Jakarta, detiksatu.com || Peringatan Hari Kanker Anak Internasional (HKAI) 2026 dimaknai secara istimewa oleh Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) melalui penyelenggaraan kegiatan tahunan #BeraniGundul2026 di Gedung Serbaguna Senayan, Jakarta Selatan. Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari ini menjadi bagian dari kampanye global yang diinisiasi Childhood Cancer International (CCI) bertema “Demonstrating Impact: From Challenge to Change.”
Momentum ini tidak sekadar seremoni, melainkan wujud nyata kepedulian terhadap anak-anak penderita kanker di Indonesia, khususnya dari keluarga prasejahtera yang menghadapi tantangan besar selama proses pengobatan.
Tri Adiyaksa, relawan YKAKI yang berprofesi sebagai advokat, menjelaskan bahwa tantangan terbesar pasien bukan hanya biaya medis, karena pengobatan umumnya telah ditanggung BPJS, melainkan kebutuhan tempat tinggal selama menjalani terapi jangka panjang di rumah sakit rujukan seperti RSCM dan sejumlah rumah sakit pusat lainnya.
“Banyak pasien datang dari luar daerah dan harus menjalani kemoterapi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tanpa rumah singgah, dulu ada yang terpaksa tinggal di selasar rumah sakit. Itu kondisi yang tidak layak,” ujarnya kepada awak media.
Menjawab kebutuhan tersebut, YKAKI menghadirkan fasilitas rumah singgah “RUMAH KITA” yang kini tersedia di tujuh kota, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Pekanbaru, dan Makassar. Rumah singgah ini dapat dihuni tanpa batas waktu selama masa pengobatan, dengan kapasitas lebih dari 40 tempat tidur di Jakarta saja.
Tidak hanya menyediakan tempat tinggal, YKAKI juga memastikan anak-anak tetap memperoleh hak pendidikan melalui program gratis “SEKOLAH-KU”. Program ini bekerja sama dengan sekolah asal pasien agar proses belajar tetap berjalan dan anak dapat menyelesaikan pendidikan sesuai jenjangnya, meski masa pengobatan bisa mencapai empat hingga tujuh tahun.
Selain itu, YKAKI membantu transportasi pasien menuju rumah sakit rujukan serta memberikan bantuan obat dan tindakan medis non-JKN/BPJS. Hingga Desember 2025, sebanyak 3.967 anak telah mendapatkan pendampingan melalui rumah singgah, dengan total bantuan dana mencapai Rp2,3 miliar.
Kegiatan #BeraniGundul sendiri menjadi simbol empati. Aksi potong rambut massal baik sebagian maupun digundul dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap anak-anak yang mengalami kerontokan rambut akibat kemoterapi.
“Ini bentuk pesan moral bahwa mereka tidak sendirian. Kami berdiri di samping mereka,” tegas Tri.
Selain potong rambut, acara juga diisi dengan donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, screening tumbuh kembang anak, lomba kreatif, hiburan artis dan komunitas, serta partisipasi para survivor kanker anak.
Kegiatan serupa juga dilaksanakan di sejumlah kota cabang YKAKI dengan jadwal menyesuaikan kondisi daerah. Melalui peringatan HKAI 2026 ini, YKAKI berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat terhadap pentingnya deteksi dini kanker anak, dukungan psikososial, serta peran bersama dalam mewujudkan akses pengobatan yang setara di Indonesia.
YKAKI juga mengimbau masyarakat yang mengetahui pasien kanker anak dari keluarga kurang mampu dan dirujuk ke kota besar agar menghubungi yayasan untuk mendapatkan informasi mengenai fasilitas rumah singgah.
Dengan semangat perubahan dari tantangan menjadi aksi nyata, YKAKI menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi anak-anak Indonesia dalam perjuangan melawan kanker tidak hanya untuk sembuh, tetapi juga untuk tetap belajar, tersenyum, dan memiliki harapan masa depan.
Red-Ervinna

