Jakarta, detiksatu.com || Peluang Presiden Prabowo Subianto untuk kembali berpasangan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 dinilai masih terbuka lebar, namun juga tidak sepenuhnya aman.
Sejumlah pengamat politik menilai kans duet tersebut masih berada di angka “fifty-fifty”, bergantung pada dinamika hubungan politik, performa pemerintahan, hingga konstelasi partai menjelang kontestasi mendatang.
Hal itu mencuat setelah Presiden Prabowo menyampaikan Taklimat Awal Tahun kepada seluruh jajaran Kabinet Merah Putih di kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, pada Selasa (6/2/2026).
Dalam taklimat tersebut, Prabowo menekankan pentingnya soliditas pemerintahan dan kesinambungan program strategis nasional. Namun di tengah suasana konsolidasi tersebut, isu politik 2029 mulai mengemuka.
Pengamat politik Yusak Farchan menyebut bahwa posisi Gibran sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2029 belum sepenuhnya terkunci.
Menurutnya, sejumlah faktor akan sangat menentukan arah keputusan politik Prabowo.
“Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bisa ditinggalkan di pemilihan presiden 2029, tergantung dari hubungan harmonisasi antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo,” kata Yusak (17/2/2026).
Faktor Penentu: Relasi Politik dan Kinerja
Yusak menjelaskan, ada beberapa variabel penting yang akan memengaruhi keputusan Prabowo. Pertama adalah dinamika relasi politik antara Prabowo dan Jokowi. Seperti diketahui, Gibran merupakan putra sulung Jokowi, sehingga hubungan personal dan politik keduanya memiliki implikasi langsung terhadap posisi Gibran.
“Kedua, faktor kasus ijazah Jokowi-Gibran yang sempat menjadi polemik politik. Meski secara hukum sudah ada klarifikasi, isu tersebut tetap bisa dimanfaatkan sebagai komoditas politik menjelang 2029,” ujarnya.
Selain itu, kinerja Gibran sebagai wakil presiden dalam membantu Presiden menjalankan agenda pemerintahan juga akan menjadi tolok ukur utama. Publik dan partai politik, menurut Yusak, akan menilai apakah duet tersebut efektif dan layak dilanjutkan.
“Gibran harus siap-siap. Bisa saja ditinggalkan, bisa juga tidak. Semua tergantung pada banyak faktor seperti relasi politik Prabowo-Jokowi, sikap politik PDIP, serta kinerja Gibran itu sendiri,” tegasnya.
PDIP dan Peta Koalisi
Sikap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga dinilai akan berpengaruh besar terhadap konfigurasi Pilpres 2029. Meski pada Pilpres 2024 peta koalisi mengalami perubahan signifikan, dinamika politik nasional menunjukkan bahwa PDIP tetap menjadi kekuatan elektoral yang tidak bisa diabaikan.
Jika hubungan Prabowo dan PDIP membaik atau bahkan terjalin kerja sama politik strategis, maka bukan tidak mungkin opsi cawapres alternatif akan muncul dari internal partai tersebut atau dari figur lain yang dianggap lebih menguntungkan secara elektoral.
“Sejauh ini, kelompok yang menginginkan Prabowo meninggalkan Gibran memang menguat, tetapi belum satu suara soal siapa figur penggantinya. Ada yang mendorong tokoh dari kalangan profesional, ada juga dari partai politik besar,” kata Yusak.
Munculnya Kelompok Alternatif
Dilapangan, sejumlah kelompok relawan dan simpul politik mulai bermunculan dengan narasi “evaluasi duet 2024”. Mereka mendorong agar Prabowo mempertimbangkan figur pendamping baru yang dinilai lebih matang secara pengalaman politik maupun kapasitas pemerintahan.
Namun demikian, terdapat pula kelompok yang tetap menginginkan keberlanjutan pasangan Prabowo-Gibran dengan alasan stabilitas dan kesinambungan program.
Mereka menilai, perubahan pasangan berisiko memunculkan fragmentasi dukungan dan mengganggu konsolidasi koalisi.
Pengamat menilai, dinamika ini masih sangat cair. Tahun 2026 baru menjadi fase awal konsolidasi internal pemerintahan. Keputusan strategis terkait Pilpres 2029 kemungkinan baru akan terlihat mendekati tahun politik.
Hambalang dan Sinyal Konsolidasi
Dalam Taklimat Awal Tahun di Hambalang, Prabowo lebih menekankan agenda pemerintahan ketimbang politik elektoral.
Ia meminta para menteri bekerja cepat, efektif, dan menjaga kepercayaan publik.
Meski tidak menyinggung secara langsung soal Pilpres 2029, sejumlah analis membaca konsolidasi di Hambalang sebagai langkah awal memperkuat fondasi politik jangka panjang. Hambalang sendiri kerap menjadi lokasi pertemuan strategis dan simbol konsolidasi internal kubu Prabowo.
Sejumlah sumber di lingkaran pemerintahan menyebut bahwa Prabowo saat ini lebih fokus pada agenda ekonomi, ketahanan pangan, pertahanan nasional, dan reformasi birokrasi. Namun tak dapat dipungkiri, pembahasan mengenai peta politik 2029 sudah mulai menjadi perbincangan di berbagai forum informal.
Dengan berbagai dinamika yang ada, peluang Prabowo untuk kembali menggandeng Gibran pada Pilpres 2029 dinilai masih fifty-fifty. Tidak ada kepastian mutlak, dan keputusan akhir akan sangat bergantung pada stabilitas hubungan politik, performa pemerintahan, serta kalkulasi elektoral menjelang masa pendaftaran calon.
“Politik itu sangat dinamis. Hari ini bisa terlihat solid, besok bisa berubah. Jadi semua kemungkinan masih terbuka,” pungkas Yusak.
Hingga saat ini, baik Prabowo maupun Gibran belum memberikan pernyataan resmi terkait kemungkinan duet mereka pada Pilpres 2029. Publik pun menanti bagaimana arah hubungan politik nasional akan berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Red-Ervinna