Launching NTT Mart di Lembata, Gubernur NTT Ajak Hadirin Doakan YBR, Siswa SD di Ngada yang Meninggal Dunia

Redaksi
Februari 05, 2026 | Februari 05, 2026 WIB Last Updated 2026-02-05T06:10:52Z
Keterangan Foto: Gubenur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena saat mengajak hadirin Launching NTT Mart di Lewoleba, Kamis (5/2/2026) untuk mendoakan YBR, siswa SD di Ngada yang meninggal dunia (Dok. EB)

Lembata, NTT, detiksatu.com II Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, mengajak seluruh hadirin untuk menundukkan kepala sejenak dan mendoakan almarhum YBR (10), seorang siswa sekolah dasar (SD) yang ditemukan meninggal dunia di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebu'u, Kabupaten Ngada.

Ajakan doa tersebut disampaikan Gubernur Melki Laka Lena dalam kegiatan Launching NTT Mart by Dekranasda Lembata, yang turut dihadiri Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dan tamu undangan lainnya, di Lewoleba, Kamis (5/2/2026).

Diketahui, YBR (10) merupakan siswa kelas IV SDN Rutowaja yang ditemukan meninggal dunia dengan cara tidak wajar pada Kamis (29/1/2026) siang. Peristiwa tersebut mengguncang nurani publik dan mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi NTT.

Gubernur Melki Laka Lena menyebut, kematian YBR merupakan kejadian yang sungguh-sungguh mengetuk sisi kemanusiaan semua pihak, khususnya di Nusa Tenggara Timur, karena seorang anak meninggal dunia akibat kegagalan berbagai pranata.

“Kejadian ini sungguh-sungguh mengetuk kemanusiaan kita sebagai manusia. Apalagi orangnya ada di Nusa Tenggara Timur, di Kabupaten Ngada, yang meninggal karena seluruh pranata yang kita miliki; pranata pemerintah, adat, agama, hingga pendidikan tidak mampu menjangkau dan menyelamatkan seorang anak,” ujar Gubernur Melki.

“Yang meninggal karena kita semua sebagai pemerintah, tokoh adat, tokoh masyarakat yang ada di NTT, khususnya di Ngada. Kami sudah ambil alih untuk menjadi tanggung jawab provinsi,” tegasnya.

Gubernur Melki juga menyampaikan keprihatinannya bahwa seorang anak harus kehilangan nyawa hanya karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, yakni bolpoin dan buku.
“Kita gagal untuk memastikan anak-anak manusia di NTT ini tidak boleh meninggal hanya karena urusan tidak bisa membeli bolpoin dan buku,” katanya.

Menurut Gubernur NTT Melki Laka Lena, buku dan bolpoin merupakan dua alat penting dalam proses pendidikan dan pembentukan manusia.
“Kita-kita menjadi manusia seperti ini karena buku dan karena pena. Karena dua alasan itu, satu anak di NTT harus meninggal hanya karena tidak bisa mendapatkannya dari orang tuanya. Ini bukan soal kemiskinan saja, ini soal kepedulian kita sebagai manusia, sebagai tugas sebagai gubernur, dan sebagai bapak ibu dalam tugas dan jabatan masing-masing,” ungkapnya.

 “Hal ini terjadi yang melukai seluruh republik,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Melki berharap agar kejadian serupa tidak terjadi di Kabupaten Lembata maupun wilayah lain di NTT.

“Saya berharap di Lembata itu tidak terjadi, Pak Bupati, Forkopimda, kita jaga betul. Tidak boleh ada anak manusia yang lagi sekolah, atas alasan kemiskinan atau alasan apa saja, meninggal hanya karena ketidakpedulian kita sebagai manusia satu sama lain,” harapnya.

Ia mengajak seluruh pihak untuk mendoakan almarhum YBR dan keluarganya agar diberikan kekuatan.

 “Untuk ini semua, kita doakan agar YBR dan keluarga diberikan kekuatan, YBR diberikan jalan ke surga, dan kita semua diberi kekuatan untuk mencegah ini terjadi di tempat khusus kita, khususnya di Lembata,” katanya.

Gubernur NTT juga meminta rohaniwan Katolik, Pater Raymond, untuk memimpin doa secara Katolik bagi YBR dan seluruh pihak agar diberi kekuatan dalam menjalankan tugas masing-masing, sehingga kejadian serupa tidak terulang di Bumi Lembata.

"Saya meminta agar saling memperhatikan kiri kanan, keluarga, tetangga, kerabat, teman. Kalau dia meninggal karena alasan lain, kita mungkin tidak perlu merasa seperti ini, tetapi ini meninggal karena tidak bisa membeli buku dan pena,” tuturnya.

Gubernur Melki juga menyoroti persoalan administratif kependudukan yang membuat berbagai program bantuan tidak mampu menjangkau keluarga korban.

“Semua program yang begitu banyak itu tidak bisa menjangkau karena soal-soal administratif kependudukan. Ini memukul kita untuk memperbaiki diri secara pemerintah,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah akan segera menggelar rapat bersama Forkopimda provinsi dan kabupaten/kota untuk membahas persoalan tersebut.

“Ini menjadi pembelajaran berharga. Kita mesti mengubah secara total urus orang miskin di NTT. Besok kita akan bahas setelah salat Jumat secara virtual untuk mencari langkah yang tepat agar tidak terjadi lagi di Bumi NTT,” pungkasnya.

Reporter: Emanuel Boli
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Launching NTT Mart di Lembata, Gubernur NTT Ajak Hadirin Doakan YBR, Siswa SD di Ngada yang Meninggal Dunia

Trending Now