal) di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Titik-titik tersebut berada di Mingar, Atakore, dan Kedang.
Pernyataan itu disampaikan Domi Djaga dalam Epilog Parade Monolog yang digelar Komunitas Ukut Tawa, berkolaborasi dengan Forum Pinggir Jalan dan Front Masyarakat Lembata untuk Keadilan (Frontal), di Aula Perpustakaan Daerah Gorys Keraf, Lewoleba, Sabtu, 10 Januari 2026.
“Jika kita tahu titik geothermal yang ada di Lembata ada satu, sebenarnya tiga. Di Lembata, ada tiga titik geothermal, yaitu di Mingar, di Atakore, dan di Kedang,” ujar Djaga.
Lebih luas, sepanjang Pulau Flores terdapat lebih dari 18 titik geothermal. Titik-titik itu tersebar dari Kabupaten Manggarai Barat (Wae Sano) hingga Oyang Barang, Adonara, Kabupaten Flores Timur, termasuk tiga titik di Lembata.
Djaga menceritakan, jauh sebelum Flores ditetapkan sebagai Pulau Geothermal pada 2017, pengeboran (eksplorasi) telah dilakukan di dua tempat, yaitu Atakore dan Mataloko. Pengeboran di Atakore gagal, sementara di Mataloko menyisakan masalah yang belum terselesaikan.
“Di Mataloko, sejak tahun 2008, pengeboran geothermal menyebabkan munculnya gas dan bocornya api dari dalam tanah. Sejak saat itu, bukan hanya lahan, tetapi rumah-rumah warga menjadi korban. Beberapa warga mengalami luka-luka dan penyakit kulit akibat gas sulfida berlebihan. Dan ini, bukan hanya saya yang omong, tetapi laporan resmi dari PLN sendiri,” ungkap Djaga, alumni Seminari San Dominggo Hokeng.
Djaga juga menyoroti perjuangan seorang warga Mataloko bernama Domi. Meski lahannya berbatasan langsung dengan titik pengeboran dan pembangkit turbin, dan telah berkali-kali ditawar PLN, Domi tetap menolak melepas tanahnya hingga saat ini.
“Bapa Domi juga selalu menjadi incaran kepolisian, sehingga ia selalu berpindah-pindah tempat atau bersembunyi di kampung tersebut,” tutur Djaga, jurnalis peduli lingkungan itu.
Penolakan juga mengemuka dari Poco Leok, Manggarai. Djaga bertemu dengan Mama Merry, seorang perempuan di Poco Leok yang aktif berdemonstrasi. “Jika mereka mau mengebor tanah kami, maka yang dibor terlebih dahulu adalah perut kami, karena kami juga ibu,” kutip Djaga menirukan orasi Mama Merry.
Menurut Djaga, jauh sebelum akademisi atau cendekiawan menolak geothermal dengan alasan ekologis, masyarakat Flores telah lebih dahulu mengedepankan relasi dengan alam. Di Atakore, misalnya, warga khawatir proyek geothermal mengganggu keselarasan mereka dengan “Ina Kar”, sebuah perwujudan mistis dalam mitologi masyarakat Atakore, Kampung Watuwawer.
Djaga menegaskan, semua aksi penolakan yang dilakukan masyarakat adalah sikap yang rasional untuk menjaga masa depan, rumah, tanah, dan identitas mereka.
“Ini melelahkan, dan ini merupakan jalan panjang. Tetapi, pilihan untuk menyerah atau takut untuk mati, itu aib sebenarnya,” pungkas Djaga menutup Epilognya.
Dalam kesempatan itu, salah satu monolog yang dibawakan adalah “Perempuan dan Air” oleh Biwa Bidomaking dari Forum Pinggir Jalan. Dalam monolognya, Biwa menyatukan dirinya dengan air, menyuarakan kekhawatiran akan dampak proyek geothermal terhadap sumber kehidupan.
“Proyek geothermal membutuhkan air dalam jumlah besar, menguras sumber air tanah yang vital bagi pertanian dan kehidupan sehari-hari. Air adalah nyawa kami, tapi proyek ini merampasnya tanpa suara kami,” seru Biwa.
Ia menegaskan bahwa penolakan ini juga merupakan perjuangan menjaga budaya dan hak perempuan sebagai penjaga kehidupan. “Kami butuh energi yang tidak merusak, yang menghormati hak perempuan dan alam,” imbuhnya.
Monolog lainnya, “Bumi Menyimpan Luka”, dibawakan oleh Ika Making dari Komunitas Ukut Tawa. Ika mengungkapkan penderitaan bumi dan masyarakat di berbagai daerah yang terdampak proyek sejenis, seperti di Cipanas, Poco Leok, Matoloto, Sokoria, dan Wogo.
“Bumi ingin menjadi sumber kehidupan, bukan sumber konflik dan penderitaan. Dengarkan suara rakyat yang selama ini terabaikan,” pesan Ika.
Ia menggambarkan berbagai dampak yang telah terjadi di lokasi lain, seperti pencemaran air, penurunan hasil pertanian, penyakit kulit, gempa mikro, dan ketakutan warga. “Inikah yang katanya energi terbarukan, atau justru luka baru?” tanyanya retoris.
Penulis: Emanuel Boli

